Now reading
Tur Turnover Yogya: Beeswax Disambut Meriah

Tur Turnover Yogya: Beeswax Disambut Meriah

3 Band Malang tampil sebagai pembuka tur band Amerika Serikat Turnover menjadi sebuah pencapaian signifikan bagi kancah musik independen Malang, bukti bahwa band – band dari Malang semakin diakui di kancah musik nasional. Setelah Write The Future di Surabaya, Whitenoir di Bali, giliran terakhir jatuh pada Beeswax untuk ikut meramaikan Turnover tour bersama 2 band Yogyakarta yaitu Skandal dan LKTDOV. Acara ini diselenggarakan oleh kolektif Terror Weekend, dan baru pertama kali ini mengadakan acara dengan lineup luar negeri seperti Turnover. Venue acara ini bertempat di IFI/LIP Lembaga Indonesia Perancis, Jl. Sagan, Terban, Gondokusuman, Yogyakarta.
Acara bertempat di Auditorium yang merupakan fasilitas untuk mengadakan acara bertema seni dan budaya. Auditorium IFI ini sering dipakai untuk tampilnya artis yang didatangkan langsung dari Perancis maupun negara – negara yang berbahasa Perancis. Namun ternyata auditorium ini juga sering dipakai untuk venue musik – musik underground Yogyakarta. Barisan panjang penukar tiket pun sudah memenuhi acara sejak sore hari. Bahkan tiket on the spot pun sudah habis sejak jam 18.00.

Beeswax for Turnover YK

Jam 18.30 acara dimulai dengan Skandal sebagai penampil pertama. Band yang beranggotakan Yogha Prasiddhamukti (vokal, tamborin), Rheza Ibrahim (gitar), Robertus Febrian Valentino (gitar/vokal), dan Argha Mahendra (drum) ini membawakan lagu – lagu seperti Superfine dan lagu – lagu dari EP mereka. Mereka juga menyertakan cover version lagu The Cure yaitu Inbetween Days dengan gaya alternatif rock 90an, berhasil membawa penonton singalong. Selanjutnya adalah LKTDOV, digawangi oleh Ariyo Pancala (gitar 1), Justiawan Yudha/Bogex (gitar 2) dan Martinus Indra Hermawan/Menus (vokal), Adiwisanghagni Diponegoro (gitar 3), Ahmad Okta Perdana (bas), dan terakhir Rahmat Gunawan (drum) mereka membawakan musik fusi dari post-rock dengan hardcore punk yang cinematic. Kombinasi chaos dan beauty yang sepadan sehingga mampu membawa penonton larut dalam anguish. Lagu – lagu dari album mereka All We Have Left Is A Memory of Yesterday seperti Sweet Is The Night-Air!, These Lustreless Eyes, The Smile That Came Later Was To Disguise Our Pain, Is It A Dream Within A Dream dan Parting Away From You disambung dengan lagu – lagu baru. Di sela – sela penampilan mereka, LKTDOV juga mengumumkan rencana perilisan 7 Inch vinyl tahun 2017 ini.
Setelah LKTDOV, Beeswax yang jauh – jauh dari Malang akhirnya naik panggung juga. Kabar punya kabar sebelum mereka naik panggung pun, sampler cd yang mereka bawa sebagai preview album mendatang pun sudah ludes diserbu penggemar mereka yang bahkan memborong 2 sampai 4 cd. Seperti, biasa mereka memulai dengan intro yang diambil dari intro lagu Loaded Ashtray, kemudian dilanjutkan dengan Stuck, kemudian Graduation lalu Maybe We’re Not In The Parallel World Anymore yang dilanjut tembang tajam menyayat yaitu Bleed. Beeswax bermain atraktif dengan vokal yang bersahut – sahutan bahkan antara lini depan dan drum pun saling mengisi vokal. Setlist ini juga diwarnai preview lagu – lagu baru seperti Autumn, Wellspring dan Woodenbench. Kawan – kawan lama yang pernah menyambangi Malang bersahut – sahutan menyapa para personil termasuk Bagas Yudhiswa. Kemudian memasuki sesi akhir, Starting The Line, Break it All mengajak para penonton singalong, dan beranjak suasana makin panas ketika Outro dan Fix dibawakan, tubuh – tubuh mulai beterbangan, crowd surfing dan moshing mulai ditemui di antara penonton. Beeswax saat mengakhiri setnya pun akhirnya diminta encore dan mereka pun membawakan lagu dari Basement berjudul Pine yang disambut koor meriah dan crowdsurfing. Bahkan Austin dari Turnover pun appreciate dengan humming lagu tersebut ketika para personil memasuki backstage.
Terakhir adalah giliran Turnover memasuki gelanggang. Austin memberikan sambutan dan menyatakan bahwa Yogyakarta merupakan episode tur yang keren diluar bayangan mereka sekalipun. Dengan kalem Austin menyatakan terima kasih dan penghargaannya kepada Terror Weekend dan para band pendamping. Lagu – lagu seperti Diazepam, I Would Hate You If I Could, Cutting My Fingers Off dan Humming yang sendu dan dreamy tidak menutup kesempatan bagi para penonton untuk melakukan gelombang demi gelombang crowdsurfing. Beberapa penonton lainnya duduk tenang di belakang menikmati dengan khidmat dari perspektif yang galau atau bahkan romantik berdua – duaan dengan pacar masing – masing. Venue auditorium IFI memberikan atmosfir gig yang intim dan nyaman, layaknya Live House – Live House di Jepang sana. Semoga Terror Weekend dan BNA Youth Booking bisa menghadirkan konser yang senyaman ini lagi ke depannya.

Alfan Papa onta

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>