WS Rendra dan Kantata Takwa, Jawaban atas “Seni adalah Rumah Bersama”

Oleh W Sanavero

Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi ucapan Selamat Ulang Tahun kepada Willibrodus Surendra Broto Rendra atau akrab dengan W.S. Rendra, sebagai bentuk salam saya atas karya-karyanya yang sedikit-banyak menjadi nasihat dan ayat-ayat bagi perjalanan saya atau siapapun, yang merasakan hal serupa di dunia sastra dan mengeja kehidupan dengan dialektik.

Sehingga bagi saya, pada 23 Juni  tahun 1990  barangkali adalah sebuah moment sejarah yang dihadiahkan W.S. Rendra kepada anak-cucu penyair dan musisi Indonesia hari ini. Yaitu berupa konser legendaris ‘Kantata Takwa’ di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang haru-birunya dirasakan sepanjang ingatan orang. Mengingat sejarah dunia musik, ‘Kantata Takwa’ merupakan sebuah grup musik yang dirilis pada tahun 1990, banyak seniman dan musisi terlibat dalam kolaborasi album tersebut; Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo dan investor yang dibicarakan sebagai seseorang beradab mulia Setawan Djody. Serta ‘Kantata Takwa’ yang tidak akan pernah lepas dari keterlibatan penyair sepanjang masa W.S. Rendra. Mengingat background para personil dan beberapa orang yang terlibat di dalamnya, benar jika dikataan Kantata lebih tepat disebut sebagai sebuah forum komunikasi, diskusi, dan pengejawantahan kreativitas dari sensitivitas sosio-estetik para personilnya. Beberpa artikel yang keluar pada waktu itu banyak yang menyebutkan juga, bahwa bagi Kantata, musik adalah sarana untuk mengkomunikasikan lirik wujud representasi baru atas perjalanan panjang serta dinamika kehidupan, termasuk kondisi sosial budaya, kita pada waktu itu. Barangkali sebab itulah, Kantata tidak mengikrarkan diri sebagai wakil dari jenis musik tertentu, hal yang terpenting adalah meramu musik mana yang paling pas untuk mengiringi lirik masing-masing lagu mereka.

W.S. Rendra dan Kantata Takwa

Mengapa proyek musik melibatkan W.S. Rendra? Atau sebaliknya, mengapa W.S. Rendra bergabung dalam dunia musik? Hal ini menjadi pertanyaan pertama bagi saya setelah mempelajari bagaimana perjalanan W.S. Rendra sebagai pelaku sejarah kesusastraan Indonesia. Pada tahun-tahun itu, sekitar 1967 penyair yang dijuluki ‘Burung Merak’ ini mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta yang menurut beberapa catatan, teater tersebut melahirkan berbagai seniman seperti Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Emha Ainun Nadjib, dan yang lainya. Hingga pada tahun 1985 pada bulan Oktober teater tersebut dipindahkan ke Depok karena beberapa tekanan politik. Beberapa karya W.S. Rendra sebelum hari dimana Konser Kantata Takwa digelar, karya-karyanya sudah menjadi kekuatan Indonesia sebagai bentuk suara keadilan rakyat-rakyat miskin pada waktu itu. Sehingga mungkin tahun-tahun tersebut, W.S. Rendra menjadi orang yang berbahaya bagi para pejabat negara yang menjalankan drama politik yang lagi-lagi men-sah-kan tindak kekerasan dan hal-hal yang tidak manusiawi. Seperti puisi W.S. Rendra ‘Sajak Tahun Baru’ 1990 “Setelah hak asasi di Negara miskin ditekan demi kejayaan Negara maju, bagaimanakah wajah kemanusiaan?”.

Dari karakter inilah saya berusaha menjawab kedua pertanyaan saya sendiri diatas. Bahwa Kantata ini bukan sekedar ‘proyek’ terbentuknya sebuah band dan euphoria bermusik. Keterlibatan W.S. Rendra adalah sebuah bentuk ‘persatuan dimensi’ bukan ‘kesatuan dimensi’, antar seniman sastra dan musik untuk menciptakan sebuah backing rakyat Indonesia, berupa lirik-lirik yang W.S. Rendra tulis; Kesaksian, Paman Doblang, Balada Pengangguran, Nocturno, Gelisah, Rajawali, menjadi sebuah lagu balada di tangan para musisi yang terlibat dalam ‘Kantata Takwa’ tersebut. Hingga yang memberi kekuatan kondisi rakyat pada waktu itu yang terbukti dengan berkumpulnya ratusan ribu penikmat musik dalam konser  akbar Kantata dan penjualan album perdana Kantata yang mencapai ribuan keping.

Saya beranggapan betapa kesejahteraan rakyat Indonesia untuk ‘bertahan hidup’ bergantung pada kekuatan-kekuatan yang dijaga oleh para seniman, pada waktu itu.

Kesaksian

(Cipt: Iwan / Jockie / S Jabo, Lirik Lagu: WS Rendra, Vokal: Iwan Fals, Backing Vokal: Mbak Sunarti / Kelompok Bengkel Teater, Lead Guitar: S Djody, Bass: Jockie S, Drum: Budi Haryono, Flute: Embong Rahardjo, Accoustic Guitar: Raidy Noor)

Aku mendengar suara

Jerit makhluk terluka

Luka luka hidupnya

Luka

Orang memanah rembulan

Burung sirna sarangnya

Sirna sirna hidup redup

Alam semesta luka

Banyak orang hilang nafkahnya

Aku bernyanyi menjadi saksi

Banyak orang dirampas haknya

Aku bernyanyi menjadi saksi

Mereka dihinakan

Tanpa daya

Ya tanpa daya

Terbiasa hidup sangsi

Orang orang harus dibangunkan

Aku bernyanyi menjadi saksi

Kenyataan harus dikabarkan

Aku bernyanyi menjadi saksi

Lagu ini jeritan jiwa

Hidup bersama harus dijaga

Lagu ini harapan sukma

Hidup yang layak harus dibela

 

 

“Seni adalah Rumah Bersama”

Bagaimana sebuah ‘kompromi’(yang melahirkan Kantata) itu disepakati dengan bijak oleh para seniman dan musisi, sebagai sebuah gerakan bersama? Bagaimana hal itu bisa terwujudkan dengan penuh doa-doa? Hal ini tidak akan terjadi hanya dengan alasan ‘Karena mencari uang’ atau ‘Meningkatkan eksistensi seni dalam diri masing-masing’. Kantata berhasil menjadi sebuah ‘Rumah’, karena masing masing Tuannya memiliki kegelisahan yang sama, yaitu Indonesia. Baik W.S. Rendra berangkat dari seorang penyair dan menulis drama yang karyanya menjadi objek penelitian sastrawan Internasional, atau Iwan Fals berangkat dari seorang musisi balada yang paling digilai di Indonesia terlepas ertanyaan-pertanyaan mengenai sebuah iklan kopi nyatanya lagu-lagu Iwan Fals merangkum semua tangis deras rakyat tertindas, atau muisi dan komposer handal Jockie Suryoprayogo yang lekat dalam benak trio Erros-Chrisye-Jockie yang baru-baru ini nama tersebut memberikan sumbangsih terhadap musik rock ambisius ala 1990 an. Juga tidak terlepas dari seorang musisi yang disebut-sebut sebgai seniman gila  yaitu Sawung Jabo, salah satu figur dari 5 personil Kantata Takwa yang sering menimpali pendapat penonton kemudian membalasnya dengan celoteh seenak jidat, jidat yang di dalamnya penuh ide-ide liar dan membuat gila yang melahirkan Sirkus Barock, Geng Gong, Dalbo dan salah satu nyawa yang menjadi rahim lagu ‘Bento’ dan ‘Bongkar’.

W.S. Rendra dan Kantata Takwa merupakan jawaban bagi dilematis seniman-musisi yang hari ini sedang diadu-domba kepentingan dan ditungganggi berbagai misi politik atau pribadi.  Bahwa kita masih memiliki ‘Rumah Bersama’, bukan ‘Kantata Takwa’-nya tapi esensi yang terbentuk. Analogi sederhanya ‘kegelisahan yang sama adalah atap dan dinding untuk menciptakan sebuah rumah’, atau meminimalisir self-movement jika itu akan menimbulkan sikap dingin dalam sebuah karya seni, atau mejadikan antar seniman masuk kedalam sebuah kompetisi dan hal yang tidak masuk akal lainnya.

Moment Kantata Takwa bagi saya merupakan sebuah pesan W.S. Rendra kepada anak-cucu untuk menjadi seorang sastrawan yang cerdas! Jika pun tidak demikian, W.S. Rendra tetap memberi cerita-cerita berkesan yang dapat menjadi hikmah kesusastraan hari ini. Maka semoga dengan selamat ulang tahun ini, sebuah puisi hadiah yang bisa saya tulis demikian,

Dari W.S. Rendra

Willibrodus Surendra lahir

Willibrodus Surendra mati

Diantara lahir dan mati, dia berpesan: “Seni jangan marah, Jangan pecah-belah”

 

 

Malang, 7 November 2017

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close