WORKSHOP & DISKUSI MUSIK DI MALANG: SUDAH (MERASA) BUTUHKAH KITA?

 

“Menjamurnya workshop/diskusi musik di Malang sudah tentu melahirkan sebuah dilema tersendiri, apalagi jika ternyata respondennya sendiri banyak yang tidak siap dan buruknya, tidak mau tahu akan esensi hal ini. Cukup disayangkan, namun bisa dibilang ini adalah proses pendewasaan- atau setidaknya bagi yang ingin belajar.”

Menyenangkan sekali mengetahui hari-hari ini banyak acara bertemakan diskusi musik di Malang. Hal yang lebih membuat saya senang adalah diskusi-diskusi seperti itu sudah mulai meninggalkan hal-hal teknis macam skill gitar-bulilik-bulilik-kayak-Yngwie atau slap-bass-copycat Flea. Tidak. Sekarang-sekarang ini diskusi musik tidak melulu bicara masalah artistik pengkaryaan, namun lebih kepada hal-hal di luar itu: manajerial, industri dan tetek bengeknya.

Jika mau bukti ada Ngopi Lanang oleh Warung Srawung yang sudah berjalan kurang lebih 3 edisi, lalu workshop bersama Endah n’ Rhesa di Bukit Delight dalam rangka Passionville, lalu ada Art Fest, acara GoAheadpeople.id di MX dan tentu saja Wrockshop, program buatan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia di Batu beberapa waktu yang lalu. Lalu, ada Kelas Keliling yang diselenggarakan Peka_, sebuah unit zine kolektif UM dan Diskusi Musik milik Laisos UM yang menyasar di lingkup musik mahasiswa. Bahkan acara-acara yang biasanya berisi konser seperti Record Store Day-pun juga menyertakan sesi diskusi di dalamnya. Tentu tidak menghitung acara-acara lain yang belum saya sebutkan.

Seperti yang saya bilang di awal, saya pribadi sangat senang dengan workshop/diskusi musik seperti ini, di mana kesemuanya itu sudah menyasar kepada level di luar aspek pengkaryaan. Bagaimana branding, apa itu press release, manajemen, hingga marketing efektif bagi masing-masing band. Karena memang, sekarang sudah bukan zamannya mengejar skill dan alat saja, “Kita sudah khatam soal itu,” kalau kata Iksan Skuter.

Tetapi sebelum acara-acara sejenis bermunculan dengan berbagai varian rasa dan kepentingan format, ada sebuah pertanyaan besar di benak saya akhir-akhir ini, “Sudahkah para pelaku musik ini merasa membutuhkan acara ini?” Ini didasari dari pengalaman saya pribadi yang beberapa kali ikut workshop dan diskusi tersebut. Selain senang mendengarkan pematerinya, saya juga sebenarnya  senang mengamati perilaku para pesertanya. Ada yang mendengarkan, ada yang sibuk selfie, ada yang membuka forum dalam forum sendiri, hingga tidak mengindahkan pemateri.

Beberapa perilaku seperti di atas tentu cukup mengecewakan mengingat apa yang disampaikan narasumber sebenarnya adalah ilmu yang berfaedah dan asique bagi para pegiat musik sendiri. Ilmu-ilmu seperti relasi dengan media sampai aksi panggung sudah tentu akan menunjang karier band secara langsung ataupun tidak. Tetapi, dengan sikap-sikap seperti ini, sudah tentu akan berdampak pada ke-mubazhir’an eksistensi pemateri di sana. Apalagi, bila sampai mengganggu orang lain yang memang ada di situ dan benar-benar ingin mengikuti workshop secara khidmat dan memetik ilmunya.

Memandang para arek (yang katanya) indie berfoto ria dengan seorang vokalis band Rock kenamaan  persis DI DEPAN seorang pengamat musik berstatus narasumber yang sedang mencurahkan materi-materinya tentu merupakan sebuah pemandangan yang amat sangat (tolong underline, bold & italic ini) “mengganggu” bagi saya pribadi. Semenjengkelkan seorang teman bertanya, “memang siapa sih yang sedang bicara di depan itu?” Antara mereka tidak menganggap si pengamat atau memang sosok artist tersebut memang cukup menggoda untuk dijadikan ajang upload IG-biar-dicap-musisyen, sayapun juga tidak mau men-judge sembarangan. Yang pasti, saya merasa prihatin akan hal ini (mengutip kata-kata presiden keenam RI).

Bukan, ini bukan hanya soal siapa figur pengamat atau keterkenalan beliau sebagai seorang pegiat, tetapi lebih kepada hal yang mendasar: Menghargai seseorang berbicara. Saya tidak mau sok-sok’an membela pengamat tersebut, karena saya tahu mungkin beliau juga tidak akan mempersoalkan hal seperti ini, namun sebagai seorang manusia, mengapa sih sebagai manusia anak-anak band tersebut kok ya tidak bisa sedikit berpikir untuk, “Ah, nanti saja selfie-selfie sama foto-fotonya”, atau jika memang sudah kebelet banget ya cari spot lain pokok jangan sampai mengganggu orang berbicara seperti itu apalagi penonton lain yang datang ke situ dan benar-benar ingin mendapat ilmu. Ya, atau mungkin saya saja yang terlalu berekspektasi, mungkin.

Pada kesempatan lain, saya juga menemukan hal serupa atau bahkan lebih buruk. Orang yang datang ke workshop/diskusi tersebut tidak tahu apa yang sedang dibicarakan sang narasumber, beberapa dari mereka datang hanya untuk melihat performance narasumber atau, lagi-lagi, menambah koleksi foto dengan sang artist. Tidak salah juga sih, karena memang setiap orang punya motivasi dan tanggung jawab terhadapnya masing-masing. Hanya saja, sayang sekali.

Akhirnya pertanyaan itupun muncul, “Jangan-jangan, para pegiat ini memang belum merasa butuh materi-materi seperti ini?” atau lebih buruknya, “mereka tidak tahu jika mereka butuh?” Karena logikanya, jika mereka butuh, mereka pasti akan menyimak dengan seksama. Sesimpel itu. Ini yang saya soroti, jika memang mereka tidak tahu, alangkah sayangnya, karena materi-materi tersebut sekali lagi, merupakan sebuah ilmu yang bermanfaat bagi masing-masing. Tetapi tentu, saya tidak bisa menyalahkan orang yang tidak tahu, saya hanya bisa menyalahkan orang yang tidak mau tahu, hehehehe.

Tetapi jika yang terjadi adalah hal pertama, tentu sebuah tugas bagi kita semua untuk ‘menyadarkan” mereka. Maksudnya adalah, ya bagaimana orang-orang tersebut akhirnya bertanya-tanya, “Oh, kalau rilis album ternyata butuh press release ya”, atau “Oh, kalau terlalu sering manggung di sini nanti image band-ku gimana ya?” Intinya, MERASA BUTUH. Bagaimana cara membuatnya? Jawaban simpelnya tentu kembali kepada diri masing-masing. Namun, berekspektasi kepada manusia rasanya juga bukan hal yang tepat dalam kesempatan kali ini, hehehehe.

Lalu? Ya, saya sendiri juga sebenarnya tidak tahu bagaimana cara menumbuhkan perasaan tersebut. Toh, kita mungkin sudah merasa butuh jika memang persoalan tersebut ada sangkut pautnya dengan hidup kita secara langsung. Apakah kita, sebagai pegiat musik sudah menganggap musik ada sangkut pautnya di kehidupan kita? Ataukah band-band’an masih dipandang sebagai sebuah hobi yang dilakukan untuk mengisi waktu luang? Jawabannya ada di dalam diri masing-masing.

Tetapi, bila di antara kita memang belum menganggap musik dan karier band-band’an kita memerlukan tambahan ilmu, dan  jika memang ternyata  memang merasa belum membutuhkan materi-materi seperti ini, pesan saya adalah, “Tolong jangan mengganggu orang-orang yang memang memerlukannya”, “jangan mencaci teman-teman yang ingin ber-progres” dan tentu saja, “Jangan sambat kalau band anda gitu-gitu aja.”

Jangan menyalahkan ekosistem musik di kota sendiri bila anda sebagai salah satu stakeholder-nya tidak mau mencoba peduli dan mau tahu apa yang terjadi dan komponen apa saja yang ada di dalamnya. Jangan menyalahkan pihak korporat yang terus mengundang band anda dengan status di-sega-ni (di-sego’i) bila anda tidak mau tahu dan belajar tentang konsep industri, dan jangan menyalahkan band-band baru yang belum-belum sudah rilis album, tour ke mana-mana dan benar-benar ber-progres jika band anda yang mungkin notabene 10 tahun lebih tua masih gini-gini aja.

Karena seperti manusia, saya selalu percaya bahwa apa yang benar-benar berpengaruh terhadap karier sebuah band adalah niat, kerja keras dan semangat ingin belajar mereka, termasuk menyerap ilmu dari orang-orang di sekitar mereka, dan bukan sekedar bilangan usia. Usia menunjukkan konsistensi-pertumbuhan, namun untuk perkembangan? Agaknya hal-hal di atas adalah beberapa faktornya.

Oh ya, kembali lagi ke pertanyaan awal, “Sudah merasa butuhkah kita?” Silahkan dijawab sendiri-sendiri, karena sayapun sebenarnya juga masih mencari jawabannya.

-KMPL- (@randy_kempel)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close