URAKAN BERSAMA #2

College Rock Kampus UB yang kembali berbinar

Semenjak vakumnya pray for justice dari kolektif Militan Bawah tanah, ekosistem college rock di Universitas Brawijaya nampaknya mulai redup, ditelan dominasi “jazz kampus” dan top 40. Homeband UB maupun Homeband Fisip UB pun lebih sering membuat acara (idealis) di luar kampus daripada didalam kampus, kecuali Kharisma Jazz Festival. Sejatinya Kampus adalah tempat melting pot ide-ide idealis dan muda, dan musik adalah katalis paling handal untuk menyatukan ide – ide tersebut menjadi satu. Radio kampus dan musik independen (punk, indie rock, hardcore, post-hardcore, folk dan lain-lain) di amerika tidak bisa dipisahkan dan bahkan menjadi corong ide – ide mahasiswa sampai sekarang, bukan ajang unjuk skill dan kebolehan bermain instrumen musik. Arsip – arsip gig kampus pun masih tersimpan rapi di database seperti radio WMUC University Of Maryland dan banyak lagi.

Ternyata pendapat saya terbantahkan dengan aktifnya Homeband fisip UB dan kolektif URAKAN BERSAMA sebuah kolektif lintas fakultas UB yang mulai menggalakkan gig kolektif di dalam lingkungan kampus sejak tahun lalu. Dimulai dari Urakan Bersama #1 di parkiran Hutan Mipa di tahun 2017 hingga mencapai Urakan Bersama #2 di pelataran Fisip UB bekerja sama dengan Homeband Fisip UB tanggal 20 April lalu.  Urakan Bersama #2 tidak hanya menyajikan panggung musik namun juga lapak records dan merchandise, selayaknya acara musik independen yang lazim ditemui di kota Malang.

Urakan Bersama #2 dimeriahkan oleh Closure, Hello Wildface, Dirty Rotten Lollipop, Buzz, Wolfgang, dan Superfine Hum. Acara molor beberapa jam, mungkin hal perlu diperbaiki dari acara – acara kampus karena mengingat jam pemakaian area kampus terbatas sampai jam 11 malam. Dibuka dengan Hello Wildface, band ini memberikan semangat pop-punk sebagai appetizer acara ini. Dengan pattern drum yang old – school 90s, Hello Wildface yang sudah merilis satu EP ini potensial menjadi next big thing dari pop-punk Malang. Kemudian Superfine Hum masuk, band surf rock dari FIB UB ini memberikan penyegaran ala pantai seperti Black Lips dan Surfer Blood. Jarang band yang memainkan genre ini di Malang terkecuali Dizzyhead, namun sesenang – senangnya saya dengan penyegaran seperti ini, nampaknya Superfine Hum perlu memperbaiki departemen vokalnya lebih serius lagi. Setelah itu dilanjutkan oleh Dirty Rotten Lollipop yang memainkan musik metalcore cover dari BMTH, Thirteen dan YOWISBEN, mungkin akan lebih menarik jika mereka membawakan lagu ciptaan mereka sendiri.

URAKAN BERSAMA 2

Setelah Dirty Rotten Lollipop, tiba sesi berikutnya yang diisi oleh Wolfgang, sebuah duo terdiri dari Bass dan Drum, mengingatkan saya pada Royal Bloods dan The Experience Brothers. Wolfgang memberikan lagu – lagu original yang mantap dan bisa dibilang salah satu the next big thing dari Malang. Lick blues yang soulful dan vokal yang mantab memberikan Wolfgang daya gempur yang dashyat untuk menggoyang crowd. Selanjutnya adalah Closure, salah satu unit post-punk paling potensial di Malang dengan dua personil dari FISIP UB juga. Closure juga masuk 10 besar Siasat Partikelir sebuah program funding untuk memberangkatkan musisi dan seniman tur keliling kota – kota di Eropa. Closure hari itu membawakan lagu – lagu baru dari album yang akan datang seperti Travelling Man dan Paradigma. Rancaknya musik mereka pun tak lama membuat crowd teraduk – aduk lagi. Last but not least adalah Buzz, trio Seattle sound yang potensial, yang sayangnya harus berjuang dengan masalah sound. Namun di paruh kedua, mereka kemudian mampu memberikan sound paling penuh mereka.

Acara pun harus dimampatkan karena molornya “start” acara, hingga harus bernegosiasi dengan satpam yang mulai tidak sabar. All in all pengalaman gigs kolektif kampus yang jarang ditemui di UB  kini kembali bisa dinimati kembali, sinyal bahwa college rock di kampus ini masih menolak mati.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close