Tramatir: Pra Event TRA

Merespon Pangan

TRA! adalah program acara seni di Malang, Jawa Timur yang diselenggarakan generasi muda dan komunitas – komunitas di Malang yang bertujuan mengajak masyarakat Malang untuk lebih aware dan apresiatif tentang berkesenian. Dengan Prinsip; Mandiri, Self Aware untuk ekspresi jiwa berkontinuitas, Inklusif dan Passionate, TRA mempunyai misi untuk membawa gairah baru dalam ranah seni di Malang. Diharapkan ekosistem seni rupa di Malang akan berkelanjutan dan berkembang, untuk itu Relationship in Art atau hubungan seni diambil sebagai nama yang juga mengandung tujuan untuk menjadi jembatan untuk membuka akses di ranah seni rupa baik dalam hubungan pihak TRA dengan seniman professional, pekerja seni dan audience.Untuk lebih menarik minat warga dan seniman kota malang TRA akan di adakan dalam bentuk dua pra event, yaitu yang pertama di laksanakan selama tiga hari pada tanggal 1 – 3 Mei di DILO Telkom kayu tangan dan di Rumah Opa 13 – 15 Juli.

Pra Event Pertama TRA! Bertajuk ART EXHIBITION MERESPON PANGAN. Tema ini dipilih karena pangan ternyata tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia sejak dahulu kala termasuk dalam berkesenian. Dalam perhelatan seni Food and Civilization kita diajak memaknai kembali perjalanan cita rasa kita, merefleksi ulang apa-apa yang telah masuk ke dalam perut kita. Melalui seni visual kita akan mencoba untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam penikmatan sajian makanan, atau bahkan menemukan titik koordinat perjumpaan antara gastronomi dan seni visual. Setelah menyantap makanan menjadi kebutuhan mengaktualisasikan diri (Self-actualization Needs), kita dapat mencoba untuk kembali menemukan relasi-relasi baru antara manusia dan makanannya.

Ada 20 karya dari seniman Malang dan Luar Malang. Salah satunya karya milik Imanullah Nur Amalia yang mengetengahkan gambar potongan semangka didominasi warna merah. Imanullah seakan ingin menggambarkan tradisi ater – ater atau berbagi makanan dengan tetangga yang masih dipelihara sampai sekarang. Ada juga yang merespon kebijakan pemerintah RI untuk impor kedelai dari AS karya Yoyok Satrio Nugroho, dengan mengetengahkan kedelai dengan packaging layaknya sereal impor yang kita temui di supermarket dipajang layaknya event promo mereka lengkap dengan bendera Amerika Serikat, siluet Donald Trump dan packaging eksklusif. Sang seniman sendiri Yoyok menyatakan bahwa tempe yang merupakan konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia ternyata impor dari AS. Yoyok juga menyinggung sisi kapitalisme industri ekspor impor tempe dengan kemasan plastik yang sangat “menjual”.

Hari pertama diisi selebrasi pembukaan dengan performance Beeswax, Coldiac dan Ajer. Tiga band lokal yang bergenre surf pop, sophistipop dan indie folk ini membuka meriah dimana para tamu juga diberi welcome drink berupa minuman fermentasi organik. 

Tak hanya itu ada juga workshop – workshop di hari kedua dari tokoh seperti Bobby Nugroho, praktisi industri minuman fermentasi organik rumahan, dan Seto dari LSM Mantasa dan MILI home brew. Kemudian workshop makanan alternatif oleh Donny Hendrawan.

Hari ketiga diisi lagi dengan seremonial penutupan dengan performance musik oleh Dizzyhead, Sal Priadi dan Future Room.

Walaupun dalam keterbatasan tempat, dengan lighting terbatas, jarak antara karya yang kurang memadai dan luas tempat yang membuat penonton harus berdesakan, Acara ini bisa dibilang mendapatkan initial success untuk memancing awareness muda – mudi kota malang dengan seni rupa. Hal ini juga memunculkan sebuah wacana baru, apakah pemerintah sudah memfasilitasi artspace yang memadai di kota Malang?

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close