TRA X FANCY at Rumah Opa

A Mix Calibre kind of Exhibition

Hal ini terbukti dari kolaborasi perupa dan desainer fashion yang dipelopori oleh Salvador Dali seorang seniman beraliran surealis dan Elsa Schiaparelli seorang desainer Italia. Kerjasama tersebut menghasilkan salah satu produk garmen paling ikonis Elsa di dekade 1930an yaitu Gaun Organza yang berlukiskan Lobster (1937) dan Gaun Sobek/Tear Dress (1938) juga Sepatu Topi/ Shoe Hat dari koleksi musim dingin 1937 nya. Puncak nya yaitu di tahun 1960an dimana seniman Pop art kenamaan Andy Warhol yang berhasil mempopulerkan seni rupa berkolaborasi dengan Yves Saint Laurent. Dalam kolaborasi ini lukisan terkenal Warhol yaitu Campbell Soup diterjemahkan oleh Yves Saint Laurent dalam koleksi gaun kertas berjudul “The Souper Dress”, yang memang didesain untuk sekali pakai sebagai respon terhadap konsumerisme modern. Tak hanya sampai disitu Selain Andy Warhol, Yves Saint Laurent juga meluncurkan koleksi Mondrian, sebuah tribut untuk seniman Piet Mondrian saat ia memasuki era aliran kubisme saat ia di Paris 1919-1938 dan London dan New York 1938-1944. Kedua koleksi tersebut dikeluarkan pada musim 1966-1967. Kemudian tak hanya di berakhir di catwalk, Fashion pun memasuki museum seni di tahun 1982 saat editor Artforum, Ingrid Sischy meletakkan sebuah gambar seorang model memakai pakaian dari desainer Issey Miyake pada sampul majalah tersebut edisi Februari, mensolidkan status baru desain fashion dan persekutuan barunya dengan seni mutakhir. Momen ini kemudian mencetuskan tren peragaan busana yang digelar di musium ternama, sebagai pengakuan resmi bahwa fashion adalah bentuk ekspresi budaya yang layak. Gelaran peragaan retrospektif dari Yves Saint Laurent yang di kurasi oleh Diana Vreeland di Metropolitan Museum of Art, New York menjadi salah satu event ikonis dari tren tersebut, yang memamerkan fashion terkini daripada eksebisi pakaian – pakaian kuno bersejarah yang umum ditemui di museum. Selain itu di dekade 1980an para seniman seperti Sylvie Fleury, Cindy Sherman dan Vanessa Beecroft mulai memanfaatkan fashion marketing untuk inspirasi, seringkali memasukkan obyek fashion dalam karya seni mereka atau menggunakannya untuk menyampaikan pesan dibalik karya seni mereka.

Memasuki era millenium baru, abad 21, di tahun 2001 Marc Jacobs berkolaborasi dengan seniman Stephen Sprouse pada  sebuah koleksi tas tangan wanita yang dipadukan dengan coretan grafitti atau street art untuk rumah mode Louis Vuitton. Koleksi ini terbukti laku keras di seluruh dunia dan menaikkan permintaan untuk produk serupa, sehingga memunculkan trend kerjasama desainer fashion dengan seniman selama satu dekade. Hal ini bisa dilihat di industri sepatu sneaker yang sering melakukan kolaborasi dengan seniman graffiti seperti Futura, atau bahkan yang memang menyatakan dirinya sebagai sneaker artist sepert Jeff Staple dan Shoe Surgeon aka Dominic Chambrone. Nike Dunk Low Pigeon karya Staple yang hanya diproduksi 200 pasang pada tahun 2002 menjadi yang paling langka dan mahal dari sebuah kolaborasi ini.

Tra X Fancy 1

Untuk itu, maka The Relationship of Art Malang bekerja sama dengan event Fancy Cocktail mengadakan TRA x Fancy. Fancy Cocktail sendiri adalah Fancy cocktail biasanya bekerjasama dengan desainer lokal yang mempunyai Koleksi busana dengan rata-rata telah menguasai teori-teori yang mendukung pembuatan rancangan fashion seperti style, look maupun target market. Fancy cocktail bertujuan mengapresiasi desainer kota Malang agar lebih dikenal luas oleh masyarakat umum. Sebuah peragaan busana berkolaborasi dengan seniman – seniman berbakat dari Malang dan Indonesia. Ada empat seniman yang berkolaborasi yaitu Ican Harem yang terkenal dengan seni lukisnya di atas jaket jeans dan karyanya dengan Kamengski yang juga berkolaborasi dengan Maternal Disaster yang juga dirilis Maternal Disaster. Lalu Agnes Christina, seorang seniman teater dan juga perupa, dia juga orang dibalik clothing line Leafthief yang bertemakan dedaunan. Kemudian Agus Sunandar , pria dibalik suksesnya Malang Flower Carnival dan karya – karya adibusananya yang banyak melanglang buana sampai ke negara – negara seperti Jepang dengan Fashion Carnival Garuda Wisnu Kencananya dan peraih Best National Costume di Malaysia di Miss Tourism International 2015. Terakhir ada Ojite Budi Sutarno, Alumni Universitas Negeri Malang saat masih bernama IKIP Malang, yang karya instalasinya sering melanglangbuana di Jogja Bienalle dan Galeri Nasional. Ikut serta pula line fashion Malang asli yaitu Ardalano dan Realizm87. Semua perhelatan ini digelar pada tanggal 13-15 Juli 2018 di Rumah Opa Cafe di Jl.Welirang No.41 A, Malang.

Kegiatannya antara lain Peragaan busana dari Fancy Cocktail Party, Workshop dari para desainer dan seniman kemudian penampilan musik akustik. Kegiatan ini juga sebagai kelanjutan dari program TRA yang diadakan Mei lalu yaitu TRA! Amatir yang bertema pangan. Kegiatan pertama yaitu fashion show melibatkan koleksi – koleksi dari Agus Sunandar, Ican Harem, Leafthief/Agnes Christina, Ojite Budi Sutarno serta Ardalano dan Realizm. Diadakan pula kontes best style pada hari itu yang berhadiah gift bag dari sponsor. Selain fashion show juga diadakan pameran dari empat seniman tersebut yang dikemas apik layaknya kita memasuki sebuah rumah mode.

Tra X Fancy 2

Hari Kedua diisi dengan Fancy Cocktail party dengan penampilan dj – dj seperti Senoda, Hxxmo, Archie, Fian dan Boy sekaligus workshop melukis jaket jeans yang diisi oleh Ican Harem. Hari Ketiga diisi diskusi tentang Singularisme. Dalam diskusi ini sekilas bisa ditangkap bahwa Singularity dalam seni adalah dimana kreator kalah dengan ciptaannya. Artificial intelligent dari gadget dan internet yang menembus ruang dan waktu membuat pola hidup berubah. Ini juga mengakibatkan trend juga berubah. Responnya ada empat macam. Pertama, Exuberant/respon optimis dan antusias. Kedua, Urban caricature yang apik dijelaskan oleh Karya Ican Harem yaitu pencerminan dari kehidupan jalanan. Singularity membebaskan gambar dari mana saja, dimana author dianggap tidak ada.

DSC_4610

DSC_4596

TRA X FANCY 3

Author bisa datang dari responden yang mengkreasikan dari gambar – gambar yang berasal dari mana saja yanh bebas diambil darinmana saja dan dikreasikan secara bebas dan apropriasi yang liar bahkan tanpa konteks. Ketiga yaitu Neo medieval atau revival abad pertengahan yaitu rindu akan abad pertengahan karena penganutnya merasa dunia sudah berubah. Dulu yang berjilbab bisa dihitung dan kini mulai bertambah karena kesadaran menutup diri dari sendiri dan bukan paksaan. Sekarang orang mulai mementingkan kenyamanan batiniah dari religi sehingga konser jadi kebutuhan. Orang lebih merasa senang mempunyai tiket atau foto travelling ke tempat eksotis dan dipost di instagram. Ke empat yaitu Korteks atau mengambil inti atau selaput dari alam atau bergaya sederhana. Hal ini secara simple bisa dijelaskan dengan contoh yaitu pakaian yang menggunakan kekuatan lembaran nabati mentah tanpa diolah lagi atau Eco fashion. Value yang diperhatikan sekarang adalah korelasinya dengan dampak lingkungan. Semua bahan baku dan pewarnanya dari alam. Jaman sekarang Singularity menjadi Tema besar di dunia fashion apalagi kelompok avant garde sekarang juga merambah ke pop culture seperti Lady Gaga dengan kostum dagingnya. Korteks lebih mengedepankan seni daripada fungsi fashion. Karena Seni tidak bisa dilepaskan dari dunianya, fungsi nya pun tak bisa lepas yaitu secara fungsional dan estetika. Di pameran ini ada yang estetikanya kuat seperti Ojite Budi Sutarno atau kuat secara fungsi dan estetika seperti karya Ican harem.

DSC_4585

Kemudian diskusi yang berlangsung antara Agus Sunandar, Yosa Batu dan Pak Syarif ini mulai merambah dunia modern secara global. Dahulu modernitas menghegemoni karena kapitalisme. Barang – barang branded dikuasai para pemilik media cetak. Dahulu universalitas dibenturkan dengan pluralitas. Jalur universalitas seperti rentetan elaboratisasi daftar pustaka di skripsi dan paper. Kemudian muncul universalitas yang berevolusi ke singularitas ketika software open source seperti ubuntu/linux muncul, karena akses untuk modifikasi terbuka bebas atau open source, seperti android. Hal yang paling dekat yaitu seperti konsep rgb dan cmyk. Dahulu para desainer grafis dan seniman dalam mencari guide warna seperti biru daun dan lainnya merujuk pada alam. Sekrang Seni dan lifestyle bisa diakses bebas,  Dan pola pikir audience terupdate dengan sendirinya. Fabrikasi akan tetapi tetap mengekang walaupun ada perlawanan dari hal seperti urban caricature yang mempertahankan handcraftmanship. Dimana keunikan sentuhan sangat dihargai dan tidak ada pakem/standard. Bahkan seperti operasi plastik/kuasa atas tubuh itu seperti bukti singularitas atas desain alamiah manusia.

Resistensi urban caricature juga kuat berangkat dari subkultur punk. karena Singularitas pula trend busana muslim karena neo medieval jadi berkembang. Indonesia menjadi kiblat trend muslim fashion dunia. Kalau di negara minoritas muslim jadinya bukan busana muslim tapi lebih ke modest wear. Ray Kurzweil mengemukakan Technological Singularity dimana untuk mengalahkan a.i. tech singularity (keganjilan/anomali/keunikan teknologi) yaitu menginjekkan/implan teknologi ke manusia. Seperti tato yang tersambung ke device/gadget/dunia maya. A.I seperti filter di instagram menjadikan seni fotografi beralih ke auto aesthetic sebuah estetika yang muncul dari sosmed/digital apps, semacam platform Google Curator Table. Edward Munds kemudian muncul sebagai yang paling unik karyanya setelah masuk kurasi Google Curator Table. Kemudian muncul lagi Luditte/dari Ned Ludd. Ned Ludd adalah sebuah karakter anti teknologi yang menghancurkan mesin tenun besar, yang kemudian diambil sebagai inspirasi nama gerakan Luddite yaitu para pengrajin kain yang menghancurkan teknologi fabrikasi massal di 1779. Para Luddite meyakini bahwa teknologi massal membunuh rasa kemanusiaan. disaat teknologi juga meningkatkan taraf hidup, ketunggalan/individualitas mulai difasilitasi oleh teknologi.

Pada akhirnya penggunaan medium mempengaruhi batas antara seni dan desain. Desain dalam diskusi ini tersirat sebagai problem solving sebuah kasus, seperti teori Aerodinamika yang kemudian berpengaruh pada bentuk dan desain. Sebaliknya Art atau Kesenian malah memunculkan persoalan/isu yang terlewat/tak terlihat di masyarakat, alih – alih mencari solusi, seni bertujuan untuk menggugah para responden untuk melihat persoalan yang tidak muncul di permukaan dan kemudian menginspirasi untuk mencari solusinya. Dalam Seni tidak ada barang baru. Ketika nostalgia 60an.70an.80an.90an mulai muncul lagi, singularity lebih kepada statement sekarang atau kekinian. Brand besar mulai ditinggalkan karena trend yang dipropagandakan melalui marketing para brand besar itu lebih bersifat mengatur. Dalam singularitas individualitas lebih mendapat tempat, dimana tiap individu adalah desainer/stylist pakaiannya sendiri.

Akhirnya Setelah diskusi panjang tersebut, acara TRA X FANCY ditutup oleh penampilan soloist Sabiella Maris, dan grup hip hop Aesthetic.

Acara TRA akan kembali dilanjutkan pada bulan September dengan tajuk “Artificial Home” bertempat di Musium Panji, Tumpang.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close