Now reading
Tontonan Bersama Bambang ‘Ipoenk’ K.M.

Tontonan Bersama Bambang ‘Ipoenk’ K.M.

 

Pada 14 Maret yang lalu, Bambang ‘Ipoenk’ K.M bersama Lelakon menyambangi Malang, tepatnya di  Digital Lounge Kayutangan. Pemutaran film dalam rangka Parade Film Malang ini dimulai dengan cerita Ipoenk yang memulai kiprahnya di dunia film sejak awal 2000an. Namun gempa Jogja pada tahun 2006 menyebabkan sebagian file tersebut hilang. Dalam pemutaran film di PFM 2017,  Ipoenk membawa 4 film yaitu Memulai Kembali (2013), Love Paper (2013), Amarta, Gadis dan Air (2015), dan Ayo Main (2017).

Memulai Kembali (2013)

Film ini mengisahkan tentang seorang gay bernama Asa yang ditinggal mati oleh kekasihnya, Fachri.  Tahun-tahun setelah kematian Fachri,  Asa terus berjuang dengan kebimbangannya  untuk move on atau tetap hidup dengan masa lalunya dengan Fachri. Dengan saran dan dukungan dari teman-temannya , Asa mencoba untuk memulai kembali hidupnya dengan sesuatu yang baru. Adalah Michael, pria yang sudah lama menyukai Asa, orang baru yang hadir dan diberi kesempatan oleh Asa untuk membantunya memulai kehidupan yang baru pula. Setting dan tata visual yang dibuat seperti komik pada kertas karton, ternyata punya filosofi tersendiri bagi Mas Ipoenk. Kertas hanya mempunyai dua sisi dan dua sisi tersebut mewakili sisi perempuan dan sisi laki-laki. Karton dipilih karena kertas karton juga mempunya dimensi dan mungkin gay digambarkan berada pada dimensi tersebut. Film Memulai Kembali ini merupakan buah dari tukar skrip antara Ipoenk dengan kawannya, Paul Augusta.

Love Paper (2013)

Love Paper adalah film dengan metode stop motion dan tanpa dialog.  Film ini menyimbolkan sebuah hubungan percintaan dengan setting serba koran. Koran dipilih sebagai medianya karena secara fisik, nilai koran (harian) hanya sehari saja atau bisa dibilang jangka waktu pendek, namun isi dari koran tersebut bisa dibaca lagi kapanpun dan nilainya everlasting. Headline digambarkan sebagai memori dan menghilangkan memori tersebut bisa sangat cepat bak mencoret headline dengan tinta hitam.

Amarta, Gadis dan Air (2015).

Isu sulitnya mendapatkan air di Yogyakarta menjadi latar belakang film Amarta dan Gadis Air. Pada saat itu pembangunan hotel di Yogyakarta semakin banyak dan menyebabkan penduduk di daerah pembangunan hotel tersebut sulit untuk mendapatkan air tanah. Penduduk sekitar pun hanya mendapat pilihan digusur dan dipekerjakan oleh hotel di area itu dan gaji yang dihasilkan pun dipergunakan untuk membeli air pada hotel tersebut, karena jatah air mereka lebih banyak. Ipoenk tadinya ingin mengangkat cerita tersebut melalui adaptasi dari dongeng, namun karena tidak menemukan dongeng seperti itu, beliau memilih menciptakan dongeng sendiri. Amarta dan Gadis Air mengisahkan tentang Dewi Amarta (Dewi Air) yang ditawan oleh seorang ‘bos’ sehingga si ‘bos’ tersebut dapat menguasai air di Yogyakarta. Hal tersebut membuat rakyat kecil kesusahan mendapatkan air, tidak seperti sebelumnya, air mereka dapatkan dengan melimpah dan cuma-cuma. Naskah dibuat dalam bahasa Indonesia yang lalu diterjemahkan ke bahasa Jawa kuno oleh Ibu dari Ipoenk. Dengan masih menggunakan media kertas sebagai tata visual panggung dan tata rias menyerupai komik, hal tersebut dipilih karena Ipoenk ingin memilihkan fokus untuk penonton, mengingat setting yang digunakan adalah sebuah panggung yang setiap detailnya bisa terlihat dari ujung ke ujung.

Ayo Main! (2017)

Ide awal tercetusnya film “Ayo Main!” adalah kegiatan dari anak dari Ipoenk sendiri. Ipoenk merasa tidak ada tontonan untuk anak-anak jaman sekarang selain konten yang disuguhkan internet. Kemudahan menonton film melalui internet hadir pula dengan nilai minus tayangannya tidak tersaring.  Maka dibuatlah film ini yang mengangkat isu permainan tradisional yang mulai ditinggalkan karena adanya mainan digital khususnya pada smartphone yang membuat anak-anak menjadi keranjingan. Padahal permainan tradisional sangat penting perannya karena merupakan salah satu cara anak dalam bersosialisasi, belajar dan melestarikan warisan turun temurun tersebut. Adalah Abi, karakter utama pada film berdurasi 24 menit ini, digambarkan menggandrungi permainan pada smartphonenya. Dia menolak ajakan teman-temannya yang lain untuk memainkan permainan tradisional bersama-sama karena terlalu asik dengan game nya. Bahkan komunikasinya dengan orang tua di rumah pun menjadi terganggu karena Abi nonstop memainkan game tersebut. Sampai suatu hari orang tuanya diculik oleh tokoh dalam game kegemaran Abi dan Abi harus berusaha untuk menolong orang tuanya yang tengah disandera si Buto Ijo. Cara yang digunakan untuk mengalahkan si Buto Ijo adalah dengan memainkan permainan-permainan tradisional seperti Engklek dan Gobak Sodor. Dalam mengalahkan si Buto Ijo, Abi juga meminta bantuan teman-temannya yang biasa bermain permainan tradisional tersebut . (HM)

 

admin

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>