Tisu kering yang basah

TISU KERING YANG BASAH

Oleh: W Sanavero

 

Semua orang takut akan kematian. Tapi, aku menghadapinya setiap hari. Setiap kali melihat diriku berdiri dengan paras yang begitu-begitu saja di depan cermin. Mati adalah sebuah dua bibir yang sudah bercumbu kemudian saling melepaskan, dan saling pergi tanpa hirau liur yang masih basah. Sejak bibirku basah oleh bibirnya, aku telah mati. Percuma saja rasanya aku menutup tubuhku dengan baju berwarna-warni, dimana-mana ada cermin. Aku tidak dapat sembunyi dari kematian ini. Jika benar kematian itu sebuah hal yang menyakitkan, maka kematian semacam ini adalah kesakitan yang berumur panjang. Sampai kematian yang sesungguhnya datang untuk mengambil alih kesakitan sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang diinginkan kehidupan ini dariku.
Siapa yang mengijinkan aku untuk memilih terlahir menjadi perempuan atau laki-laki. Siapa yang mengijinkanku untuk memilih menjadi perempuan hilang keperawanan atau tidak. Rasanya, kehidupan ini padaakhirnya hanya tentang sepotong roti dengan selai nanas, atau selai buah asam lainnya. Kecut! Mengenyangkan perut saja. Seperti urusan kesenangan  di pagi hari saja. Kemudian mati mendadak seketika.

***

Waktu itu lima tahun yang lalu. Aku terbangun di bawah sebuah selimut tebal. Bau, lembab, juga kasar. Aku membuka mata, lalu sinar matahari dari luar tampaknya ingin mencolok mataku, lewat celah-celah tirai yang terurai kipas angin serat. Seperti tak inginkan aku membuka mata pagi ini. Untuk aku yang baru bangun tidur semalam, sinar matahari yang menusuk retinaku adalah selamat pagi pertama yang kurang hangat. Tapi pun tidak apa, matahari tidak memiliki siapapun untuk disapanya atau menyapanya. Lalu aku mencoba mengingat di tengah retinaku yang perih, ruangan macam apa aku tidur di dalamnya? Aku bangun, duduk. Di bawah ranjang berserakan tisu-tisu kering yang basah. Keningku mengerut. Aku berpikir dalam, keras, dengan telapak kaki yang telanjang aku turun dari ranjang. Tisu-tisu itu aku pungut satu persatu dengan perlahan. Keringat dinginku keluar, tanganku gemetar. Di sudut sana, tepat di bawah kaki ranjang, satu tisu berwarna merah. Aku membatu. Sesekali angin, dari jendela terbuka menyibak rambutku.
Aku buang semua tisu-tisu kecuali tisu yang berwarna merah. Ya, merah darah, darahku, darah dari daraku. Untuk pertama kalinya, pagi seperti ujung mata pisau.
***
Pagi seperti mata pisau, kemarin. Adalah pagi pertamaku yang membuatku bangun dari tidur semalaman. Sadar dari kehidupan luar pintu, ternyata mengerikan. Sehelai tisu kering  ini, rasanya ingin aku awetkan dengan air garam lalu aku keringkan di kulkas, aku lipat dan aku simpan dengan rapi. Suatu saat ketika ada yang datang dan mengetuk pintu kamar, aku bukakan lipatan tisu ini di depannya. Agar mereka tahu, kalau yang mereka inginkan tidak ada padaku lalu pergi tanpa harus masuk kamarku dan meninggalkan liur yang masih basah di bibir.


 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close