Thirsty Thursday bersama Pijar dan Dizzyhead

Oleh kontributor Randy Levin Virgiawan

 Ada satu pendapat dari seorang teman mengenai band yang melaksanakan ibadah tour luar kota, “Sebuah band diukur kesuksesan tour-nya saat dia berhasil ‘menampar’ band tuan rumah.” Saya tidak mengafirmasi ataupun menolak anggapan itu, namun barangkali bisa menjadi intermezzo dalam melihat fenomena sambang-sambang’an ini.

thirsty thursday

Thirsty Thursday, sebuah acara yang diadakan Houtenhandgarten untuk menyambut unit indie rock asal Medan, Pijar, yang sedang melaksanakan tour untuk EP terbaru mereka, “Ekstase”. Dizzyhead, band Twee Pop asal Malang dipercaya sebagai pembuka bagi Pijar. Acara ini diadakan pada hari Kamis kemarin (namanya juga Thursday, hehehe), 10 Agustus 2017.

Meskipun di poster tertulis pukul 18.30, namun sejatinya acara ini baru dimulai 2 jam sesudahnya. Dizzyhead langsung menggebrak dengan nomor-nomor seperti “Glass Heart”, “Just Friend”, dan kedua single mereka “You” dan “Shiver”. Permainan-permainan minimalis dengan lirik super cheesy khas Dizzyhead mewarnai orang-orang yang mulai berdatangan ke Houtenhandgarten. Meskipun secara musikal, ada beberapa miss seperti turunnya tempo pada verse kedua lagu “You”, atau beberapa part yang kurang ter-handle dengan baik di beberapa kesempatan, namun sejauh pengalaman saya melihat Dizzyhead, saya rasa ini merupakan satu di antara performa terbaik dari mereka secara suasana. Hanifa yang biasanya meminimalisir gerakan di panggung, kini mulai lincah bergerak ke sana kemari mengikuti irama lagu-lagu mereka.

Setelah Dizzyhead memanaskan suasana, kini giliran Pijar yang ditugasi mengokupasi panggung. Setlist mereka diisi oleh materi-materi baru pada “Ekstase” dan juga beberapa dari “Exposure”. Eksekusi mereka cukup rapi dalam membawakan lagu-lagu mereka menurut saya. Entah itu part stacatto dari “Tropis”, part-part dengan nuansa new wave seperti pada “Digital Ecstasy”, straight rock seperti “Selatan” hingga lagu santai seperti “Akhir Pekan”. Overall, meskipun menurut mereka ada beberapa lagu yang kurang bisa memenuhi ekspektasi, namun menurut saya, mereka sudah cukup sukses dalam mempresentasikan musik mereka kali ini.

Catatan mengenai kegiatan ini tentu saja ketepatan waktu. Tidak bisa dipungkiri, ini bukan hanya salah penyelenggara acara saja, namun juga penonton. Penyelenggara acara jelas tidak akan memulai acara tanpa penonton, maka dari itu akan selalu menunggu datangnya mereka. Pun, penonton sepertinya juga dari awal ter-mindset bahwa acara akan selalu telat, sehingga tidak ada pertemuan berupa solusi dalam hal ini, terkadang. Agaknya, kita sebagai penonton bisa lebih bijaksana dalam melihat jadwal waktu yang tertera pada poster ke depannya.

Oh, untuk pendapat mengenai kalimat intro saya di awal, sepertinya itu hak prerogatif penonton dalam menilainya. Tetapi kalau saya, mungkin anda sudah tahu jawabannya, hehehe.

 

-KMPL- (@randy_kempel)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close