Now reading
SRAWUNG FILOSUFI; “Pertemuan Bunyi, Nada, dan Nyawa.”

SRAWUNG FILOSUFI; “Pertemuan Bunyi, Nada, dan Nyawa.”

 

 
 

Sebuah catatan saja

SRAWUNG FILOSUFI; “Pertemuan Bunyi, Nada, dan Nyawa.”

Tidak ada dalam rangka lain kecuali ‘Sesrawungan’. Mengingat ‘Sesrawungan’ adalah bahasa saduran dari Bahasa Jawa yang berarti ‘Saling bertemu, bergaul, bertegur dll’. Tapi sejauh ini konteks ‘Sesrawungan’ hanya terjalin dalam berjabat tangan saja. yang menarik adalah, bagaimana ketika bunyi lah yang saling berbicara dan bersapa salam? Bunyi lah yang sesrawungan. Bayangkan saja! Kamis malam, 3 November 2016 tepatnya di Warung Srawung jl. Parangtritis no. 1 Lowokwaru, Malang. Untuk pertama kalinya, ruang-ruang pertemuan bunyi diadakan. Acara yang bertajuk “Srawung Filosufi” menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bunyi yang saling bertemu. Gitar Banjo yang dipetik oleh jari-jari piawai seorang gerilyawan asal Majalengka, Ary Juliant. Juga nada dan lirik yang dinyanyikan secara spontan oleh tokoh Sufi Modern, Candra Malik. Menciptakan satu lagu dengan komposisi suara yang benar-benar mewakili batin seluruh orang yang hadir dalam rangka ‘Nyawijining diri’ yaitu bersatu dengan diri sendiri.
 
Malam itu menjadi satu-satunya saksi alam, satu lagu terlantun dengan khidmat. Dengan iringan biola yang dimainkan oleh seorang komikus Malang, Aji Prasetyo. Juga gitar akustik oleh maestro gitaris yang bergerilya dengan bermusik, Ary Juliant. Lirik demi lirik menyatukan bunyi-bunyi untuk bertegur sapa, Jam Session;
 

Kehidupan adalah janji kepada diri sendiri
Kematian adalah bukti pada ilahi Rabbi
Sejauh apa aku berjalan
Sejauh itu pula aku menuju kesejatian

 
Lagu diatas dilantunkan dengan sangat santun dan hangat, jika bunyi adalah materi yang dapat dilihat, barangkali dia berwujud seperti seorang perempuan dengan Rahim yang hangat. Merawat nyawa janin yang ada di dalamnya dengan nafas yang baik. Terbukti, semua yang hadir dalam acara tersebut hanyut, tidak ada suara kecuali perfoming. Bahasa mata mereka bermakna khusyu. Bunyi yang saat itu terdengar mampu menstimulus emosi para penonton. Mengatur bahkan meregulasi emotional intelligence setiap yang mendengar. Terlihat dari respon salah satu yang hadir dengan satu pertanyaannya, Ambara (30th) seorang Musisi Perempuan asal Kupang, “Bagaimana musik ini terdengar begitu sangat baik. meskipun tanpa preparation?”
 
Tanpa keakuratan penelitian jenis apapun, bunyi yang hari-hari ini masuk dalam industri musik bonafit, yang berpeluang besar tersebar dengan cepat di pasaran. Hanya melahirkan bunyi dengan bau komersilitas dan popularitas, sangat memuakkan. Karena itulah, ketika bunyi yang dimainkan berdasarkan kejujuran dan penuh cinta. Juga bertemakan kesadaran diri yang berujung perihal ‘transenden’, seperti perfoming ketiga seniman musik di acara ‘Srawung Filosufi’ ini meredam rindu pendengarnya. Lirik-lirik yang tersusun mengantarkan refleksi menuju sunyi, sendiri, dan kembali.
 
Hal ini disepakati dengan baik oleh filusuf legendaris, Aristoteles dalam statement nya beberapa Abad silam, bahwa “Musik yang indah adalah musik yang mampu mendamaikan hati yang gundah.” Karena dalam kesunyian dan berintrospeksi diri adalah ruang-ruang kontemplasi sesungguhnya. Bahkan menurut Wundt, seorang peneliti yang mengembangkan konsep Introspeksi dari Socrates, berpendapat bahwa “Berintrospeksi diri adalah upaya menemukan elemen paling dasar diri sendiri.” (Wikipedia.com/ diakses pada 11 nov 2016)
Harapannya, dengan musik yang dikomposisikan dari bunyi-bunyi yang jujur akan membentuk keluhuran-keluhuran personal. Seperti closing Sufisme Modern, Candra Malik dalam acara ‘Srawung Filosufi’, “Bunyi adalah bahasa. Dan setiap bahasa memiliki jiwa. Karena jauh sebelum adanya ilmu adalah Adab. Bahasa membentuk jiwa dan budi.”
Sekali lagi, bayangkan!
Bayangkan ketika bunyi saling bertemu, bertegur sapa dan sesrawungan.

-W Sanavero

admin

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>