Sophisti-pop ala Ary Juliant

Sophisti-pop, sebuah genre yang dilabelkan pada musisi – musisi tahun 80an yang meramu jazz dan pop bahkan new wave dengan smoothnya hingga tercipta musik yang begitu kaya dengan lirik yang manisnya melebihi kadar gula di minuman ringan berbotol plastik yang ada di minimarket 24 jam. Tentu sophisti-pop tidak semurah minuman ringan tersebut, sophistipop bisa dibilang berkesan parlente, penuh warna dan gairah yang seakan merepresentasikan kaum yuppie di jaman itu.

Di Jepang ia juga mempunyai padanan bernama City Pop, sebuah pop jazz-fusion yang biasanya dipimpin oleh vokal yang renyah dan syahdu baik dari pria maupun wanita. City pop ini pun pernah menjadi andalan para idol – idol jepang dalam membuat album, tak hanya musik pop yang ceria dan berbau permen karet. Di Indonesia sophisti-pop sendiri bernama pop kreatif, dengan pendekatan hampir sama dengan city pop jepang.

Rata – rata musisi sophisti-pop adalah musisi penuh skill dan mempunyai alat – alat yang mahal serta jenius dalam mengolah progresi musik yang lain daripada sederhananya lagu pop biasa. Biasanya band – band atau musisi sophistipop lekat dengan kesan urban yang bisa dilihat dari pakaian yang rapi dan mewah, jauh dari kesan kumal musisi rock maupun folk 60an.

Dengan munculnya, The 1975 grup musik dari Manchester Inggris yang mengaku terinspirasi dengan sophistipop ala Blue Nile, dan Prefab Sprout di tahun 80an maupun Honne, sophistipop duo dari London yang terkesan terpengaruh oleh sophistipop berbau soul dan rnb ala Curiosity Kills The Cat, Sade, Prince maupun Wendy and Lisa. Di Indonesia sendiri revival ini diwakili oleh Coldiac dari Malang maupun Ikkubaru dari Bandung.

Namun sebuah anomali ada di indonesia sejak akhir 80an di Bandung. Yaitu tersebutlah Ary Juliant, seorang musisi dari yang bersenjatakan gitar dan harmonika. Sekilas orang akan mengira bahwa musik yang dibawakan adalah musik folk ala Bob Dylan atau Leonard Cohen dengan suara sumbang dan kunci nada yang mampu dibawakan oleh semua orang. Namun Ary Juliant malah membawakan paduan etnik, blues, jazz dan pop yang disokong lirik yang puitis karyanya sendiri maupun karya teman – teman penyairnya. Irama dan Nada yang dimainkan bak musisi progresif yang asyik bermain solo namun artikulatif dalam bercerita dan bernyanyi. Tehnik rekamannya pun minimalis dengan perkusi berupa snare drum, cymbal dan hi hat, diiringi biola, tabla, bass dan gitar akustik. Tiga album yang berkompisisi seperti itu di dekade 2010an yaitu Nuansa Semu, Balada Blues dan Gunung  – gunung itu, dan Tentang Matahari.

Bayangkan saja Paddy McAloon, atau Andy Pawlak hanya bersenjatakan gitar akustik bernyanyi di kafe – kafe pinggiran Dublin maupun Edinburgh dan tetap berpraktik seperti itu selama 30 tahun. Iya Ary Juliant adalah musisi indie sejak akhir 80an, ia menyebutnya gerilya musik ary julianisme atau gerilya musik. Sebuah praktik yang memberinya 30 album dan jaringan tur yang dekat tanpa berpikir oportunis yang setia menerimanya dimanapun dan kapanpun. Hampir sama dengan jaringan musik indie, punk maupun metal underground yang selama ini kita temui. Akan tetapi dengan praktik yang jelas lebih banyak mengeluarkan modal sendiri daripada sponsor, Ary Juliant banyak mendapat undangan bermain di Jakarta, Bandung, Jogja bahkan di kafe – kafe di Lombok.  Ary Juliant bisa dibilang adalah musisi dengan status CULT tanpa harus terdengar njelimet, asing, eksperimental dan “SULIT”. Semua orang bisa menikmati musik dari Ary Juliant karena ia adalah ekspresi jiwa sejujur – jujurnya dengan kata – kata mengandung lokasi –lokasi asing dan pulau – pulau eksotis nusantara yang murni pengalaman perjalanan Ary Juliant selama 30 tahun berkarya.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close