Sineas Muda Malang ke MIFF 2017 Melbourne

Mahesa Desaga lahir di Kediri, 1 September 1989. Film telah menjadi passion dan kehidupan baginya. Sejak kecil bioskop adalah wahana favoritnya, terbilang sejak umur 4 tahun. Sejak pengalaman pertamanya menonton film di bioskop di umur 4 tahun sejak itu, dia senang ke bioskop, setiap lewat bioskop sudah membuatnya gembira, bahkan ketika melihat poster film yang masih dibuat dalam bentuk lukisan tangan di jaman itu sudah membuatnya excited. Bahkan menurut Mahesa, Ibunya sejak mengandung dia selalu mengidam ingin menonton ke bioskop.

Ia memulai berkenalan dalam produksi film secara nyata semasa menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Hubungan Internasional Universitas Brawijaya Malang. Saat itu ia tergabung dalam Lembaga Semi Otonom kampus SOCIETO SINEKLUB. Lalu setelah proses panjang, akhirnya pada semester 5 kuliah ia memutuskan untuk menekuni bidang film karena menurutnya membuat film itu menyenangkan dan mampu membuat ia berbicara banyak hal. Menurutnya, film adalah ruang untuk memahami dunia dan mengekspresikan isi otaknya. Inspirasi Mahesa dalam membuat film bersumber dari kegelisahannya dalam memandang sebuah situasi sosial maupun lingkungan terdekat. Terbilang sudah 6 judul film yang ada dalam katalog karyanya seperti film pertama KOMA (2008)lalu Lensa, Kring-kring, Goresan Kanvas, Sekolah Layar Kaca, Jumprit Singit, Kremi, dan yang terbaru Nunggu Teka. Saat ini sudah dua film yang berhasil melanglang buana sampai ke festival Luar Negeri yaitu Jumprit Singit (2012) dan Nunggu Teka (2017).

Nunggu Teka sendiri mempunyai alur yang sederhana dengan mengetengahkan penantian seorang ibu yang menunggu anaknya pulang untuk berlebaran. Film ini sebenarnya diangkat dari pengalaman pribadi Mahesa, dimana ibu nya, Ibu Sri Maryani selalu menanyakan kabar Mahesa saat Ia belum pulang rumah. Lalu, kemudian Ia berpikir bagaimana sebenarnya mensimulasikan perasaan Ibunya yang menunggu itu. Film ini masuk ke Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2017 yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Australia di Jakarta. FSAI diadakan untuk merayakan industri film Indonesia dan Australia, dan juga berbagi kebudayaan lewat film. Di tahun 2017 ini, adalah pertama kali, FSAI 2017 mengadakan Kompetisi Film Pendek untuk mendukung industri film Indonesia, dan berperan sebagai wadah untuk sineas muda Indonesia untuk menunjukkan karya-karyanya. Ada sekitar 300 film yang diajukan, kemudian enam finalis dipilih bersaing untuk berkesempatan memenangkan perjalanan ke Melbourne International Film Festival (MIFF) 2017. Enam film finalis diputar di seluruh rangkaian festival yaitu di Surabaya, Makassar dan Jakarta. Akhirnya pemenang Best Short Film dan People’s Choice diumumkan di Awarding Ceremony pada hari Minggu 29 Januari 2017 lalu dan setelah proses kompetisi yang ketat, muncullah Nunggu Teka (2017) oleh sutradara Mahesa Desaga sebagai pemenang nominasi Best Short Film FSAI 2017. Nunggu Teka dijadwalkan akan diputar di MIFF pada tanggal 9 Agustus dan 12 Agustus 2017 nanti di Australia. Sebuah kesempatan yang langka bagi para sineas muda di Jawa Timur, khususnya Kota Malang untuk bisa diputar di kancah Internasional.

Tags

Related Articles

1 thought on “Sineas Muda Malang ke MIFF 2017 Melbourne”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close