Sabbe Satta: Berlian Dari Singosari

Sabbe Satta adalah salah satu dari beberapa band di kancah Seattle Sound yang tidak ikut arus memainkan sound Nirvana, Soundgarden dan Pearl Jam. Berawal dari Band Frogstomp, Budi Wicaksono atau lebih dikenal dengan Pedo, memulai karir nya di awal 2000 setelah akhirnya bubar tanpa jejak diskografi, kemudian namanya pun diambil alih oleh sebuah band asal Lampung yang uniknya dengan genre yang sama. Setelah Frogstomp bubar, Pedo kemudian mengajak adiknya, Alomo dan Bejo untuk mengisi posisi bass dan drum dan mendirikan Sabbe Satta.

Sabbe Satta hadir di tiap acara grunge dengan eksplorasi yang bervariasi, entah itu influence post-rock aroma hardcore Russian Circles maupun Slint. Iya penulis sering menemui mereka membawakan lagu – lagu mereka sendiri yang hampir-hampir benuansa Rodan maupun Slint. Sampai akhirnya masuk dekade 2010an tepatnya 2017 mereka mantap mewarnai langit mereka dengan rona – rona post-metal.

Akhirnya mereka merilis sebuah single perdana sejak hampir satu dekade Sabbe Satta eksis, berjudul Hope dan Maxi Single berjudul Oh Singhasari dan memulai debut mereka dengan format baru di ajang Semburat #3: Vriday Oferturn 6 Mei lalu, sebuah acara yang konsisten menampilkan band – band lokal Jawa Timur, khususnya Malang yang perlu diberi spotlight lebih dengan semangat DIY yang notog-jedog.  Sabbe Satta menjelma menjadi unit Post-Metal ala Russian Circles, Storm of Void, Lento dan Caspian. Mendengarkan Sabbe Satta yang sekarang, penulis merasakan kerinduan akan Sabbe Satta yang dulu berbalut post-rock hardcore ala A Minor Forest, June of 44 bahkan Envy. Vokal Pedo yang menyeruak setelah intro panjang saat Sabbe Satta masih bernuansa Slint hilang sama sekali. Namun terlepas dari itu, melihat semangat baru untuk mendokumentasikan karya dan lebih seringnya mereka tampil, Sabbe Satta bisa diperkirakan bersinar di tahun 2017 ini.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close