RUNDUK

R U N D U K

[cerita ini dibuat untuk membentuk pola pikir sederhana, cerita ini mengandung nilai moral dibya yang sederhana pula. Selesai Pukul 00:00 Waktu Indonesia Bahagia]

Ditulis oleh W Sanavero


***

Blora, tanggal demikian tahun sekian.

Yang aku tahu kota ini adalah kota yang tumbuh banyak pohon jati. Sekian hektar berserakan daun-daun jati gugur.

Dua abdhi ndalem berjalan dengan lututnya, lalu menyisir rambutku dengan minyak kemiri. Satunya mengaduk teh bunga kenanga. Aku menarik nafas panjang, aku tidak tahu luka macam apa yang terbentuk dalam hatiku. Rasanya sesak saja.

Mereka berdua seorang perempuan, sama sepertiku. Tapi aku tidak pernah menyisir rambut seseorang dengan minyak kemiri, terlebih mengadukkan teh dari berbagai macam bunga-bunga.

Untuk pertama kalinya aku memindahkan seluruh barang-barangku ke kota ini, kota dimana aku dilahirkan. Disini, perempuan-perempuan menundukkan kepalanya ketika berjalan di depanku. Bahkan sesekali mereka berjabat tangan dan mencium telapak tanganku dengan di bolak-balik sekian kali, aku sudah menariknya tapi kalah kuat. Tangan-tangan perempuan di kota ini seperti tali tampar yang menarik timbanya. Di kota sebelumnya aku tinggal, tidak ada perempuan yang menundukkan kepalanya dengan perempuan lain. Mereka mengangkat dagunya sejajar, dengan bentuk senyum berbagai warna bibir, beberapa manis beberapa lainnya seperti lukisan distorsy seperti boneka plastik tidak karuan.

Mbak, berjalan saja dengan kedua kaki itu. Lutut manusia sudah diciptakan dengan warna hitam, jangan membuatnya semakin hitam karena berjalan di depanku.” Kataku pelan.

Mereka tersenyum, tetap saja berjalan dengan lututnya.

Sendika dawuh.” Jawab salah satu diantara mereka.

Sendika Dawuh adalah frasa yang dalam bahasa jawa kurang lebih bermakna ‘Baik, nona/tuan’. Tapi tetap saja, kedua abdhi itu menyisir rambutku dengan duduk di bawah, dengan lutut hitamnya.

“Diajeng, lutut kula tidak berwarna hitam,” Seka seseorang dari balik tirai rumah. Terlihat di tangannya sebuah bakul yang isinya tiga pisang rebus. Rambutnya pirang, matanya sedikit hijau, persis seperti aktris Inggris Emma Watson di film twilight yang pernah aku tonton tujuh bulan lalu.

“Kula diutus bapak untuk menyiapkan pisang rebus untuk Dianjeng. Dan pesan bapak, agar Diajeng segera menemui bapak setelah mandi resik.” Tambahnya.

‘Mandi resik’ adalah mandi besar. Aku menahan tawa, terkadang terasa geli. Seperti habis zinah saja aku harus mandi besar. Tapi bukan begitu, aku faham. Disini memang banyak semiotik, perempuan dimaksudan untuk selalu bersih nurani dan tubuh. Karena itu mandi besar dimaksdkan dengan mandi taubat.

“Nama Mbak siapa?” Tanyaku pada perempuan abdhi bermata hijau tadi.

Kula Sri Ambar Cely, Dianjeng,”

Dia tersenyum. Aku tertegun, bagaimana dia bisa mengucapkan dialek Jawa seperti perempuan asli Jawa? Lalu bagaimana dia bisa tinggal di tempat dengan frame kehidupan perempuan di kota ini? Mnggunakan jarik dan Ukel konde dengan bentuk tusuknya yang sedemikian rupa. Jelas ini bukan budaya nenek moyangnya.

Teman abdhi lainnya cekikikan kecil. Sepertinya mereka membaca kebingunganku.

Ngapunten Diajeng, mbak Ambar Cely ini sisa janin londo yang keberuntungan hidupnya di tangan Bapak,” Kata Mbak abdhi yang sedang menyisir rambutku.

Ohh pantas saja. Batinku,

“Lalu sudah berapa lama Mbak Ambar tinggal disini?”

“Sebenarnya sudah lama, tapi bapak memberi kula uang sangu untuk belajar di Sekolah Tinggi di seberang alun-alun kota. Karena itu kula memang jarang tidur dan menginap di ndalem. Hanya kalau bapak atau ibu memanggil. Kula keturunan londo, Diajeng. Kulit tubuh kula berwarna putih, juga yang dilutut. Karena itu sepuluh tahun ini meskipun kula berjalan dengan lutut, warnanya tetap saja putih.” Jawabnya hangat.

Aku mengerutkan kening. Sepertinya pagi ini aku mengalami penyempitan pernafasan, bagaimana bisa seorang bule ada ditempat seperti ini? aku tidak ikut merasakan bagaimana luka penjajahan selama tiga puluh lima tahun. Tapi pagi ini aku mendapatkan kemenangannya. Aku tidak bermaksud rasial, tapi konotasinya memang manusia berambut pirang sedang mencium telapak kakiku. Rasanya aku ingin mengetuk pintu makam Soekarno dan menceritakan kejadian ini.

Ya Tuhan, semoga aku tidak kurang ajar dengan sesama perempuan. Gumamku dalam hati.

Atau barangkali aku yang sedang berlebihan. Aku sudah meninggalkan kota ini kurang lebih Sembilan belas tahun. Aku sekolah di kota lain, jelas dengan baju-baju tahun ini. Dengan gaya hidup seperti perempuan-perempuan pada umumnya. Pensil alis, pewarna bibir dengan perkembangan brand, bahkan datang ke salon-salon rambut untuk sekedar keramas. Sementara tiba-tiba aku harus kembali di tanah kelahiran, dimana aku bertemu dengan minyak rambut yang diramu sendiri oleh tangan-tangan perempuan disini. Style fashion yang dulu aku anggap oldschool, sekarang menjadi pilihanku memadu madankannya.

Rambutku telah selesai disisir dan dipijat dengan minyak kemiri. Abdhi-abdhi perempuan kemudian menyanggulnya dengan tusuk konde.

“Tunggu Mbak. Kenapa bentuk kondeku ini seperti dua sayap angsa? berbeda dengan konde kalian yang sederhana dan rapih?” tanyaku ditengan penataan  konde. Aku menyuruhnya membongkar ulang.

“Kami menggunkan bentuk Ukul konde, Diajeng. Kalau untuk Dianjeng, kondenya harus lebih naik dua sentimeter dan berbentuk seperti kupu-kupu, ini sudah aturan leluhur sebagai putri darah biru,” Jelas Mbak Sri Ambar Cely sambil menata jarik dan benik-benik bajuku.

“Tidak! Pakaikan aku seperti konde kalian. Ini hanya konde, Mbak. Dimaksudkan agar rambut perempuan tertata rapi dan terlihat anggun. Bukan untuk menyekat kedudukan sosial. Kita ini sama-sama perempuan,”

“Tapi, Diajeng. Ini bentuk hormat masyarakat terhadap Diajeng,”

Aku memandangi mereka satu-satu. Entah energi apa yang diciptakan kepada sesama perempuan, mereka lalu membongkar kondeku yang tadinya sudah hampir selesai. Disisir lagi dengan hati-hati. Sangat pelan. Sungguh, aku baru bertemu dengan perempuan seperti disini, mereka tidak hanya merawat hatinya untut tetap lembut. Tangan- tangan mereka juga, dirawat sangat lembut.

“Hormat menghormati akan terjadi ketika hati saling menunduk, itu artinya rendah hati. Kalau sekedar konde saja tidak menolong siapapun, Mbak. Termasuk orang-orang yang gila hormat. Lagi, jika suatu ketika mba-mba ini pindah ke kota lain, jangan sekali-sekali menundukkan kepala. Diluar sana manusia sedang berebut kehormatan, tapi tetap menjaga hati kalian agar tetap merendah. Kalian harus jeli betul, rendah hati dengan rendah diri adalah dua hal yang tanpa sengaja saling bertukar. Yang patut adalah rendah hati, yang tak patut adalah merendahkan diri orang lain,” Jelasku sambil menikmati uluran jari-jari perempuan dengan keluhuran yang luar biasa. Mereka meneteskan air mata, sedang Mbak Ambar Cely perempuan bule itu tersenyum semakin manis. Sepertiya mereka terharu. Dalam hati aku berjanji, akan mengajak mereka berkeliling ke kota-kota yang pernah aku kunjungi. Untuk sekedar mengamati bagaimana perempuan-perempuan tumbuh di kota lain.

Darah biru, aku sempat menganggapnya hanya cerita epic jaman dahulu. Bahkan aku hampir melihatnya sebagai mitos. Hanya saja, yang tersisa sekarang bukan kedudukan kerajaan, tapi kedudukan keluhuran.

Kota ini seperti tali yang siap menggantung diri leherku. Hari ini darah biru memang sudah sudah mendarah haru sepanjang masa, sekalipun di jaman kompromis dan kamuflase, penuh manusia tiruan barat membangun kehidupan. Memang benar, terkadang realita tidak logis. Semoga nalarku tidak terlambat.

Aku telah bersepakat dengan diriku sendiri.

Konde dan kerudung selempang adalah bentuk penghargaan atas diriku, sebagai perempuan. Aku akan menggunakannya sepanjang usiaku.

 

 

welda sanavero

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>