Ritual Pancamakara Yang Berubah Wajah

Ritual Persembahan Nyawa Manusia Yang Sempat Diganti Kenduri Terulang Lagi

Oleh: Rois Milan

Dalam beberapa literatur sejarah kita mengenal sebuah ritual yang disebut pancamakara. Ritual ini dilakukan oleh nenek moyang kita (penduduk Nusa Jawa) pra-Islam, yang menganut kepercayaan Bhairawa-Tantra. Dalam ritual tersebut nyawa anak manusia (biasanya yang masih perawan) dipersembahkan untuk memuja Bhatari Durga atau Sang Kali, dilakukan di sebuah tempat pemujaan bernama ksetra.

Praktik ritual seperti itu dilakukan secara rutin oleh para penganut Bhairawa Tantra, yang menyebabkan terenggutnya nyawa orang-orang tak berdosa. Dan itu dilakukan ‘atas nama agama/kepercayaan’.
Hingga kemudian datang cahaya Islam yang dibawa oleh para wali ke tanah Jawa, yang perlahan tapi pasti mampu melakukan pendekatan kultural agar ritual tersebut diakhiri. Praktis di era Wali Songo praktik ritual pancamakara telah berhasil disirnakan dari tanah Jawa. Untuk suatu kurun waktu tertentu, berakhirlah sebuah jaman kegelapan.

Beberapa abad kemudian di wilayah yang sama, Nusa Jawa, ritual persembahan nyawa manusia tersebut seperti terulang kembali. Kali ini mengambil wajah yang berbeda, wajah Islam itu sendiri. Beberapa aliran dalam Islam telah dengan begitu tega menghalalkan nyawa manusia yang mereka anggap ‘musuh Islam’, tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan dalih pemurnian agama Tauhid mereka dengan bangga memekikkan takbir sambil menebar teror kematian melalui aneka macam bom.

Kawan, bukankah ini seperti sejarah yang terulang?

Apa yang telah disingkirkan oleh Wali Songo ternyata malah dinapak-tilasi kaum yang mengaku Islam, dengan mengambil wajah yang berbeda. Ironis…

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close