Rimba Terakhir, SENDI

Menemui Indonesia di Tengah Rimba Sendi

Oleh: Zidni R Chaniago

Sering berpapasan namun tidak pernah betul-betul diperhatikan, begitulah kiranya hubungan saya dengan Desa Adat Sendi yang terletak di perbatasan Kota Batu dan Mojokerto via jalur Pacet. Meski kerap kali melewati jalanan Pacet saat itulah untuk pertama kalinya saya mengunjungi Sendi. Tidak pernah terpikir sebelumnya kunjungan itu akan membuka cakrawala baru melampaui yang dapat saya bayangkan. Bisa dibilang, ini perjalanan singkat yang sangat berarti.

Masyarakat hukum adat Sendi baru saya ketahui setelah menyimak talk show keesokan harinya rupanya telah melalui banyak hal hingga hari ini. Mereka bukan saja berjuang untuk dapat mengelola hutan dengan berbagai hasil alamnya, melainkan juga berjuang untuk dapat diakui negara sebagai entitas masyarakat yang berdaulat dan berdikari. Bersama pendampingan advokasi oleh WALHI Indonesia dan jaringannya sejak tahun 90an, masyarakat tahun 2018 membuat gerakan kampanye Rimba Terakhir dengan judul Sendi Bercerita. Menggandeng seniman rupa, arsitek, serta musisi acara ini dimaksudkan untuk meraih perhatian nasional tentang kondisi kritis yang sedang terjadi.

Tiba di lokasi tanggal 16 Agustus 2018 saya dan rombongan memang berencana menginap dan ikut upacara bendera esok paginya. Desa Sendi rupanya memiliki lahan yang difungsikan sebagai bumi perkemahan yang sangat luas. Di lahan yang sama di bagian lain di lahan yang sama dibangun banyak spot berfoto juga bilik-bilik yang cukup luas untuk bersantai dan bercengkerama. Seakan telah demikian terberkahi, lanskap Sendi memang luar biasa indah dengan sajian pemandangan gunung Welirang dan hutan Anjasmoro.

Lokasi Desa Sendi berada di atas lahan 24 hektare. Kawasan hutan ini sempat hilang dari peta Indonesia pada jaman penjajahan Belanda, lalu kembali diambil alih oleh pemerintah Indonesia setelah periode kemerdekaan. Ketua adat atau Ki Demang menjelaskan bahwa masyarakat Sendi sempat diusir paksa dari tanahnya, dan wilayah Sendi dihilangkan dari peta. Sehingga secara administratif masyarakat adat Sendi mendompleng pada wilayah Desa Pacet. Hal ini dinilainya tidak adil, belum lagi kasus pengelolaan lahan dan hasil lahan yang sejak kemerdekaan dikelola oleh Perum Perhutani. Sore itu Ki Demang mengungkapkan dengan semangat,

“Mereka kan masih pakai aturan Belanda, sudah saatnya rakyat mengelola lahannya dengan cara-cara luhurnya sendiri.”

Malam itu masyarakat Sendi mengadakan ritual upacara untuk menyambut para tamu yang datang. Dipimpin para tokoh adat masyarakat, para pengunjung digiring menuju Puthuk Kursi yang diyakini sebagai petilasan (peninggalan jejak) delapan patih Majapahit yang dulu lari dari kejaran Belanda. Tokoh adat terlarut dalam doa yang khidmat. Ritual kemudian dilanjutkan ke bagian bawah bukit. Karena situasi goa yang sempit dan terbatas, pengunjung lain berkerumun menunggu di luar bersama aroma kemenyan yang kental menguar.

Tidak berhenti di situ, tabuhan gamelan yang terdengar dari selepas maghrib rupanya sebuah persiapan untuk acara jaranan malam harinya. Dimulai dengan penampilan tari kreasi yang dimainkan anak-anak, hingga acara sebenarnya yang melibatkan kemenyan, dukun dan tentu saja yang ditunggu, makhluk halus. Setiap paguyuban jaranan memiliki karakter masing-masing sesuai letak geografis dan adat istiadat daerahnya. Para ibu ikut bersorak menyaksikan anaknya menari dan beraksi di lapangan. Desa Sendi merupakan desa yang ramah dan sangat guyub dengan kekeluargaan yang kentara terlihat dari interaksi antar warga. Datang di penghujung musim kemarau—yang berarti sedang puncaknya angin dingin—tidak menjadi masalah karena suasana terasa begitu hangat dan meriah.

Esok paginya tanggal 17 Agustus diadakan ritual upacara basuhan Kucur Tabud, yaitu membasuh lengan, muka, dan kaki. Masyarakat desa dan pengunjung yang ikut tidak boleh memakai alas kaki dan harus berjalan masuk sekitar satu kilometer ke dalam hutan untuk sampai ke sumber air yang sakral. Ritual ini mengawali hari sebelum upacara bendera dengan maksud membersihkan diri agar siap menjalani kegiatan hingga sore nanti. Setelah mengikuti upacara basuhan, bersama arakan warga, pengunjung berjalan menuju bumi perkemahan untuk upacara bendera hari kemerdekaan.

Keramah-tamahan terpancar jelas dari rombongan ibu-ibu. Mereka membawa bendera besar sambil saling melempar senyum, berkelakar, dan terlihat begitu bahagia mengenakan baju adat kuning sementara bapak-bapak mengenakan setelan semacam beskap dan ikat kepala. Seorang pemimpin rombongan memimpin dan mempersiapkan barisan upacara menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa jawa krama inggil. Menghadap tiang bendera, membelakangi panggung bambu dan Welirang, peserta siap memulai upacara.

Memiliki ruang gerak yang cukup luas saya berdiri di samping barisan petugas upacara. Menggunakan baju adat dan sandal jepit tiga orang perempuan maju dan mengibarkan bendera, tentu saja sambil diiringi nyanyian lagu Indonesia Raya yang penuh semangat terlebih dari anak-anak kecil yang berdiri di belakang saya. Inilah yang aneh tapi justru membuat haru. Anak-anak kecil ini berusia kira-kira 3 hingga 5 tahun berlarian bebas di belakang barisan, kadang menggelendot pada ibunya yang lalu saya lihat maju sebagai pembaca UUD 45. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan upacara kemerdekaan di istana yang serba sesuai aturan, namun suasana kekeluargaan dan persatuan saya jamin lebih terasa di sini.

“Indonesia apakah sudah benar merdeka atau belum? Saya pikir belum. Karena sedang terjadi pengrusakan megah di desa dan negara kita.”

Kalimat tersebut disampaikan Ki Demang, atau lebih sering dipanggil Mbah Toni dalam pidatonya saat upacara bendera. Beliau merupakan generasi kedua tetua adat yang memperjuangkan kemandirian Desa Adat Sendi. Seorang yang mengaku memanggil bupati Mojokerto dengan panggilan batin—dan telah mendatangi kantornya berhari-hari meski selalu gagal bertemu, demi meminta penerangan di Sendi yang ketika itu belum tersambung listrik. Orang yang memotong separuh rumahnya untuk dijadikan meja-kursi sekolah. Juga salah satu dari sebelas orang yang menjadi tersangka atas tuduhan penyerobotan tanah yang diajukan oleh Perum Perhutani.
Kiprah Mbah Toni terus berlanjut hingga sekarang, hingga saat beliau dengan tegas menyatakan kegagalan negara dalam memberi hak kehidupan bagi bangsa Indonesia. Di tengah gemuruh semangat setiap yang hadir, saya menyaksikan salah seorang laki-laki kerasukan. Berdiri di bagian depan bersama warga desa lain laki-laki itu jatuh terduduk sambil menangis. Seorang bapak lalu membawanya menjauh dari barisan upacara. Penasaran, sayapun menanyai seorang perempuan pengibar bendera di sebelah saya. Perempuan itu mengatakan bahwa yang sedang merasuki laki-laki tadi adalah sesepuh mereka yang sedih dan haru melihat perjuangan anak-cucunya hari ini.
Ada relasi kuat diantara warga Sendi dan leluhur mereka baik yang masih hidup atau tidak. Relasi dengan yang sudah tiada terjadi melalui perantara , dan hal ini bukanlah sesuatu yang aneh. Hubungan kuat dengan dunia metafisik terbukti menjalin solidaritas diantara masyarakat, dengan artian lain memberi porsi besar bagi spiritualitas untuk mengisi ruang hidup mereka. Hal ini diceritakan juga oleh Mbah Toni tentang upacara untuk memotong bambu harus melalui persyaratan, tidak boleh berlebihan dan dimanfaatkan dengan bijak. Saya lalu teringat pada masyarakat Baduy yang tidak memanen padi lebih dari satu kali dalam satu tahun untuk menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan. Cara-cara macam itu sepertinya bukan pilihan bagi Perum Perhutani.
Sore hari di tanggal 17 Agustus, acara hiburan musik dan teater dimulai. Di tengah-tengahnya diselipkan talkshow singkat dari Ki Demang dan perwakilan WALHI yang berperan sebagai pendamping Desa Sendi. Tampil juga perwakilan musisi yang bertugas sebagai penyampai pesan melalui media kesenian tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang seharusnya masyarakat lakukan. Mempersatukan elemen masyarakat, organisasi lingkungan hidup, serta seniman tampaknya sedang menjadi kampanye yang trendy pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Aktifis telah semestinya bertindak atas tingkah media yang terlalu banyak menampilkan sisi riuh dan betapa jauhnya permasalahan desa dengan masyarakat perkotaan. Seperti tidak berhubungan, padahal semua yang dikonsumsi di kota adalah hasil desa.

Masyarakat hukum adat Desa Sendi merawat sebentuk peng-alam-an sepenuh hati terhadap alam tempat mereka tinggal. Hal ini terasa betul, terbukti dari banyaknya aktifitas yang sarat akan makna. Tidak hanya makna sejarah dan filosofi melainkan makna menghargai ibu bumi, bapak angkasa. Secara sekilas mempelajarinya dalam dua hari saya jadi sadar betapa transaksionalnya masyarakat urban hari ini. Kita dengan rela berserah diri pada rutinitas yang bukannya membuat makin kaya, malah makin miskin akal dan budi.

Acara Sendi Bercerita ditutup dengan penampilan dari Iksan Skuter dan Sisir Tanah. Manusia yang bersama-sama menyanyikan lagu-lagu manusia menjadikan suasana sore itu semakin hangat. Seakan tidak peduli, semakin angin kemarau bertiup kencang maka semakin semangat kami bernyanyi bersama.

Keharuan merebak perlahan.
Panjang umur perjuangan.

 

Malang, 4 September 2018.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close