Now reading
Review Album “Gestures” milik Atlesta

Review Album “Gestures” milik Atlesta

Oleh kontributor: -KMPL- (@randy_kempel)

3 Atlesta’s albums in a nutshell:

Secret Talking:

One Night Stand, Bloody Fucking and Party

 

Sensation:

Ok, I have champagne, a room in a president suite hotel, and you got a lingerie. So what would we do now?

 

Gestures:

OK, I was (probably still am) a bad boy, but look.. I DO have actual feelings, you see?

 

Lupakan image porno, seksual, atau mesum- beberapa ungkapan yang sering saya temui kala bertanya kepada orang-orang di sekitar saya mengenai pendapat mereka mengenai Atlesta, yang dibangun oleh “Secret Talking” di tahun 2012. Album ini mungkin merupakan statement terkuat Fifan Christa akan “pendewasaan” diri musik Atlesta, brand dan stage name pemuda ini setelah sebelumnya dibangun oleh “Sensation”.

Menurut berita-berita yang beredar di berbagai media, Fifan mengungkapkan bahwa ia terinspirasi oleh film-film indie-cult sehingga beberapa komposisinya terdengar “sinematik”. Ya, ada benarnya juga, saat saya mendengarkan “Season” & “Twin Cities”, saya merasakan melihat sebuah film romansa atau mungkin dokumenter di sebuah kota metropolitan dengan pergantian scene yang menghadirkan berbagai sudut kota lalu kembali pada tokoh utama sebagai puncaknya. Kemewahan dan nuansa sinematik seperti ini juga saya temui di lagu “The New Youth Living” dan “Luna Parc”.

Tentunya, sebagai musisi electro-pop atau lebih tepatnya, sophisti-pop menurut Alfan “Papaonta” Rahadi, Atlesta tidak serta merta meninggalkan “kewajiban tidak tertulisnya” dalam menggubah lagu-lagu yang danceable namun smooth, ibarat sepik – sepik ala muda mudi masa kini di kantung – kantung ajojing yang hip di kota Malang ini. Ya, untung saja di balik kompleksitas layer-layer sound yang ditawarkan, masih ada banyak trek yang bisa mengajak penonton buat menggoyangkan badan atau setidaknya joget tipis-tipis sambil singalong seperti “Paris Weekend” atau “Joy of My Broken Heart” di album “Sensation” saat live. Trek seperti “Pure Fantasy”, “The Gravity” dan “Golden Essence” dengan fill-in retro synth-nya siap memberikan kebutuhan membakar lemak anda saat konser Atlesta. Percayalah, kalau anda punya klub malam dan sedang mengadakan hajatan private party, 3 lagu di atas bisa dipakai buat mengisinya, oh atau sekalian saja undang Atlesta untuk mengisi acara anda tersebut, hehehe.

Selain itu, ada beberapa trek yang terkesan “repetitif” pada komposisinya dan cenderung bermain dinamika dalam menaikturunkan musiknya. “Finale”, sebuah trek yang cocok untuk menutup sebuah kisah film pada sesi credit title. “Vlaca” juga menerapkan hal serupa, repetitif, namun khusus pada trek ini, anda akan menemukan solo synth panjang dari menit 2:47 hingga akhir lagu di menit 4:37. Meskipun, solo synth ini sendiri tidak melulu menunjukkan sisi tekhnikal, melainkan lebih kepada dinamika background yang berubah.

Selain trek-trek di atas, Lagu – lagu slow nampaknya menjadi hal yang wajib ada di sebuah album sophisti-pop sebagai sisi smooth nya yang dihiasi lirik-lirik introspektif macam “Recalling”, “Shovia”, title track “Gestures” dan, favorit saya di album ini yang saya rasa bisa jadi sleeper hit, “Strangers Now”. Ah, lagu-lagu yang menurut saya cocok mengisi adegan patah hati dan kekecewaan tokoh utama dengan kekasihnya. Putar saja “Recalling” dan “Strangers Now” jika anda sedang ingat mantan, maka anda akan tahu bagaimana menjadi galau secara “agak berkelas”. Weiiiizzzz….

Dengan sound-sound & ambience yang ada di album ini, “Gestures” memberikan kesan “mahal”, melanjutkan apa yang “Sensation” mulai bangun kemarin. saya membayangkan mendengarkan musik ini saat berkendara di angkot mobil pribadi atau di beberapa klub malam. Semakin ke sini, memang agaknya Atlesta berusaha meninggalkan kesan bad boy bengal yang hobi tongkrongannya ke klub Malam, minum produk Dieng Champagne dan one night stand yang kadung terpatri di hati para wanita penggemarnya menjadi sebuah sosok lelaki yang lebih dewasa dengan sisi romantisnya namun tetap classy tanpa meninggalkan kesan “eksklusifnya”.

Dengan pendewasaan dan eksplorasi musik seperti ini, mungkin akan sulit bagi anda untuk “jatuh cinta pada detik pertama” pada trek-trek album “Gestures”, sesuatu yang bakal anda rindukan di album “Sensation” seperti trek-trek “Joy of My Broken Heart, “Sensation”, “Paris Weekend” dan “Oh You” yang memang sudah “menggoda” sejak not pertama dimainkan. Jika anda fans militan album tersebut, maka anda harus siap-siap kecewa.

Sebagai gantinya, anda mau tak mau harus mendengarkan intro yang panjang baru menemukan bagian memorable itu sendiri di tengah komposisinya. Bahkan dalam 3 single yang dilepas terlebih dulu oleh Atlesta, mungkin hanya “Pure Fantasy” yang bisa membuat anda merasa Love at first sting– mengutip judul album Scorpions. Di lain pihak, “Shovia” membutuhkan intro panjang untuk masuk ke dalam part vocal. Untung saja ketiga single ini sama-sama mempunyai Chorus yang relatif memorable. Hanya saja, ya itu tadi, anda harus cukup bersabar menemukan momen “orgasmenya”.

Satu catatan untuk album ini tentu saja masalah klasik musisi-musisi Indonesia sebagai non-native speaker yang memproduksi lagu berbahasa Inggris: Kesalahan tata bahasa. Ya, setelah saya membaca lirik lagu-lagu di notes album Gestures” saya menemui beberapa kesalahan; entah itu typo atau memang seperti itu. Di antaranya, seperti di “Strangers Now”: “Rising tides will not sink to deep”– yang mana mungkin maksudnya too deep. Jika memang typo, ya berati kesalahan packaging saja, namun jika memang salah penulisan dan maksud, maka hal ini perlu diperhatikan. Karena sejujurnya saya sendiri masih belum menemukan kata deep sebagai kata kerja (verb) dalam bahasa Inggris.

Ini mungkin tidak terlalu penting bila target pendengar Atlesta merupakan sesama non-native speaker. Namun, dengan konsistensi penggunaan bahasa Inggris dalam 3 album ini, sepertinya Atlesta tidak serendah hati itu untuk “hanya” menyasar pada pasar Indonesia. Nah, ini yang menjadi penting, karena bila sudah berbicara dengan bahasa internasional, penggunaan bahasa Inggris yang baik dan benar agaknya menjadi sebuah kewajiban-fardu ain. Jika Atlesta merupakan unit Rap atau underground, mungkin ini masih bisa ditolerir, tetapi kenyataannya tidak. Atlesta berada pada frekuensi musik Majestic (sebuah kanal Youtube) yang mahal dan kelas. Tentunya, Fifan tidak mau terlihat konyol jika semerta-merta menyertakan kata “gonna” (going to) setelah “will” tanpa adanya penghubung “be” di tengahnya, seperti pada “Shovia”.

Tetapi terlepas dari kesalahan grammar secara tekstual di atas, nyatanya Fifan Christa dalam pengucapan dan pelafalan bahasa Inggrisnya sudah dalam koridor “aman”. Ya, jika saja saya tidak membaca-baca notes albumnya, mungkin sulit juga menemukan kesalahan-kesalahan seperti yang saya sebutkan di atas. Agaknya, bila masalah tekstual di atas bisa diminimalisir ke depannya, ditambah dengan konsistensi memproduksi musik yang mahal dan elegan seperti selama ini, saya yakin Atlesta akan semakin diperhitungkan.

Oh iya, mengenai kesimpulan bagus atau tidaknya, saya selalu berpegang pada kata-kata teman saya, Momu yang merupakan gitaris dan sineas: “Karya yang bagus adalah karya yang JADI”.

Ya, jadi, selamat Atlesta, hehehe.

 

 

Alfan Papa onta

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>