Review Album: Coldiac – Heartbreaker (2016)

 

Coldiac adalah band indie-pop dari kota Malang yang terpengaruh berat oleh gelombang synth pop dan sophisti-pop revival yang digawangi oleh The 1975 dan Ice Choir di Eropa dan Amerika dan Up Dharma Down serta Ikkubaru di ASEAN. Pada Oktober 2015, Coldiac mulai menunjukkan eksistensi mereka dengan single pertama berjudul “That Was You” dan “No One” yang dirilis dalam bentuk live perform video via kanal Youtube Coldiac TV. Kemudian Single “Heartbreaker” muncul di awal 2016 menjadi mercusuar terang bagi Coldiac untuk diakui di blantika musik Jawa Timur. Coldiac berasal dari wordplay dari Cold and Cardiovascular. Saat semua personil menulis nama,  maka dipilihlah Coldiac dengan logo jantung kristal. Jantung juga merupakan sebuah simbol bahwa ketika album ini didengarkan, maka reaksi jantung berhenti seperti beku akan dialami para pendengar. Coldiac adalah Sambadha (vocal, guitar), Mahatamtama (guitar, vocal 2), Derry (Synth), Judha (bass) dan Bima (drum).  Icon band ini juga nampak ketika album Heartbreaker ini dibuka. “Heartbreaker” disini ternyata tidak hanya judul salah satu track mereka tapi juga mewakili keseluruhan album ini. “Heartbreaker” disini adalah seorang primadona yang digambarkan sebagai wanita cantik, simbol universal “pujaan” yang menghiasi seluruh kemasan album “Heartbreaker” ini. Warna Kuning dipilih karena secara psikologi warna mewakili energi baru, energi positif , dan kemudaan. Musik Coldiac di “Heartbreaker” ini mengeksploitasi perasaan yang ada saat proses berpacaran; dari senang, amarah, dan sedih. Album ini juga menggandeng sejawat sophisti-pop Malang Fifan Christa dari Atlesta sebagai penulis nada vokal di lagu “Love”.

Aroma sophisti-pop yang dreamy sudah kental terasa sejak dibuka “Doors” sebagai intro. Ibarat segala macam minuman dingin yang menawarkan pelepas dahaga. Kemudian masuk ke “Upside Down” yang bersalut bass funky beriringan dengan lick gitar yang dibalut delay dan diakhiri dengan rhythm guitar yang meraung. Lalu lanjut pada “Look Around” lick gitar funky menjadi lebih dominan dengan tambahan aksen saxophone. Coldiac mulai menunjukkan sisi lainnya dengan beat Hip Hop di “Don’t You Cry” dengan sentuhan synth tipis-tipis. Setelah tiga lagu yang bertema rasa kesal kini beralih ke “Take You Out” yang menceritakan tentang berangkat kencan. “Take You Out” berirama lebih optimis, cocok untuk diputar di saat malam minggu. Nuansa ini masih bertahan sampai track “That Was You” yang bertema pencarian cinta. Lalu entah mengapa sampai pada “Love” dan “Please”, saya mulai merasakan kemonotonan. Baru kemudian masuk di track dreamy nan membuai di “No One” dengan guest lead vocal Steffani BPM, mendengarnya bagaikan mesin yang diguyur air dingin setelah lama melaju sampai mesinnya panas. Sedikit info, Steffani BPM ini adalah seorang solois muda berbakat yang juga sering mendampingi Christabel Annora, dan Oneding di berbagai kesempatan. Karena memang “No one” divokali oleh Steffani seorang, dia malah berhasil menjadikannya seperti lagu miliknya sendiri. Tensi naik lagi di lagu ke sepuluh yaitu “Heartbreaker” dan track ke sebelas yaitu “Liquor” dan diakhiri dengan track 12 yang minimalis, depresif dan terdengar lirih berjudul “I Hate You”. Banyak komentar yang mengatakan bahwa pengaruh The 1975 kental terasa di Coldiac, namun Coldiac mampu membuatnya seperti kreasi mereka sendiri, karena sejatinya formula sophistipop yang mengawinkan, jazz, r ‘n b dan synthpop itu terbuka untuk segala interpretasi.

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close