Realitas Kehidupan Dalam Lirik Dangdut

Oleh: Zidni R. Chaniago

 

Secara sengaja, seorang teman memutar lagu ini melalui smartphone mengiringi kegiatan kami membuat kopi. Samar-samar menikmati lagu ini. Saya ingat ternyata sudah sempat mendengar lirik lagu itu sebelumnya. Sama seperti lagu-lagu dangdut lainnya, lirik dan vokal penyanyi (selain penampilannya) menjadi fokus utama pendengar. Bukan bermaksud menganak tirikan musikalitas, namun hampir semua lagu dangdut hari ini tidak mengalami banyak dinamika musik. Lagipula telinga saya telah terlatih untuk fokus pada lirik terlebih dulu, baru musik. Hal berbeda dilakukan banyak orang di luar sana dan sama sekali tidak apa-apa.

Lirik pada lagu dangdut menarik karena mengandung banyak istilah sehari-hari. Beberapa yang sering kita dengar seperti kata joss dalam lagu ‘bukak sitik, joss’, ‘bisik-bisik tetangga’, atau ‘aku mah apa atuh’. Kata-kata tersebut sangat lumrah muncul di percakapan sehari-hari, sehingga mendengar lagu dengan kata-kata tersebut menjadi akurasi tradisi tersendiri. Mari kita lihat satu contoh lirik lagu yang akhir-akhir ini sedang marak diputar:

 

Yo wes ben nduwe bojo sing galak

Yo wes ben sing omongane sengak

Seneng nggawe aku susah, nanging aku wegah pisah

Tak tompo nganggo tulus ing ati, tak trimo sliramu tekan saiki

Mungkin wes dadi jodone

Senadyan kahanane koyo ngene

 

Lagu di atas menggunakan istilah ‘yo wes ben’ atau yang berarti ‘yasudah lah biarkan saja’. Bila dicari sinonimnya mungkin orang akan cepat memunculkan kata ‘pasrah’ di benak mereka. Tapi ‘yo wes ben’ tidak terdengar terlalu pasrah sebab kita dapat merasakan amarah si biduan ketika menegaskan kata ‘yo wes ben’.

Terkait erat dengan rangkaian cerita pada lagu secara utuh emosi yang demikian itu dikarenakan suaminya memperlakukam istri sebagai pihak yang selalu salah. Di posisi tersebut, ditambah konstruksi sosial-masyarakat desa—dimana dangdut lahir dan berkembang—yang meletakkan derajat istri di bawah suami maka wajar ketika muncul istilah ‘yo wes ben’. Istri kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga yang bisa ia lakukan adalah menerima keadaan si suami dengan tulus meski keadaannya demikian.

Menjadi masuk akal jika dibandingkan dengan perempuan yang mengejar pendidikan tinggi dan memiliki dorongan untuk mengejar karir yang juga tinggi. Pendidikan dan karir mumpuni pada umumnya telah menjadi dua syarat kemandirian. Termasuk mandiri dalam memproteksi keamanan jiwa-raganya sendiri. Pernikahan yang notabene menggabungkan dua individu nyatanya sangat jauh dari kemandirian karena interaksi didalamnya sangat mutual, dengan kata lain merupakan kerja kelompok. Kerja kelompok membesarkan keturunan, kerja kelompok mencari nafkah, kerja kelompok membina rumah tangga, dan kerja kelompok menyelesaikan segala persoalan rumah tangga. Menjadi mandiri di satu sisi dan menjadi anggota kelompok rumah tangga di sisi lain mungkin tidak pernah sesederhana kedengarannya.

Terbukti banyak perpisahan terjadi karena salah satu anggota kelompok tidak bisa bekerjasama dengan baik. Peran ganda yang dimainkan istri bertabrakan dengan suami yang memiliki peran sama atau malah di bawah istri. Kemandirian menjadi paradoks sempurna ketika hal itu diharapkan ada pada diri seorang perempuan namun juga menjadi hal yang memicu perpecahan pada kadar dan situasi tertentu.

Satu lagi realitas kehidupan berhasil direkam lewat lagu kerakyatan. Jauh dari kesan mewah, malah sering mendapat stigma kampungan ternyata tidak menjadi alasan bagi musik dangdut untuk tidak jujur mengungkap kenyataan. Dengan sangat sederhana dalam lagu ini ada nilai bakti pada suami meski hati kesal, ada kepasrahan yang diusahakan (bukan memaksa) para istri untuk menunjukkan kasih sayang. Bagi saya, justru ini telah jauh melampaui lagu-lagu romantis dari Barat.

 

illustrasi: Google

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close