Putri Kecil Ayah Yang Nakal

Beberapa waktu yang lalu, aku yang bandel ini “kepergok” bertato oleh laki-laki paling kusegani di jagad raya ini; Ayah.  Melalui Whatsapp Messenger Ayah menyapaku, “Ayah sudah lihat video klip Dizzyhead (re: band ku) di Youtube. Itu tato permanen?” Telingaku berdenging, lidah terasa kelu, dan jantungku rasanya seperti berhenti sebentar. Aku yang badung dan sok berani ini, memang akan selalu kalah dengan “sentilan” Ayah.

Aku memutuskan untuk merajah tanganku kurang lebih 3 tahun lalu dan baru ketahuan oleh Ayah tahun ini (sungguh aku tidak menutupinya, memang tidak terlihat saja). Ayah bagiku adalah seorang “preman” keluarga, sekaligus “polisi”, sekaligus “hakim” yang peradilannya sangat kuhindari. Ayah muda juga lebih bandel dariku, tapi sejak jadi seorang Ayah pastinya beliau lebih bijaksana dan taat akan kepercayaan yang dipeluknya. Bukan pertama kalinya aku membelot dari Ayah. Pada usia belasan, tak jarang kami berdebat, aku kabur dari rumah, atau ke acara musik hingga batas jam malam Ayah. “Ayah itu ‘bandit’, jangan di ‘preman-in’.” Tidak akan aku lupa kata-kata Ayah itu saat aku tidak pulang dan sembunyi di rumah teman lalu ketahuan, medio aku SMA.

Aku lahir dari keluarga Muslim yang taat, keluarga menengah biasa yang tidak terbilang kolot namun tidak juga terlalu santai. Sejak awal aku bertato, aku sudah siap akan segala konsekuensi atas pandangan sekitar, termasuk keluarga, terhadapku. Namun, pada kenyataannya saat dapat pertanyaan itu di tengah malam Malang yang dingin, aku ciut juga.  Berkali-kali aku mengetik mengatur kata namun kemudian aku hapus. Akhirnya hanya jawaban “…tapi takut Ayah marah” Yang menjadi balasannya, sembari masih deg-degan dan lemas.

Nggak marah, cuma khawatir.” Kata Ayah.

Ayah kemudian menjelaskan alasannya dan benar-benar membuka pikiranku bahwa Ayah yang jauh dariku tetap sungguh memperhatikanku. Pandangan orang-orang yang masih menganggap tato itu tabu dan kupikir selama ini Ayah juga begitu ternyata tidak terbukti. Pandangannya padaku tetaplah baik dan mempercayaiku seutuhnya. Pesan-pesan yang dia utarakan pun dapat kuterima dengan baik dan membuatku semakin bangga padanya. Ayah mengkhawatirkanku disela-sela jarangnya kami berkomunikasi, diantara jauhnya jarak Jakarta- Malang. Tapi ditengah kekhawatiran itu, dia tetap mempercayai setiap langkah yang kuambil dalam hidupku. Dan doa! Dia tetap mendoakanku dan mendukungku.  Aku memang selalu punya beliau.

Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Sejak lahir aku mengambil peran kakak tertua karena kakakku, Maisarah, bertolak ke surga terlebih dahulu tanpa bertemu denganku dan adikku Rayan. Peran itulah yang membuatku dibebani tekanan dan sejak dulu kami dididik berani seperti laki-laki, namun tetap dilindungi layaknya kodrat kami sebagai kaum Hawa. Itulah yang membuatku segan padanya, kadang berlebihan menjadi takut. Fase kesal padanya juga kualami karena jiwa pemberontakku perlahan muncul. Ya, kenakalan itu pun sepertinya menurun darinya. Tapi aku tak pernah sama sekali menyesal apalagi mengutuk akan cara Ayah membesarkanku, itulah yang menjadikanku pribadi yang sekarang. Dan sejak remaja, aku adalah aku karena aku. Semua boleh kupilih dan kujalani sendiri dengan tanggung jawab yang datang seiring itu. “Ayah kecewa? Ayah nggak kecewa. Ayah bangga kalau kamu punya kehidupan yang kamu suka.”

Ayah pernah bilang, sampai setua apapun aku, aku tetap gadis kecil di mata Ayah. Terbayang kah  aku kecil yang menyebalkan seperti itu terus di mata Ayah? Walaupun berjauhan terus selama lebih dari 7 tahun, Ayahku yang sok cool ini kalau rindu suka memimpikan aku, dan di dalam mimpinya wujudku selalu aku yang anak kecil. Tampaknya aku memang masih seperti itu, hingga saat ini. Putri kecil yang selalu dia khawatirkan, dia perhatikan namun Ia percayakan dalam bahasa yang tak terucapkan.

“Ayah siap diajak sharing atau konsultasi. Ayah memang belum pasti lebih pandai, cuma Ayah lebih dulu tahu.”

Ilustrasi: boredpanda.com

Penulis adalah kontributor Srawung Media dengan akun Instagram : @hannybunch_

Twitter: @hannybunch

Blog: hanifamiryami.blogspot.com

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close