Puisi Leon Lolang – DI ATAS SAJADAH PENGERAT

Di atas sajadah pengerat
Dikunyahnya beras-beras kemiskinan
Meski mengatung di dinding-dinding kerongkongan
Teriakan bayi menjemput lapar
Dan ayah ibu tersangkut di sela-sela gigi birokrasi
Di atas sajadah pengerat
Tegak kaki tangan sedekap
Penuh elok gerak tipuan
Lincah lihai mata melihat
Gemar memantau si kotak zakat
Di atas sajadah pengerat
Ada mata terpejam
Menutup silau-silau nestapa
Meski sinar dosa menyengat sukma
Mahkotanya menyentuh tanah
Mulut tetap mengunyah
Di atas sajadah pengerat
Di atas sajadah pengerat
Salam ditebar di akhir solat
Membagi kesejahteraan dalam sekelebat
Meminta rakyat memakan kata
Lambung menabung nada retorika
Di atas sajadah pengerat
Tangan-tangan bersimpuh darah
Dipikul siku menengadah
Mengucap pinta pada Yang Kuasa
Menimbun nyawa guna wisata
Di atas sajadah pengerat
Suara angin yang menggaruk rerumputan
Semilir gelitik di dedaunan
Epos keluarga raja yang tidak dirindukan
Kaki tegak dengan arogan
Mendongak pongah bibir meraum
“Anak istriku telah menyantap kotoran!”
“Dan kerak darah untuk diminum!”
Zakat rakyat tak berfaedah
Yang melarat tak terciprat basah
Tertipu retorika mukadimah
Kotak karat telah terbuka
Bekas dikerat mulut perkasa
Sajadah pengerat tertinggal resah
Jejak kotoran tiada berpindah
Pengerat licin tak kasat mata
Sekelebat pergi tanpa suara
Tapi sajadah adalah mata
Tiada punya suara
Namun kaya akan aksara
Pengerat si penjahat
Mencuri di hadap kiblat
Tak elok masuk hikayat
Tak layak di dalam serat
Meski jabatan tertuang dalam makrifat
Kepercayaan yang tinggi
Sudah hangus tersambar kilat
Mimbar menutup ruangnya
Sajadah melipat dirinya
Salah imam membangun gumam
Dengan bilal perusak moral
Yang kuasa dikibuli
Demi menghadang kejaran bui
Jangan takut jangan getir
Pengerat kecut pasti melipir
Karena Yang Kuasa yang memegang kunci
Jangan berani membongkar pagar ilahi
Saat Dia unjuk daya
Bahkan penguasa kaya
Tak akan mampu berseraya
Tunggu saja
Jiwanya akan resah dengan teror
Pasti menggonggong penuh ucap
Karena harta yang kotor
Perlu dicuci dan diusap
Bangunlah perangkap dipinggiran sungai
Segera tangkap sebelum usai
Sergap dia sebelum terbelam
Agar tangannya tetap kuyup
Sehingga mampu membasahi tubuh di neraka jahanam
Yang terbakar oleh api yang kekal bertiup
Sehingga sajadah si pengerat itu
Dapat menikmati
Kesengsaraan si penipu
Tersiksa dan tak langsung mati
Sajadah itu bergumam
Penuh sinis penuh dengki
“Mengaku jadi imam,
Tapi sukanya mencuri”
Malang-Jakarta, 2017

Tentang Leon Nauval Lolang:
Muda, berani, memimpin. Lekat dengan sosok Leon Lolang. Semasa remaja ia adalah forward tim inti basket sekolah. Tim basket angkatan lima ini menjadi melegenda karena merupakan tim basket terbaik dari seluruh angkatan di SMP An-Nisaa’ yang pernah ada. Melihat mereka tampil mengingatkan pada permainan ala NBA All Stars dalam satu tim: Kobe Bryant dan Shaquille O Neal di Lakers, Tim Duncan di Spurs, Carmello Anthony di Nuggets, dan Michael Jordan di Chicago Bulls. Pemikirannya yang kritis mulai terasah saat mengikuti kelas debat. Alhasil, saat melanjutkan ke jenjang SMA di Kolese Gonzaga, ia pun didaulat memimpin orientasi para siswa baru, tentu setelah melewati seleksi yang sangat ketat. Beliau juga adalah adik kandung dari Oscar Lolang salah satu musisi folk yang aktif di Bandung dan Jakarta. Leon Lolang juga sedang menempuh s1 sosiologi di salah satu universitas negeri di Malang. Leon juga tergabung sebagai drummer di Hankestra, Socikoclogy dan Roller Chaser.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close