Now reading
Pedestrian Drama – Drama (2017) : Sebuah Karnaval Twisted Yang Nelangsa

Pedestrian Drama – Drama (2017) : Sebuah Karnaval Twisted Yang Nelangsa

 

Tidak banyak band post-punk lahir di Surabaya, terhitung regenerasi  band semacam ini lambat di Surabaya dengan band – band yang dapat dihitung dengan jari seperti Papa Onta Cult, Cotswolds, Baragula dan Pedestrian Drama. Dua nama terakhir nampaknya regenerasi yang paling terkini di Surabaya. Mulai muncul di tahun 2011an, Pedestrian Drama terdiri dari Ali Assegaf (vokal) Ari W(drums), Joey Christ (fretless bass), Hendrix Dria (Guitar). Pedestrian drama adalah salah satu dari sedikitnya band yang beraliran rock noir di Indonesia. Ya…, rock noir, sub genre post-punk yang “vernakular” berkembang di Australia dengan pionirnya seperti Nick Cave and The Bad Seeds, beserta para bekas anggotanya yang membuat band lagi seperti Hugo Race (The Wreckery, Hugo Race and True Spirit), Ed Kuepper (The Saints, Laughing Clowns), Rowland S Howard (These Immortal Souls, Crime and The City Solution), Anita Lane, Mick Harvey (The Bad Seeds, Crime and City Solution), dan frontman Crime and The City Solution, Simon Bonney. Rock Noir hadir di kala punk, swamp rock, No-Wave, post-punk, dan blues berkawin silang di downtown Melbourne, thanks to Rowland S. Howard dan Nick Cave yang memperkenalkannya lewat The Birthday Party, lalu setelah bubar Rowland S Howard melanjutkannya ke These Immortal Souls, dan Crime and The City Solution bersama Simon Bonney, sementara itu Nick Cave meneruskannya bersama Mick Harvey di Nick Cave and The Bad Seeds.

Terhitung hanya 3 yang memainkan jenis musik yang kental dengan blues, psychedelic dan post-punk element ini di Indonesia yaitu Armada Racun(vakum), Altarise (disbanded) dan Pedestrian Drama. Semua elemen itu bisa dinikmati sekarang di album Pedestrian Drama yang berjudul Drama yang dirilis oleh Beatiful Terror Records bersamaan dengan album dari Dandelions dan Kolibri di Black Matter vol 0.3 di Colours Pub and Resto 24 Maret lalu. Kini Pedestrian Drama yang menjadi salah satu survivor dan mungkin bisa menjadi pemain konsisten di skena indie nasional mengingat nuansa musik yang cocok dengan kondisi negeri sekarang.

Pedestrian Drama menawarkan vokal Ali yang bagaikan Tom Waits versi cemprenk, dentuman bass Joey yang smooth dan lick memabukkan dari Hendrix.  Di Album Drama ini banyak bubuhan bending gitar, kunci minor dan aransemen yang kaya. Sebut saja lagu “Cause I Don’t Know” yang seperti dibawa dalam karnaval gipsi dengan aksen mandolin nya, lalu Conversation with Lust yang disalut bass yang cloudy dan progresi waltz yang fun. Demon Inside yang dimotori dengan walking bass, benderang dengan gemerlap nuansa jazz, lalu Drama yang merupakan sebuah electric blues lamentation , menawarkan hawa nelangsa yang pekat. Hey My Lover yang sempat disangka lagu romantis ternyata sama gelapnya dan twistednya dengan Demon Inside, dengan tambahan violin yang menyayat dan back vocal yang seram Hey My Lover diakhiri klimaks yang chaos dan upbeat.  Sisa nya adalah To Die yang juga sebuah electric blues lament dan Veteran Of Joker yang menyeramkan. Semua aransemen, semua pilihan nada dan efek dan artwork album yang apik oleh Bram Christian dan Yudhistira Leon nampak begitu sempurna, namun harus dicermati bahwa album yang nampak sempurna ini harus tersandung oleh masalah grammatical error yang rata tersebar hampir di setiap lagu. Sebuah PR yang perlu Pedestrian Drama perbaiki di rilisan berikutnya.

admin

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>