PANCASILA DAN PROSES INTERNALISASI

oleh: Leon Nauval Lolang

Hari ini, tepat tanggal 1 Juni 2018 merupakan hari kelahiran Pancasila. Meskipun pada masa Orde Baru muncul perdebatan mengenai tanggal kelahiran Pancasila, tetapi Pancasila tetap kokoh hingga saat ini. Setidaknya yang terlihat dan terdengar di setiap upacara serta acara-acara inisiasi atau pelantikan. Pancasila hanya hadir dalam situasi-situasi seremonial. Pancasila hanya ada di baju. Hanya menjadi tampilan luar. Ir. Soekarno mengatakan bahwa Pancasila adalah gagasan ideology yang sangat dinamis. Sehingga diharapkan dapat terus menjadi nilai dasar bagi setiap warga negara Indonesia. Pancasila diharapkan dapat menjadi nilai hidup yang tidak hanya tampak secara lahiriah tetapi merasuk hingga batiniah. Sayangnya, yang dapat disaksikan saat ini justru banyak yang menyangsikan nilai dasar bangsa tersebut. Mengucapkan tetapi tidak menghayati. Bahkan ada yang melawan serta menolak Pancasila tersebut. Lebih parahnya, ada beberapa golongan yang secara terang-terangan menolak untuk menghormati Pancasila. Menolak untuk mengikuti upacara bendera dan melawan.

Menjadi menarik melihat pro dan kontra Pancasila dari dua perspektif. Yaitu dengan pandangan bahwa Pancasila yang ternyata gagal menjadi dinamis, atau mungkin karena setiap individu yang salah dalam menginterpretasi Pancasila itu sendiri. Dari hal tersebut bisa dilihat bagaimana proses penginternalisasian Pancasila ke setiap individu. Sejauh ini Pancasila masuk melalui pendidikan formal. Baik itu dari sekolah, maupun perguruan tinggi. Pendidikan Pancasila hadir di dalam setiap ruang-ruang kelas mata pelajaran maupun mata kuliah yang membahas hal tersebut. Setelah pergantian mata pelajaran maupun mata kuliah, Pancasila hilang dalam diri siswa. Pembelajaran mengenai Pancasila selesai hanya di dalam tatanan formalitas. Pancasila belum masuk ke dalam tatanan pembiasaan diri. Pancasila masih hadir di dalam substansi-substansi pelajaran maupun perkuliahan.

Meminjam konsep dari Byron G. Massialas, setiap pendidikan, Byron G. Massialas mengungkapkan terdapat sesuatu yang dinamakan Formal Curriculum yang menjadi sebuah dasar kurikulum yang ditetapkan oleh negara. Namun, setiap sekolah tentu memiliki sebuah value yang menjadi karakteristik sekolah dan nantinya akan membentuk karakter atau profil dari setiap lulusannya. Dari setiap value tersebut, sekolah akhirnya memiliki pendidikan-pendidikan yang diajarkan di luar dari ruang-ruang kelas maupun substansi-substansi pelajaran maupun perkuliahan.

Hal tersebutlah yang dinamakan sebagai Hidden Curriculum. Kembali membahas mengenai pendidikan mengenai Pancasila, hingga saat ini pembelajaran mengenai Pancasila masih berada dalam tatanan substansi Formal Curriculum. Pendidikan Pancasila masih berada di dalam kelas. Pancasila terpenetrasi ke dalam setiap individu, tetapi hanya sebatas pikiran. Meminjam konsep Derrida, sejatinya Pancasila dapat menjadi dekonstruksi bagi perkembangan peserta didik. Pancasila dapat menggetarkan pikiran-pikiran peserta didik serta nilai-nilai kehidupan yang dimiliki oleh peserta didik tersebut. Dari sana, Pancasila baru dapat dikatakan sebagai nilai bangsa. Sebab setiap warganya mulai mengilhami pancasila tidak hanya secara tekstual, namun substansial. Tidak juga secara mentah-mentah hanya berada dalam tatanan substansi, tetapi juga mampu teraplikasi. Setidaknya Pancasila tersebut hadir dalam tatanan nilai-nilai dasar bagi setiap warga negara Indonesia.

Dengan hal itu, Pancasila nantinya tidak hanya sekedar hadir dalam ruang-ruang kelas dan kajian, tetapi hadir di setiap sudut-sudut ruang kehidupan, di setiap sekat-sekat golongan, dan di mana-mana. Dari hal itu, Pancasila akan menjadi apa yang dikatakan Foucault sebagai panoptik bagi setiap masyarakat Indonesia dalam berperilaku. Sebab Pancasila sudah terinternalisasi dengan diri setiap individu tersebut dan menjadi nilai dasar yang membentuk norma di dalam diri sendiri. Sebab nilai-nilai dasar tersebut akhirnya akan muncul di setiap tempat. Sebagaimana orang yang mencuri. Mereka memang melakukan secara sembunyi-sembunyi, tetapi konsep Tuhan ada di mana-mana membuat orang itu tetap yakin bahwa mereka tidak dapat sembunyi dari Yang Maha Melihat. Satu hal yang perlu diingat, Ketuhanan juga hadir di dalam Pancasila.

Leon Nauval Lolang

Malang – 2018

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close