NGUSIK: Arie “Omen” MonoHero

"Kami ada bukan (hanya) untuk bersenang-senang"

Teks oleh: Randy Levin Virgiawan a.k.a Kempel

Saya sudah mengenal mas Omen dari sejak masih menjadi mahasiswa baru/maba. Di kampus, ia memang sudah sangat dikenal sebagai music man; vokalis, gitaris, kadang ngedrum dan juga seorang komposer. Dulu sempat juga menjadi manajer band.

Tapi karier bermusiknya bisa ditarik jauh sebelum itu.Ia sebenarnya merupakan anak “rock”, sering ikut festival dan sering juara sebelum ia banyak bergelut dalam musik pementasan atau teater saat menginjak perkuliahan.

Sekarang ini, ia lebih dikenal sebagai Omen dari MonoHero, unit psychedelic ambient asal Malang. Sebelumnya, ia tergabung dalam grup folk, Harmoniora lalu “pensiun” karena kebijakan Harmoniora untuk “meregenerasi” para personelnya. Lalu pada akhirnya bersama Alfian “Kebeb” bergabung dengan MonoHero yang awalnya merupakan proyek solo MF Wafy.

Simak perbincangan singkat saya dengan Omen yang membahas banyak hal. Mulai dari kehidupan, referensi musik sampai uneg-uneg pribadi, sedikit banyak curhat personal hingga pandangannya mengenai musik di kota yang menaungi karirnya. Cekidot!

(K: Kempel, penulis; O: Omen)

K:        Oke, jadi, apa yang membedakan treatment musik seorang Omen dalam keperluan pentas drama, band-band’an Rock dan MonoHero?

O:        Yang jelas kalau di MonoHero itu harus deep ya. Dalam artian harus benar-benar fokus supaya keluar semua yang ingin aku ceritakan kepada penonton. Kalau cuman nyanyi atau teriak-teriak aja tanpa persiapan gitu, jadi kayak, “ih lapo seh aku iki nang panggung”. Karena MonoHero sendiri bagiku adalah sarana untuk berbagi segala pikiran, kegelisahan dan hubungan antara Aku, Semesta dan Tuhan.

Kalau jadi vokalis rock, itu lebih ke arah pemuasan diriku yang lain ya. Kari munggah (tinggal naik panggung) aja wes. Pemuasan diriku untuk “tampil”, atau kasarannya “yo iki lho aku, arek band”, “cek ketok keren”. Hahahahaha (tertawa), tapi ya itu dulu. Meskipun kadang kangen juga. Ayo Pel (penulis), rock-rock’an maneh, aku bass’ono!

Sedangkan kalau membuat musik untuk pementasan atau teater, itu ‘kan sebenarnya tidak sengaja dan gak ada niatan juga sih. Tapi ya kadang semesta itu memang sudah mengatur segala hal ya jadinya kecemplung juga ya. Saat kuliah itulah awal buatku dalam mengkompos musik pementasan, tepatnya di grup teaterku dari Sastra Inggris, namanya Maestro English Theater. Itu sekitar tahun 2010 kalau tidak salah, dan dalam bentuk sebuah drama musikal. Setelah itu mulailah naik ke level fakultas dengan bantu-bantu Sastra, teater lain, proyek’an SMA dan berbagai macam lainnya.

K:        Nah, ‘kan yo sampean bergerak nang banyak dimensi seperti tadi itu. Tapi sebenarnya nih ya, kalau dioncek (dikupas) influens dasarnya sampean sendiri apa? Maksudnya, benang merah dari semua musik sampean. Monggo.

O:        Dewa 19. Aku sangat ngefans sama mereka dan mereka adalah influens langsung dan mungkin terbesar bagiku, terutama dalam style vocal. Ari Lasso itu emang keren dah.

Pernah itu saat Dewa 19 reuni pertama di Malang, kalau gak salah tahun 2014 di Graha Cakrawala, aku rela-rela’in ngehabisin jatah makan seminggu buat beli tiketnya, hahahaha (tertawa). Wuh, beneran itu Pel. Aku gak karu-karuan makan seminggu itu gara-gara saking ngefans-nya sama mereka.

Selain Dewa 19, aku juga suka sama pop-pop Indonesia kayak Peterpan dan D’Masiv. Tapi Jikustik yang katanya teman-teman musiknya sulit dan challenging malah gak begitu cocok ya. Terus di kuliah ketemu sama Foo Fighters dan berbagai macam musik lainnya.

 

K:        Nah, influens’e sampean sendiri yang tadi itu, juga dibawa ke dalam MonoHero?

O:        Nah anehnya, enggak ada. Menurutku.

 

K:        Secara gak sadar…mungkin?

O:        Mungkin iya, sadar tidak sadar jelas terbawa. Namun proses kreatif aku di MonoHero itu lebih ke arah gini,aku merespons musik yang dicipta oleh mas Wafy (gitaris dan komposer). Ya terkesan natural saja gitu komunikasinya.

Namun semakin ke sini juga kadang semakin mikir ya. Kayak, Wih musikku wes mulai dikenal lebih banyak orang”. Kudu mikir sisan kadang, jadi ya mau gak mau harus diakui gak “seluwes” dulu.

Tapi ya itu mungkin perkembangan ya, Pel.

K:        Terus setelah dikenal sebagai bagian MonoHero, karir sebagai pemusik pentas’e dewe yakopo?

O:        Yang jelas akan terus berlanjut ya. Malahan ada planning untuk membuat sebuah drama musikal awal tahun depan. Doakan saja sama minta bantuannya, hehehe.

 

K: Lanjut ke hal yang agak serius.

Akhir-akhir ini aku sering menjumpai tweet-tweet sampean seng kayak menyuarakan kegelisahan-kegelisahan sampean gitu. Lalu pergolakan di dunia dan semacamnya.

Sebenarnya apa sih kegelisahan-kegelisahan sing sampean maksud iku dan apa latar belakangnya? Atau pengalaman spiritual yang pernah dialami sebelum-sebelumnya.

Soal’e gini, kadang aku atau mungkin orang lain yang awam ‘kan ngelihatnya, “Lapo seh mas Omen iki? Kok paranoid men.”

O:        Latar belakang dulu ya.

Ini akan panjang Pel. Jadi gini.

Aku ini kecilnya dibesarkan di desa, di Lamongan. Ya selayaknya anak desa gitu. Main di kali, layangan dan sebagainya, meskipun tanpa bapak ibu dan lebih dengan kakek nenek ya. Bapak dan ibu aku kerja. Jadi ya normal banget, straightforward sekali hidupku layaknya anak kecil yang tumbuh biasa.

Pas SMP baru pindah ke Kota Bangil, hidup sama bapak ibuku. Di situlah karir bermusikku dimulai. Jadi vokalis hadroh. Terus main ke sana kemari, kenal dengan suasana kota dan sekelilingnya. Dan juga diajak band-band’an rock dan menyadari bahwa aku “bisa” nyanyi. Itu (main rock-rock’an) ada dalam periode SMP kelas dua sampai SMA akhir. Biasanya ya bawa’in lagu-lagu Kotak, Power Metal sama Funky Kopral.

Ya seperti itu layaknya anak-anak festival ya, aku sering main ke sana kemari, kadang juara juga. Di Malang, di Surabaya. Pernah itu mbolos sekolah demi ke Surabaya, modal stik drum aja dan akhirnya hilang tuh stiknya, hahahaha (tertawa). Namun alhamdulilah menang juara satu.

Nah, background dari kecil sampai SMA itu akhirnya dilebur dan dipertemukan dengan pengalaman pas kuliah.

Waktu kuliah, tambah gak karu-karuan, ketemu wong sembarang kalir (bermacam-macam). Ketemu banyak temen, terus referensi yang banyak lagi di luar influensku; ketemu musik tradisi, terus koyok Dream Theater seng aku gak pernah bisa paham dari awakmu (saya, penulis) dan banyak lagi. Seng jelas juga perkenalan kepada lagu-lagu dengan lirik bahasa inggris ya. Karena sesungguhnya aku dulu gak suka lirik bahasa inggris gitu, gak bisa tersampaikan selepas bahasa Indonesia. Dulu itu tapi.

(Menyeruput kopi dan menyalakan rokok; obrolan tertunda selama kurang lebih 1 menit)

 

K:        Lanjut, mas.

O:        Nah di kuliah itu ‘kan aku ikut organisasi. Jadi sering ikut bikin event dan sering jadi LO (liaison officer) narasumber atau seniman yang diundang ke acara.  Pernah bertemu dan kenal personal dengan seorang penari, terus dibilangin tentang perform dan berbagai macam hal tentang itu. Belajar juga sih akhirnya buat menambah kualitas stage performance-ku.

Namun perkenalan yang benar-benar “menampar” saya adalah dengan seorang seniman. Sebut saja seniman S sekitar tahun 2014. Dia dikenal orang banyak (Omen menolak menyertakan namanya dalam interviu ini). Awal perkenalannya waktu aku di Semarang. Jadi, pacarku yang dulu (mantan sekarang) ngefans banget sama orang ini, terus dia pengen ketemu sama orang ini pas dia lagi kasih materi di Kota Semarang. Akhirnya aku ikut sama dia ke Semarang dan akhirnya kenalan dengan seniman ini.

Setelah kenalan di Semarang, ternyata seniman ini mau main ke Malang. Akhirnya aku yang jadi semacam kayak LO pribadinya gitu-sama mantanku itu. Ya tambah deket lagi, tambah sering bertukar pikiran  dengan seniman itu. Terus sering juga diajak berkeliling bertemu seniman-seniman lain, belajar banyak perspektif dan latar belakang membuat saya yang sekarang kelihatan gelisah gitu.

 

K:        Hmmm, iki sek gurung menjawab sih (Ini sebenarnya belum menjawab sih). Contoh?

O:        Semisal gini, pernah satu waktu aku diajak di sebuah forum diskusi oleh seniman S itu. Di sana sudah berkumpul tuh ya, dari latar belakang agama, pecinta tembakau sampai orang-orang intelektual. Berdebatlah mereka tentang “keberpihakkan”, dan saya sudah kayak orang linglung. “Iki ngomong opo seeeeh ?” (Ini ngomong apa semua sih?). Ternyata kok ya ruwet ini dunia dan orang-orangnya kadang-kadang. Entah emang ruwet atau otakku aja yang gak bisa menjangkau bahasa mereka semua itu, hahahaa (tertawa).

Namun salah satu yang paling aku ingat itu waktu diajak berkunjung ke rumah seorang seniman. Dia sangat Jawa banget, terlihat kejawen gitu ya rumah beserta seisinya. Lalu saat di tengah perbincangan, aku minta izin ke kamar mandi seniman tersebut. Nah, pas mau nyampek di kamar mandi itu, ada ruangan khusus seperti kamar di samping kamar mandi. Isinya ya sesajen, barang-barang tradisional dan sebagainya gitu, Wuuuuuuh, jaaaan (dengan ekspresi tertegun)  kaget aku, Pel. Namun aku berusaha diam saja dan lanjut ke kamar mandi.

Begitu keluar dari kamar mandi, ternyata si empunya rumah itu sudah menunggu di depan ruangan tersebut. Diajaklah aku ke dalam, terus diperlihatkan isi ruangan itu secara penuh. Ya barang-barang antik, keris, sesajen dan sebagainya ada di situ. Lalu beliau memberi nasihat yang saya ingat sampai hari ini.

“Mas Arie, saya ini beragama juga mas. Biarpun kelihatannya seperti ini, tapi saya ini juga percaya Sang Pencipta. Kalau bisa, jangan langsung anggap saya syirik atau menyekutukan Tuhan. Bukan apa-apa, tapi inilah cara saya untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta.”

Di situlah aku merasa, “Wiiiih (dengan ekspresi heboh tipis-tipis), iya ya. Jangan mudah menghakimi seseorang, terutama soal keyakinan masing-masing”. Setiap orang punya cara untuk berhubungan dengan penciptaNya, apapun keyakinan dan cara mereka. Begitu.

Terus ada lagi berkenalan dengan seseorang yang konon jadi juntrungan para politisi nasional. Berdebat dan berdiskusi masalah negara Indonesia dan masa depannya, serta masih banyak lagi sampai bertemu orang-orang yang literally telah memprediksi kejadian-kejadian di Indonesia dengan benar dan akurat.

Di situlah aku sadar bahwa memang terkadang ada beberapa hal yang “tidak sampai nalar kita”, seperti pengaturan-pengaturan skenario politik, kondisi bangsa dan dunia, sampai “drama” di balik drama yang biasa kita lihat di layar kaca itu. Bener-bener wes Pel, jangan mudah percaya dengan yang bersliwer’an di media massa gitu.

Pada satu titik, kita bisa berargumen bahwa memang ada invisible hands di sekeliling kita yang mungkin tidak masuk akal. Namun itu ada dan nyata. Isok pecah ndasku (bisa pecah kepalaku)

Ngeri Pel, temenan (mengerikan Pel, beneran).

K:        Terus sampai akhirnya gabung ke MonoHero sendiri? Ada gak lanjutan-lanjutan dari pengalaman itu?

O:        Nah, waktu-waktu setelah itu aku bertemu sama Mas Wafy, terus mendengarkan materinya yang berjudul “Escalating Wanderlust”*, sekitar tahun 2015 akhir. Langsung seketika itu teringat segala proses yang udah aku sebutin sebelumnya. “Wiiiiih, yo iki musik seng merangkum flashback dan pengalaman hidupku dari kecil sampai sekarang ini”. Singkat cerita, akhirnya aku masuk ke MonoHero dan berproses di dalamnya.

Tentu saja kejadian-kejadian dengan MonoHero itu bisa dibilang merupakan kelanjutan dari cerita-cerita tadi. Pernah ya suatu ketika ketika kami main di Jogja, aku pas waktu itu saking terbawa musiknya mas Wafy, tiba-tiba pas membuka mata itu sekelilingku jadi PUTIH. Literally putih, semua penonton hilang, tidak ada panggung dan seisinya. Dan itu berlangsung beberapa detik saja. Ketika aku tersadar dan membuka mata, aku langsung ngelihat tangan mas Wafy sudah berdarah-darah saat menggenjreng guitalele.

Ketika turun panggung, aku tanya sama mas Wafy, “Mas, sampean tadi juga merasakan ya?” Dia jawab, “Iya, Men”. Meskipun ia tidak bercerita detailnya- mas Wafy itu orangnya cenderung introvert, aku tahu dia merasakan apa yang aku rasakan juga. Sinkron. Sungguh kejadian yang luar biasa bagi kami berdua, saat itu.

Lalu pernah juga waktu aku dulu sering nginep di MonoHero Studio, rumahnya mas Wafy, aku bermimpi hal yang sama terus menerus selama kurang lebih seminggu. Intinya dalam mimpi itu ada orang, dan dia melihat aku terus. Aku gak pernah berani buat ngikutin orang itu. Sampek takut-takut sendiri buat tidur, karena mesti selalu bertemu orang yang sama, orang yang aku gak berani lihat mukanya langsung di mimpiku. Itu terjadi kurang lebih selama seminggu.

Pada akhirnya aku sendiri seng gak tahan, kayak merasa dihantui i lho. Akhirnya pas satu malam mimpi ketemu orang itu lagi, aku niat tak parani (aku datang’i) wes. Aku ikut’in wes dalam mimpi itu pas dia ngajak aku jalan-jalan, tapi entah kenapa dia gak nunjukkin mukanya ke aku.

Pas akhirnya aku tiba di sebuah ruangan yang putih gitu dan ngelihat mukanya. Dan koen eruh sopo wong iku!? (dengan nada histeris). Ternyata orang itu DIRIKU SENDIRI! Kuaget gak karu-karu’an aku Pel. (dengan ekspresi histeris)

Wajah’e iku jan wajahku dewe, tapi perawakane lebih kekar, lebih besar, gagah, angkuh dan beda wes. Terus dia menatap ke aku dengan tatapan yang tajam dan benar-benar seram. Aku sampai gak bisa nafas dan mau lari. Tapi gak bisa, kayak kakiku ke-iket rantai. Teriak sekencang-kencangnya itu aku, pokok mboh piye carane kudu tangi aku (Pokoknya biar bagaimanapun caranya, aku harus bisa bangun)

Seketika itu aku bangun, menangis, menggedor-gedor pintu mas Wafy hingga perlu ditenangkan oleh mas Wafy sendiri. Tapi ya setelah kejadian itu sudah gak mimpi gitu-gitu lagi. Gak tahu ya itu pertanda apa.

Maksudku, kayak banyak sekali kejadian-kejadian yang aneh gitu semenjak pertemuan dengan seniman itu, diskusi dengan banyak orang sampai sama MonoHero.

Dan itu semua, benar-benar merubah hidupku.

 

K:        Nah, kalau mau mengingat-ingat segala kejadian kayak tadi itu, apa yang bisa sampean tarik buat konteks hari ini?

O:        Jatuhnya ke arah sekarang ya. Hari-hari ini setelah banyak berproses dengan MonoHero, aku seketika teringat dengan kejadian-kejadian yang aku alami di atas; bertemu orang-orang hebat, berbagi pengalaman, pandangan-pandangan, sampai hal-hal yang tidak masuk akal yang aku ceritain tadi.

Maksudnya, kayak yang sudah kubilang, MonoHero itu adalah “rangkuman cerita hidupku secara musikal”. I mean, ya di situlah aku bisa berbagi kesemuanya itu.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku sangat mencintai MonoHero. Tapi mungkin juga pendapatku ini berbeda dengan mas Wafy atau mas Kebeb.

MonoHero ada untuk sebuah alasan. Tapi kami sendiri masih belum tahu dan mencarinya hingga saat ini.

Namun satu yang pasti, ia ada bukan untuk sebatas ‘bersenang-senang’.

 

K: Ckckckck, asik asik. Lanjut ke lain topik ya…

Selama berkarir musik sampai sekarang, baik dengan MonoHero atau pementasan, hal apa saja yang sampean dapatkan dan sampean merasa sangat bersyukur akan hal itu?

O:        Ya yang jelas aku gak nyangka aja bisa sampai seperti ini. Ke mana-mana, bertemu dengan banyak orang, kolega baru, bermain di luar kota baik tour maupun diundang. Pada titik ini aku sangat bersyukur akan hal-hal seperti yang aku sebutin itu.

 

K:        Kalau pandangan mengenai musik di Malang sendiri? Terutama untuk menyambut 2018.

O:        Band-band yang baru; baik yang benar-benar baru ataupun yang “baru aku tahu” ternyata bagus-bagus ya. Kayak semisal aku suka Intenna, ISIL (I’m Sorry, I’m Lost), Beeswax, Crimson Diary sama itu lho, Dizzyhead- kalau Dizzyhead mungkin lebih karena sound-nya yang relatif tertata ya.

Kalau pandangan tentang musik Malang sendiri, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan sih sebenarnya.

Apakah musik di Malang pada tahun 2018 akan seperti ini saja; rilis single, video klip, tour, album, manggung, muncul band-band baru dengan proses yang sama dan terus menerus berlanjut seperti itu?

Maksudku, akankah ada hal baru dari para musisi di Malang selain dari kegiatan seperti di atas?

Ataukah ternyata konsep “band-band’an” itu sendiri (mungkin) memang hanya sebatas melakukan hal-hal tersebut secara terus menerus?

Yokpo Pel, menurutmu?

 

K:        Yo gak tahu aku mas. Kita lihat saja nanti, hehehe. Lak iki mas, harapan buat musik di Malang, sebagai salah satu pelakunya.

O:        Ini juga akan aku jawab dengan pertanyaan.

Kapan ada “Festival Musik Malang”?

Maksudku,sebuah festival musik yang menampilkan para artist Malang, terlepas dari genre, skena, perkumpulan dan organisasi; semua terlibat secara menyeluruh dan yang jelas, tanpa mengundang band luar sebagai bintang tamu seperti acara kebanyakan.

Tentu saja ini membutuhkan kebesaran hati masing-masing pelaku ya, kalau menurutku. Gimana caranya khusus untuk event ini kita bisa bekerja sama mewujudkannya. Coba lihat saja, media-media di Malang juga sudah relatif tertata ‘kan? Band-bandnya juga berkualitas baik. Aku yakin kita bisa kok, jika tidak sekarang mungkin suatu saat nanti. (Berbicara dengan gaya sedikit menggebu-gebu layaknya kampanye)

 

K:        Wiiiih, aku sempet kepikiran gitu juga sih, sebenarnya. Sebuah festival musik di mana pengisinya band-band Malang sendiri, dan dibayar. Tentunya dengan nominal yang layak ya.

Tapi lak jare sampean dewe, apakah itu berarti harus membuat sebuah komunitas seperti “Organisasi Musik Malang” atau sebagainya?

O:        Enggak, Pel. Kita akan tetap berdiri sendiri-sendiri saja, gak masalah. Kan konsepnya “kerja sama”.

Hanya, seperti yang aku bilang tadi, khusus event ini, kita agaknya harus berbesar hati untuk bekerja dengan sesama musisi atau band se-Malang. Tidak harus dengan mendirikan sebuah perkumpulan lagi, biarkan saja keanekaragaman itu kayak menjadi mozaik di bidang musik Malang.

Bayangno ya Pel, Woodstock versi Malang. Uasik ‘kan ya?

 

K:        Hmmm, iyo seh mas. Kadang “penyatuan” hal yang emang udah beda dari sononya itu kesannya utopis, sih, hehehe.

O:        Nah, yo iku. Aku setuju sisan.

Tapi yang jelas ya Pel, aku gak akan ngelakuin ini sendirian, at least gak buat sekarang.

Maksudnya, aku jadi EO-nya terus mengatur ini itu, hehehe. Aku mau rehat dulu dari dunia per-event’an sehabis pameran** kemarin yang emang bikin aku capek dan benar-benar “habis” istilahnya.

(lalu memberikan informasi off the record)

 

K:        Oke, lanjut ke topik lain. Pengalaman yang didapat karena suka nge-tour?

O:        Kalau dari tour, itu..

“Ternyata hidup dari musik itu BISA.”

 

K:        Detailnya?

O:        Ya semisal, nggarap musik pementasan, terus MonoHero yang alhamdulilah sudah kasih uang jajan kadang-kadang, terus kalau kamu menulis gini ya.

Mungkin gak sekarang, tapi ‘kan insyaallah bisa kalau emang konsisten. Itu menurutku sih, Pel.

 

K:        Nah, semisal nih. Ada orang minta nasihat sampean perkara mau band-band’an, kira-kira apa saja yang sampean omongkan ke mereka?

O:        Sulit ya, karena sepertinya jarang sekali ada orang datang terus minta nasihat ke aku kayak gitu, hehehehe.

Aku yo gak merasa kompeten juga sih untuk memberikan wejangan-wejangan kayak gitu.

 

K:        Ya semisal aja, ada orang datang gitu ya. “Mas Omen, aku pingin band-band’an ki. Yokopo ya enak’e?”

O:        Hmmmmm, yang jelas pertama kali aku akan membahas tentang referensi musik, sound dan sebagainya. Seperti semisal membandingkannya dengan band luar negeri gitu. “Eh, band luar negeri udah kayak gini lho”, atau “lihat’en band ini deh, mereka gini lho” dan sebagainya.Liat’en itu lho, OK GO videonya udah kayak gitu, dan sebagainya.

Maksudnya ada banyak sekali hal baru di luar sana, dan sayang sekali kalau band-band di sekitarku hanya mengulangi apa yang sudah dilakukan oleh band lain. Semisal ya, bandmu dewe gitu,. Sound-nya gimana, terus apa nilai “bedanya” dengan band-band sejenis setidaknya dalam lingkup Malang sendiri? ‘Kan gitu.

 

K:        Rencana ke depan?

O:        Melepaskan kegalauan.

Mungkin salah satunya dengan “kawin” (menikah), hahahahaaha…(tertawa, menghisap rokok)

 

K:        Pesan-pesan dong, buat kami semua, hehehe.

O:        Hidup itu imaji. Nyata adalah mati.

Maka dari itu, jangan berhenti berimajinasi.

Jangan melupakan beberapa hal yang sebenarnya “manusiawi”, tapi jangan jadikan itu pemakluman untuk berbuat tidak baik.

———————————————————————————————————

Interview dilaksanakan pada tanggal 30 Desember 2017 di Kafe Pustaka UM.

  • Penulis sengaja tidak mengubah beberapa kalimat dalam bahasa Jawa, biar terlihat greget-nya.
  • Oh iya, tidak grammatically correct.

*”Escalating Wanderlust” merupakan salah satu trek yang ada dalam EP MonoHero bertajuk “Shimmy & Shimmer”.

**Pada pertengahan tahun 2017 kemarin, Omen menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk “Menjagal Kewarasan: Pameran Tunggal Nauval Firdaus” di Eks Pabrik Keramik Dinoyo, Malang.

Pranala luar:

  • Ulasan MonoHero di Qubicle:

https://qubicle.id/story/monohero-gelap-namun-penuh-warna

https://www.warningmagz.com/monohero-syiar-perjalanan-psikedelik-spiritual/

 

-KMPL- (@randy_kempel)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close