RUMAH OPA presents “NAVICULA INTIMATE NITE”

Navicula

Tepat pada hari rabu pukul 20:45 lagu “Dead True” dari album Tatap Muka menghangatkan dinginnya Kota Malang dengan musik beraroma Seattle. Ya, dia adalah Navicula yang meski bermain dgn format akustik, salah satu pionir grunge Indonesia ini selalu memberikan suguhan yang fresh dan bersahabat dengan fansnya sekaligus memberikan informasi terupdate tentang situasi yang terjadi di negeri tercinta ini.

Pada saat jeda sebelum lagu berikutnya Robi mulai berinteraksi dengan melemparkan sebuah pertanyaan kepada penonton disana “Apa yang harus dibanggakan oleh negara tercinta kita ini?”, penonton pun sahut-menyahut ramai dari tempat duduk mereka, kemudian dari segala jawaban itu dirangkai oleh Robi sebagai bhineka tunggal ika, kemudian langsung disambung
dengan lagu “Busur hujan” dan pada baris awal lagu “Warna warni indah menjadi satu” serentak koor penonton mengiringi bait reff itu dengan penuh semangat.
Robi pun seolah menjadi konduktor dari atas panggung dengan keluwesan tangan dan tubuhnya mengajak para penonton untuk semakin keras meyuarakan itu “agar didengar oleh “jokowi” kelakar Robi.

Antusiasme para fans navicula di kota Malang tergolong masif, Rumah Opa penuh sesak dan riuh dengan setting panggung yang secara visual terlihat soft dan minimalis malah memberikan keintiman tersendiri bagi para penikmat musik Navicula. Sound yang selalu perfect membuat Navicula selalu memberikan suguhan yang menarik untuk dinikmati. Suasana yang tenang hingga beringas itu terasa ketika mereka membawakan lagu “Jiwa mukti” yang diambil dari album Alkemis yang sempat di rilis oleh major label dan akhirnya merekapun “pisah ranjang” kelakar Robi. Yang membuat para penonton tenang menikmati perhelatan ini karena menurut Navicula, “jiwa mukti” itu adalah surga di dunia, kemudian dilanjut dengan “Aku Bukan Mesin” seketika suasana di rumah opa pun menjadi beringas dan para penonton dibagian belakang langsung berteriak dan menggoyangkan badannya diatas kursi, diantara setting kursi yang tertata rapi.

Latar belakang mereka menolak tentang pembangun pabrik semen di Indonesia itu terungkap secara logis diatas panggung. Navicula membagikan sebuah informasi mengenai tutupnya pabrik semen dan batubara di china, ada 33 pabrik semen dan batu bara dicina. Pemerintah cina berhasil menutup 32 pabrik beberapa tahun yang lalu, dan ditahun ini hanya tinggal satu pabrik yang akan ditutup, dan sialnya industri itu berpindah ke Indonesia. Lalu Robi bertanya “Apakah kalian mau jika industri-industri itu berpindah di kota kalian ini?” para penontonpun langsung menyahut “tidak” kemudian Navicula menjelaskan tentang pendapatnya mengenai pembangunan. Mereka setuju dengan adanya sebuah pembangunan namun harus disesuaikan dengan kondisi alam, manusia, budaya, dan masih banyak lagi hal-hal yang harus dipertimbangkan agar menjadi satu kesatuan yang tidak merugikan bagi kehidupan di negara ini. Sebuah bahan perenungan bagi teman teman yang datang ke acara itu kemarin.

Lagu Kartini pun dinyanyikan sebagai suport mereka terhadap ibu – ibu yang berjuang di Kendeng. Lagu Kartini merupakan lagu penutup yang ada di set list mereka. Namun seperti biasa karena kerinduan fans Navicula yang mendalam untuk melihat perform band secara langsung, maka navicula mengobati kerinduan para fansnya dengan encore dua lagu lagi yang diambil dari album Salto yaitu “Over Konsumsi”. Dengan beat yang groovy, Navicula mengajak para penonton berjoget diatas kursi dan bernyanyi bersama, kemudian langsung disambung dengan lagu “Metropolutan” sebagai penghujung acara “Navicula Intimate Nite” persembahan Rumah Opa ini.

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close