Musik Dan Gap. Apa Kata Dankie?

Teks oleh WSanavero

Dadang SH Pranoto yang akrab dipanggil Dankie ini adalah seorang musisi yang memiliki passion bermusik yang multitasking. Ide kreatifnya selalu berkembang, dengan keterlibatannya bersama grup musik seperti Navicula, juga salah satu penggagas Dialog Dini Hari, sampai pada project Solonya yaitu Pohon Tua. Dengan notabene background musik ketiganya yang jelas-jelas berbeda genre.

Multitasking yang dimilikinya membuat tim redaksi ingin mengusik Dankie untuk merespon soal Gep atau kebiasaan berkelompok di dunia musik. Di sela-sela istirahat Dankie, tim redaksi berhasil membuat Dankie bersedia untuk diajak Ngusik (Ngobrol Musik) bersama Srawung Media.

Halo Mas Dadang, sedikit kurang sehat ya mas?

Iya nih. hm

Mas, ada satu topik nih yang sepertinya seorang Dankie juga harus bicara soal ini. Misalkan ada fenomena ‘Gap’ atau perselisihan dari antar band. Bagaimana menurut kamu ?

Wah, kalau ngomongin ‘gep-gep’ gitu, itu hal yang konyol sebenarnya. Karena ada dasarnya papa yang kita buat, sebagai musisi karya itu akan bicara sediri. Jadi posisinya musisi sudah nggak bisa berkuasa lagi. Karena kalau udah karya yang bicara sendiri, berarti yang akan memberi respon adalah orang yang mendengar.

Musisi sudah bukan lagi Tuan ketika karyanya sudah berbicara, seperti itu?

Iya. Jadi konyol aja kalau sebagai insan musiknya yang berantem, atau siakat-sikut, gep-gep an. Itu bodoh namanya.

Emm, meskipun itu band atau musisi yang secara genre berbeda gitu?

OH IYA! Gini deh, sekarang teorinya musik nggak ada yang sama. Maksudnya kalau seandainya ada yang mirip pasti tetap beda, apalagi ngomongin genre, itu udah jauh banget. Jadi apa fungsinya ribut-ribut ya to? Karena juga masalah berhasil atau enggak pun, masalah masing-masing. Terus kalau musisinya ribut, pendengar bisa apa?

Wahhh bisa begitu ya mas?

hehe iya jadi hal-hal yang seperti itu aku ndak perduli. Karena yang aku bilang tadi, musik, karya, akan bicara kok atas namanya sendiri. Sekarang kamu bayangin aja, misalkan skupnya Malang gitu. Malang seberapa sih besarnya?

Besar sih mas, hehe

Sekarang kalau ngomongin ‘Gep-gep’ an gitu, gimana rasanya nanti suatu kali kalian manggung, si audience itu bukan masa-nya kalian, bukan kawan-kawan kalian yang nonton, berarti apa? Ya karena musikalmu yang sudah bicara.

Mereka datang tanpa mengenal seorang Dankie, tadinya. Disitu ya mas letaknya bahwa ‘musik yang sudah bicara’.

Nah, ya begitu kira-kira. Keluarlah sekali, keluar dari ruang lingkup biasanya. Kamu kalau berdiri dalam suatu komunitas dan sudah bisa berdiskusi dengan komunitas tersebut, tapi kamu masih diam dalam satu komunitas itu, mau jadi apa? Sedangkan komunitas lain banyak. Yang ada kamu harus jalan keluar dari ruang lingkupmu itu.

Tapi kalau mislkan begini, dari genre sudah beda, sudut pandang pasti beda, sampai hal sekecil Style Fashion pasti berbeda-beda. Akhirnya tidak ada sebuah ruang yang sama untuk saling sapa, to mas? Mungkin bukan soal sikat-sikut, tapi karena tidak ada saling keperluan. Saling dingin, akhirnya gep-gep an. Gimana tuh mas?

Ya berarti disiplin ilmunya tentang musik kurang. Nggak ada kok cerita di luar sana berantem itu. Tapi aku jadi bingung bahasanya, hehe kalau kejadiannya begitu aku pengen nanya, mereka yang seperti itu apa yang mereka baca? Apa yang mereka dengarkan? Kok bisa genre ini-itu dingin-dinginan. Hehe

Kalau nanti kamu ke Australi, atau datang ke Amerika. Itu semua jadi satu. Kamu mau nonton apa, oh ada musik rock disini panggung yang itu, wah ada folk disana, pindah lagi kesana. Terus apa yang mau diributin? Karena pada dasarnya setiap musik, setiap genre punya pasarnya masing-masing.  Kamu nggak bisa ngelawan ini hehehe

Meskipun mas Dadang yang hari ini juga bagian dari Navicula dan Dialog Dini? nggak peduli itu ya?

Nggak peduli lah. Karena jelas-jelas genrenya udah beda; beda genre, beda passion. Karena it’s all about kreasi, tentang kreasi saja. Kalau masih pada gep-gep-an itu berarti masih indonesia berapa tahun yang lalu, udah nggak penting itu. Hari ini musik Industri berat, kalau masih ada yang ribut soal gep-gep-an beda genre atau sesama genre habis sudah sebagai musisi yang seperti itu. Apalagi setiap minggu dalam setahun, ada ribuan band baru muncul di Indonesia atau Internasional. Kalau kita masih ribut masalah seperti gitu, tapi tidak mikirin kreasi,  tidak melihat sensitivitas isu sosial yang tinggi itu sama dengan menjadi orang-orang EGOIS! Kenapa aku bilang egois, karena mementingkan diri sendiri sedangkan banyak informasi yang harusnya kita share lewat lagu. Ngono, gitu lho!

Satu lagi nih mas, jika fenomena tersebut akhirnya mengerucut kedua faktor ini, Bisnis atau Idealis?

Idealis itu Bullshit.

Jadi, menurut mas Dadang dari semua hal tersebut apa yang seharusnya menjadi underline?

Sekarang yang harus dilakukan adalah bikin sesatu dulu. Bikin karya dulu, berbicara ndak karyamu? Ngono.

Mau genrenya apa kek. Terserah. Hehe

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close