Now reading
Menikmati Presentasi Psikis Di Tengah Lautan Tongsis.

Menikmati Presentasi Psikis Di Tengah Lautan Tongsis.

“Kapan terakhir kali anda menonton konser tanpa membawa tongsis untuk pamer dan selfie demi mendapat pengakuan bahwa anda adalah anak kekinian”

Menjamurnya tongsis dan “mata ikan” pada konser-konser yang “seharusnya” intim nyatanya bukan sebuah pemandangan baru lagi. 3 tahun yang lalu, saat saya melihat Payung Teduh, belum ada gerombolan anak hype dengan dandanan modis dan hijaber-hijaber pemuja kata “senja” yang semena-mena merangsek ke depan panggung demi selfie TEPAT DI DEPAN mas Is. Bilapun ada, pasti sudah dicap “labil”, “ababil” atau apalah itu oleh penonton yang kebanyakan memang datang ke situ untuk menikmati konser mereka.

Namun, standar kewajaran kini sudah bergeser. Pemandangan seperti itu sudah sangat umum terjadi, bahkan cenderung “dibiarkan”. Para penikmat musik yang memang datang untuk memanjakan mata telinga dan hatinya harus rela beradu ketinggian dengan lautan tongsis dan Android di depan dan belakangnya. Pun, belum ditambah dengan polusi suara yang ditimbulkan tatkala beberapa orang memilih Instagram Live dan macak jadi MC dadakan biar terkesan hype.

Usaha dari penyelenggara? Alih-alih meminimalisir hal tersebut, salah satu perusahaan tembakau yang “usaha sampingannya” bergerak di bidang gigs-gigs’an malah sekarang membuat kompetisi rekam-merekam artist yang sedang perform di panggung. Mungkin memang mereka (pihak penyelenggara) sudah begitu “pasrahnya” dengan attitude penonton yang seperti itu, hingga melihat sebuah celah bisnis (lagi-lagi) di baliknya. Ya memang, tak bisa disalahkan, yang penting kan acara rame, branding-nya sukses. Gitu.

Ini sudah berkali-kali dibahas dalam berbagai tulisan. Seperti Soni Triantoro di Warn!ng Magz juga pernah menulis tentang ini. Bagaimana semakin menurunnya apresiasi penonton terhadap bintang tamu atau performer dengan tindakan-tindakan semacam merekam penuh dengan durasi tak wajar, hingga berfoto selfie di depan artist sambil tertawa-tawa.

Mungkin akan ada argumen bahwa, “Ah, artist-nya lho gak ribet, lu kok yang sewot?Lha matamu a? Silahkan buka link di bawah artikel ini. Di situ jelas terlihat Adele sampai menegur seorang penonton yang kedapatan merekam konsernya. Pun, Roger Waters juga pernah berpendapat kontra dengan perilaku-perilaku seperti di atas (seperti dituliskan Soni Triantoro). Di Malang sendiri, teh Risa dari Sarasvati pernah menegur seorang penonton yang kedapatan menganggu ketenangan panggung (di acara Psymmetrical tahun 2016). Kiranya contoh-contoh di atas cukup untuk kita berpikir ulang dalam mengganggu hak performer di panggung dengan tongsis, Android atau perilaku kita.

Ini mungkin adalah sebuah after-effect tatkala musik-musik alternatif yang dulunya disebut sidestream, yang semakin ke sini semakin tipis bedanya dengan musik mainstream. Di saat kredo “musik bagus” bukan lagi tentang artist TV macam Gigi, Noah, Armada (dan Kangen Band kalau mau disebut), di saat ukuran keren dan kekinian adalah menghadiri konser Sore dan Efek Rumah Kaca dengan modal hanya hafal “Ssst” atau “Desember” saja, dan standar romansa percintaan remaja adalah tentang “Berdua Saja” milik Payung Teduh, exposure besar memang mau tak mau akan hadir kepada artist-artist ini yang dampaknya, menyeret khalayak umum untuk datang ke acara konser mereka.

Tetapi tentu sangat disayangkan bila apresiasi terhadap musik-musik independen ini dirusak oleh ulah beberapa (dan semakin banyak) orang dengan cara-cara minus penghargaan seperti disebutkan di atas. Sama seperti saat Jerinx yang mengkritisi penggemarnya sendiri, Outsider dan Lady Rose yang mengira bahwa musik SID hanyalah soal jual tampang saja, agaknya kritik untuk beberapa spesies penonton ini harus dilayangkan demi terciptanya suasana win-win solution antara sesama manusia: penonton lain dan juga artist.

Apalagi ini adalah soal Malang, yang “konon katanya” merupakan barometer musik Indonesia-sebuah titel yang semakin saya pertanyakan. Jika masalah klasik para penonton Malang pada zaman dahulu adalah “pengasingan” performer hingga yang paling parah pelemparan barang-barang abstrak ke atas panggung, mungkin pada era sekarang kita perlu menambah lagi satu kata bernama “Budidaya Tongsis” dalam Kamus Masalah Menjadi Penonton di Malang. Semoga saja ini bisa jadi renungan ke depannya.

Tetapi jika hal-hal seperti ini berlanjut, mungkin ke depannya para artist tersebut bisa saja memutuskan untuk perform di rumah dengan live Instagram saja daripada repot-repot datang ke venue hanya untuk melihat para “fans-nya” sibuk dengan IG Story-nya. Who Knows?

 Link: http://www.maximindonesia.co.id/article/2016/7/2602/Ini-Akibatnya-Kalau-Main-Handphone-di-Konser-Musik

Foto: http://m.967hitz.fm/news/view/konser_musik_larang_tongsis

-KMPL- (@randy_kempel)

Hanifa Miryami

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>