MALANG BAROMETER MUSIK ROCK; Pertanyaan dan Pernyataan Siapa?

oleh Leon Lolang

“Kota ini dulu dianggap tempat angker bagi para musisi. Penonton tak segan melempari mereka jika bermain buruk” kalimat paling terkenal sepanjang musik rock.

Tidak ada yang memungkiri pada generasi 70an telinga kita akrab dengan kalimat, bahwa Malang adalah kota yang dijadikan barometer musik rock. Bahkan media yang cukup ternama memberitakan demikian. Tidak sampai di situ saja, salah satu media ternama tersebut bahkan sampai menyatakan, “Malang memang kota yang hidup dengan diiringi musik rock”. Memang tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut, ketika kalimat tersebut diambil dari ‘kacamata’ era 70an.

Pertanyaannya adalah, masih bisakah dikatakan seperti itu? Memang dalam situasi keberagaman aliran musik ini, tentu akan menjadi sangat sulit dalam memposisikan suatu wilayah menjadi salah satu barometer aliran musik. Tapi hal itu sejatinya masih bisa dilaksanakan. Seperti yang kita lihat di daerah Jakarta Utara, lebih tepatnya di daerah Kampoeng Toegoe. Di sana masih kental sekali nuansa keroncongnya. Bahkan daerah tersebut memiliki salah satu kelompok musik yang cukup dikenal, yaitu Keroncong Toegoe Cafrinho.

Mari mengingat masa lalu sejenak, Malang pada masa 1970-an benar-benar merupakan salah satu kota produsen rocker. Tidak sedikit rocker yang muncul dari kota Malang. Bahkan Micky Jaguar yang sejatinya berasal dari Sukabumi pun, pindah ke Malang, dan memulai karirnya dari Malang. Selain itu masih ada Abadi Soesman dan Ian Antono yang sampai saat ini masih aktif bersama God Bless, dan seorang Lady Rocker, Sylvia Saartje. Saat ini pun, para rocker  tidak berhenti muncul dari kota Malang.

Malang hari ini, kelompok musik seperti No Mans Land, Begundal Lowokwaru, SATCF, Beeswax, dan lain-lain, menjadi representasi musik rock di Malang, dan menjadi wakil musik rock dari Malang di kancah musik nasional. Salah satu band Ska dari Malang yang sedang naik daun pun, merepresentasikan kondisi musik Malang menjadi nama. Band tersebut bernama Youngster City Rocker. Lalu apakah dengan munculnya serta konsistensi band-band tersebut, bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menjadikan Malang sebagai barometer musik rock?

Salah satu media local di Malang, pernah menuliskan bahwa Malang berusaha kembali menjadi barometer musik rock. Hal tersebut menjadi menarik. Sebab, seperti yang sudah dijelaskan bahwa terdapat beberapa musisi serta kelompok musik rock baru ini. Tetapi salah satu media mengatakan bahwa Malang berusaha ‘mengembalikan’ barometer musik rock tersebut. Kemanakah barometer musik rock Malang sebelumnya? Apakah kehadiran musisi serta kelompok musik rock saat ini tidak merepresentasikan Malang sebagai barometer musik rock? Lantas mengapa salah satu media nasional yang cukup ternama, mengatakan bahwa Malang adalah barometer musik rock? Dari dua sudut pandang ini, dapat dilihat bahwa terdapat standar yang berbeda untuk mengatakan suatu kota menjadi barometer suatu aliran musik.

Saat ada ucapan ‘kembalikan barometer musik rock ke Malang’ atau ‘kembalikan Malang sebagai barometer musik rock’. Saat kalimat tersebut muncul, berarti dapat dikatakan bahwa barometer musik rock ‘belum pulang’ hingga saat ini. Sehingga harus ‘dijemput’ atau seperti yang tertulis disalah satu media lokal, ‘dikembalikan’. Lantas apa saja yang mengisi ‘kekosongan’ tersebut? Atau, dengan bahasa lain, musik apa yang mengisi pada masa pasca kejayaan musik rock di Malang? Mengapa barometer tersebut bisa lepas dari kota Malang? Padahal, musisi serta kelompok musik rock di Malang tetap tumbuh. Seperti yang disebutkan di atas. Terdapat beberapa aktor baru dalam kancah musik rock di Malang. Walaupun, tidak semua berhasil berkembang dan tersorot media nasional. Apakah musisi, serta band-band tersebut tidak bisa merepresentasikan bahwa Malang adalah barometer musik rock?

Hal yang juga menarik adalah, saat mengatakan bahwa Malang tetap sebagai kota ‘barometer musik rock’, sebab masyarakatnya masih mencintai musik-musik rock. Pertanyaan selanjutnya adalah, masyarakat yang mana? Dalam kasus ini, terdapat banyak acara-acara musik di Malang. Salah satunya adalah acara musik rock. Tetapi, hari ini dapat dikatakan bahwa acara musik terbesar dan menarik perhatian lokal maupun nasional, adalah Malang Jazz Festival, Jazz Gunung (meskipun acara tersebut berada di Bromo yang letak geografisnya juga dimiliki oleh Pasuruan, juga oleh Probolinggo), serta yang saat ini mulai menarik perhatian serta minat para pemuda, yaitu Folk Music Festival. Tidak ada yang memungkiri bahwa acara musik rock tetap eksis di Malang. Tetapi, kenyataannya acara-acara musik ini memiliki massa yang cukup banyak, dan menjadi acara tahunan. Lalu apakah Malang dapat dikatakan sebagai barometer musik Jazz atau musik Folk? Hal tersebut bisa dikatakan ‘iya’. Apabila, perspektif dalam menempatkan standar suatu kota dapat dikatakan sebagai barometer suatu aliran musik, dilihat dari seberapa banyak, acara yang ada di kota tersebut dan seberapa besar peminatnya. Hal yang menarik pula, di media nasional yang cukup ternama yang sudah disebutkan diatas, menekankan di dalam kalimat pertama, bahwa “Kota ini dulu dianggap tempat angker bagi para musisi. Penonton tak segan melempari mereka jika bermain buruk”.

Menjadi menarik, saat melihat media tersebut menempatkan landasan perspektif dalam mengatakan Malang sebagai barometer musik rock, dilihat dari penontonnya. Bukan pemainnya. Tidak ada ucapan musisi Malang. Tetapi terdapat kata ‘Penonton’. Statement terakhir pun, dikatakan bahwa “Tapi satu yang pasti, Kota ini tak akan pernah berhenti mendengarkan musik rock.”. Barometer musik rock, dapat dilihat dari bagaimana masyarakat mendengarkan. Bukan memainkan? Apakah barometer musik rock di Malang dilihat dari seberapa besar dan banyaknya acara musik rock di Malang? Saat dilihat dari sudut pandang itu, apakah Malang masih menjadi barometer musik rock? Pertanyaan besarnya adalah, mengapa media tersebut mengatakan bahwa Malang merupakan barometer musik rock?

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, bisa kita lihat kenyataannya. Tidak sedikit musisi Malang yang memilih untuk berada di jalur rock. Tetapi berapa yang berhasil menarik perhatian nasional? Berapa pula yang namanya di dengar di luar kota dan yang paling penting, berapa yang mampu bertahan hingga saat ini? Bagaimana dengan musisi serta band-band yang sudah disebutkan di atas? Nama-nama tersebut sudah terdengar bahkan sampai ibukota. Pertanyaannya adalah, bagaimana band tersebut di Malang? Saat muncul statement untuk mengembalikan barometer musik rock ke Malang, dapat dikatakan bahwa musisi serta kelompok musik rock tersebut, tidak bisa dijadikan representasi Malang sebagai barometer musik rock. Mereka berhasil membawa nama Malang hingga ibukota. Bahkan salah satu media nasional yang bertempat di ibukota, baru-baru ini mengatakan bahwa Malang adalah barometer musik rock. Memang realitanya, sulit untuk mengkonstruksi selera masyarakat untuk menyukai salah satu genre musik. Tetapi untuk menjadikannya tuan rumah untuk salah satu aliran, hal tersebut masih mungkin. Tidak semua masyarakat Brazil adalah pemain, aktivis bahkan penikmat sepakbola. Tetapi kita masih bisa mengatakan bahwa Brazil adalah negaranya sepak bola. Kenapa? Jawabannya hanya satu, konsistensi. Brazil konsisten menjadi negara yang kompetitif di dalam kompetisi sepakbola dunia. Malang seharusnya mampu memanfaatkan statement media yang mengatakan bahwa Malang adalah barometer musik rock. Hal tersebut dapat dijadikan alat legitimasi. Lalu, pertanyaan yang paling menarik perhatian adalah, apa yang terjadi kalau Malang menjadi barometer musik rock di mata mereka?

Pertanyaan tersebut memang tidak akan bisa dijawab selain oleh pembuat statement bahwa Malang adalah barometer musik Rock tersebut. Tetapi pernyataan tersebut menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Malang saat ini sudah menjadi kota yang memiliki acara musik tahunan seperti Malang Jazz Festival serta Folk Music Festival. Tidak jarang terdengar dari panggung ucapan-ucapan seperti “Suasana Malang yang dingin bisa kita hangatkan dengan irama jazz”, atau “kita buat hawa dingin Malang ini berubah menjadi sejuk dengan nada”. Kalimat-kalimat tersebut menjadi kalimat-kalimat puitis dalam melihat musik jazz dan folk di Malang. Ucapan tersebut diucapkan oleh setiap penampil dengan kalimat dan bahasa yang berbeda. Tetapi satu hal yang menjadi menarik, mereka berusaha memadupadankan musik dengan kota. Setiap penampil berusaha menempatkan bahwa Malang adalah kota yang sangat cocok untuk musik tertentu. Bagi siapa? Bagi pendengar tentunya. Malang sangat cocok untuk mendengarkan musik jazz ataupun folk. Bagaimana dengan pemain? Kenyataannya dari sekian banyak musisi di Malang, mungkin paling banyak hanya dua yang menjadi line up.

Lantas saat media nasional mengatakan Malang adalah barometer musik rock, apakah ucapan tersebut berarti Malang sebagai produsen musisi rock, atau sebagai konsumen dari musik rockWell, who knows? Satu hal yang penting, Malang tidak boleh hanya menjadi pendengar sejati musik rock. Tetapi ciptakan serta hidupkan kembali suasana rock tersebut, dengan karya-karya baru dari musisi serta kelompok musik baru yang mampu konsisten dan gemanya dapat terdengar sampai ke pelosok nusantara.

illustrasi oleh ronallycam.com

Malang, 9 November 2017

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close