LGBT, Bayi yang Baru Lahir di Tanah Jawa

LGBT, Bayi yang Baru Lahir di Tanah Jawa (Perspektif Budaya)

Oleh W Sanavero

 

LGBT adalah sebuah akronim dari “Lesbian, Gay, biseksual dan Transgender”. Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an[1] dan menggantikan frasa “Komunitas Gay” dan “Komunitas Lesbian.” Karena istilah ini mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan. Pada beberapa Jurnal dan artikel secara umum menyampaikan bahwa akronim tersebut bertujuan untuk penekanan Identitas Seksual dan Gender kepada khalayak umum.

Secara eksistensial, persoalan ketertarikan seksual sesame jenis/ homoseksual sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak lama. Terbukti melalui produk kesenian yang ada, seperti kesenian Warok. Yaitu sebuah pertunjukan Reog dari Ponorogo yang dibaliknya menyimpan sebuah kisah tentang tokoh Warok dan Gemblak. Dalam beberapa kisah diungkapkan bahwa tokoh Warok adalah sebutan para manggala negri kerajaan Majapahit abad ke-15. Para kesatria yang memiliki kesaktian madraguna. Karena itu ketika seorang Warok sedang mencari kesaktian dia harus menjalankan puasa perempuan, dan tokoh Gemblak lah yang kemudian menggantikan hasrat seksualnya. Tokoh Gemblak adalah para lelaki berparas tampan dengan kisaran usia 12-15 tahun.

Dan pada beberapa kisah, fenomena Warok dan Gemblak ini hal yang diwajarkan ditengah masyarakat pada waktu itu, mereka menerima adanya warok dan gemblak. Karena beberapa tujuan universal, yaitu demi melindungi kerajaan dengan kesaktian mandraguna sebagai media.

Cerita diatas cukup mewakili, bahwa fenomena Keberagaman Gender dan Seksualitas selamanya seperti itu, persoalan sebab dan akibat. Diterima karena tujuan, dan tidak diterima karena tujuan. Seperti halnya LGBT. Bukan sebuah fenomena baru di tengah masyarakat Jawa, dan secara budaya, responnya akan tetap sama yaitu menerima karena itu dirasa yang lebih baik. Menilik dari sosial-kultural tujuan masyarakat jawa pada umumnya adalah Tentrem, yaitu menjaga suasana tetap tenang secara moral dan batin. Karena itu tujuan inti adalah agar semua orang tetap berjalan dengan mesra dan indah. Meskipun pada hari ini akulturasi; agama-tradisi, mempengaruhi mereka untuk memutuskan bagaimana kelompok-kelompok seperti LGBT dipandang dalam berkehidupan. Bahkan memang, pada tahun 2015 kata LGBT melejit nyaring di telinga masyarakat Jawa. Meskipun pada beberapa individu menerima begitu saja karena mengingat sekelompok tersebut juga sering kali terjadi sejak nenek-moyang. LGBT tetap sebuah akronim baru yang di dengar oleh masyarakat Jawa secara umum, karena beberapa praktik dan efek yang memang berkembang dan bahkan berbeda karena pengaruh global. Sepertihalnya fesyen, secara fesyen kelompok ini dapat kita amati lebih terbuka untuk menunjukkan identitas dirinya. Contoh, lelaki menggunakan celana pendek dan ketat sehingga bagian tubuh kemaluannya terentuk dan tembus pandang. Selain itu, beberapa nilai santun yang disepakati, seperti mengumbar kegiatan seksualnya di ruang-ruang yang seharusnya tidak di lakukan, contoh; sesame jenis bergandengan tangan sepanjang jalanan umum. Hal ini seolah menjadi shockteraphy bagi masyarakat Jawa secara naluri, artinya mereka membutuhkan waktu untuk menganggap pemandangan-pemandangan seperti demikian menjadi sebuah ‘kewajaran mata’.

Barangkali dulu, fenomena Keberagaman Geder dan seksualitas yang terjadi di tengah masyarakat Jawa lebih memeiliki sebab historis. Bukan sekedar Euforia akibat globalisasi. Karena itu LGBT tetaplah sebuah akronim yang asing, yang baru, dan tidak begitu saja dapat diterima meskipun secara naluri sesame manusia, kemesraan adalah falsafah yang diterapkan di tengah masyarakat Jawa.

Di tanah jawa, LGBT seperti bayi yang baru lahir. Bahkan mungkin, secara transenden tidak memiliki dosa kepada Tuhan. Akan tetapi bayi haruslah dijaga dan diarahkan dengan baik. bukan manusia antar manusia secara identitas gender dan seksualnya. Tapi LGBT secara kelompok. Harus terjaga dari misi-misi kotor yang merusak kemesraan antar sesama manusia di Jawa. Yang akan berujung pada perpecahan Negara Indonesia.

Keberagaman Gender dan Seksualitas adalah Epik.

Fenomena Keberagaman Gender dan seksualitas adalah sesuatu yang harus terjadi. sesuatu yang seharusnya terlihat dan mendapatkan pelajaran didalamnya.

 

[1] Https://id.wikipedia.org/wiki/LGBT diakses pada 16 Juli 2-17 pukul 20:29 WIB

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close