Lagi Lagi Efek Rumah Kaca, Lagi Lagi di Malang

 

 

Lagi – lagi EFEK RUMAH KACA, datang lagi ke Malang. Terbilang sudah 8 bulan sejak Desember 2016 lalu Efek Rumah Kaca mengunjungi Malang. Band yang terkenal dengan “Lagu Cinta Melulu” dan “Di Udara” ini seakan mempunyai koneksi batin dengan publik Malang. Selain itu, mengingat relasi lagu “Di Udara” dengan Munir yang merupakan aktifis HAM yang memang asli Malang, seakan pentas – pentas Efek Rumah Kaca di kota pelajar ini relevan dan anthemik. Tetapi apa ada rasa bosan dan jenuh dengan sering hadirnya Efek Rumah Kaca di antara publik Malang , sebuah kota yang mulai sedikit sumuk dan padat ini? Ternyata tidak! Bisa dilihat dengan antrian panjang untuk penonton yang membeli tiket on the spot.

Dengan penyelenggara MalangSubPop yang sudah terkenal mendatangkan musisi – musisi seperti Bottlesmoker, Sarasvati dan Pandai Besi, mereka mampu menjaring sekitar seribu lebih penonton yang memenuhi tribun di Brawijaya Edu Park (ex Senaputra) yang mempunyai sejarah konser musisi – musisi Indie seperti Sarasvati dan bahkan band – band indie Malang pun hampir sering memanfaatkan venue tersebut, seakan menjadi sebuah tempat sakral untuk menikmati musik. Mungkin ada keheranan mengapa Efek Rumah Kaca tidak pernah bosan untuk menyambangi Kota Malang yang terkenal dengan militansi kolektif – kolektif Indie pop dan Underground yang mungkin mengundang rasa segan bagi musisi luar kota yang mengadakan pentas di Malang. Ternyata keseganan itu tidak ada gunanya, melihat banyaknya penonton yang memenuhi amphiteater Brawijaya Edu Park 27 Agustus lalu dan bahkan ada yang rela membawa bendera Arema yang tidak bisa dibilang kecil, untuk dikibarkan ditengah keramaian yang beragam itu.

tibatiba konser erk penting

Dengan mc Adjisdoaibu, yang terkenal dengan guyonan yang renyah dan kemampuan memandu penonton, konser ini terkesan intim dan guyub. Terlihat pula musisi – musisi lokal Malang menghadiri dan ikut khidmat mengikuti lagu – lagu seperti Kuning, Putih maupun Merah. Setelah Setlist full Sinestesia dibawakan tiba saatnya set kedua yaitu Sesi Kamar Gelap dan Self Titled 2007. Sesi ini unik karena beberapa lagu dibawakan berkolaborasi dengan musisi – musisi Malang seperti Intenna di Tubuhmu Membiru…Tragis sehingga tingkat kegalauannya bertambah akibat efek shoegazy mereka dan vokal Kiki yang menghipnotis. Lalu kolaborasi berikutnya yaitu di Lagu Kesepian dengan ditemani Lourdy Nico. Ajer salah satu grup folk kota Malang juga ikut di Balerina. Satu sesi unik yaitu ikut sertanya grup rap APA di Jalang. Jatuh Cinta itu Biasa Saja menjadi tak biasa dengan kolaborasi beserta Steffani BPM yang membuat jatuh cinta ribuan mata yang hadir di Brawijaya Edu Park. Grup folk Pagi Tadi yang terkenal akan kesyahduan dan semangat pecinta alamnya ikut menambah trenyuh dan kesyahduan Sebelah Mata. Cinta Melulu seakan menjadi lagu yang ironis tapi mantab dengan berkolaborasinya Efek Rumah Kaca dengan grup orkes modern Tani Maju yang sedikit banyak juga ada unsur melayunya. Lagu Di Udara semakin membuat para penonton “bangun” jiwanya dengan kolaborasi ERK dengan Wake Up Iris!. Merdeka menjadi semakin lantang dengan paduan brass section dari Youngster City Rockers. Lagu penutup pun akhirnya jatuh pada Desember dengan kolaborasi koor penonton dan seluruh kolaborator di atas panggung, yang didahului dengan selfie massal.

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close