Konser Nyanyian & Kehidupan, Warung Srawung

17 September lalu adalah momen yang berbahagia ketika Ary Juliyant kembali menyambangi Warung Srawung untuk ketiga kali nya. Musisi yang multigenre ini berhasil menarik pengunjung memenuhi  venue lesehan yang cukup untuk 50 orang. Presale yang seharga 70 ribu ternyata ludes dalam waktu seminggu.  Acara ini dimulai tepat waktu jam 19.00, dan acara berjalan dinamis dan dialogis dimana penampil dan penonton boleh berinteraksi. Acara dibuka oleh puisi karya Han Farhani dari Hankestra lalu Iksan Skuter masuk dengan langsung membawakan Lagu Untuk Sahabat. Lalu setelah selesai lagu, MC Zidni masuk untuk mengajak berdiskusi dan bercerita masa – masa kecil dan masa awal bermusik, disambung tampilan foto – foto jadul dari kedua Musisi. Tiba – tiba interupsi datang dari Ary Juliyant yang membawa secangkir kopi sambil improvisasi lagu dari kopi tersebut lalu ditimpali dengan Iksan Skuter dan lahirlah lagu Kopi Mulai Dingin. Kemudian berlanjut ke lagu dari Ary Juliyant yaitu Salam Hangat dari Ikan-Ikan.

Sesi selanjutnya berpindah ke Iksan Skuter lagi dengan  lagu Kukira Jakarta dan cover Lagu 1 milik Iwan Fals. Dilanjutkan ke sesi tanya jawab, yang dimana ada seorang penanya menanyakan apakah Iksan Skuter sekarang bisa dibilang sukses. Ternyata dijawab oleh Iksan Skuter bahwa kenyaman yang dijalani sekarang adalah tolok ukur kesuksesannya, singkatnya Nyaman adalah sebuah kesuksesan. Ary Juliyant kembali masuk dan membawakan andalannya yaitu “Furo”. Setelah itu kembali ke sesi tanya jawab, kali ini menjawab tanda tanya semua orang mengapa tiketnya sampai 70 ribu presale dan 100 ribu On The Spot, yang bahkan mencapai tiket festival sebuah band nasional. Iksan Skuter menuturkan bahwa ini sebuah bentuk menghargai proses, dimana Malang akhir – akhir ini dibanjiri acara gratisan bersponsor, nah mengapa tidak membuat acara sendiri tapi dengan tiket setara acara festival, yang juga sebagai penghargaan atas karya dan produksi. Nominal menurut Iksan Skuter adalah jebakan mindset dari mahal dan murah, ketika 70.000 rupiah untuk presale sudah mendapatkan cd dan konsumsi, untuk sebuah ukuran “good offer” 70.000 rupiah adalah murah, bagi orang yang menghargainya. Selanjutnya ia menuturkan bahwa terhadap karya kita harus percaya diri, dimana karya kita punya kemampuan layak jual. Menurut Iksan Skuter, Industri musik mainstream sekarang keblinger, seakan mengkerdilkan karya seni dengan mindset ramai-sepi, hits-tidak hits dan yang paling umum yaitu terkenal-tidak terkenal. Iksan Skuter juga menambahkan bahwa acara bersponsor mestinya sebagai subsidi saja, dan menganggap bisnis bukanlah uang semata tapi menjadi professional dalam apa yang dikerjakan

Setelah diskusi padat tersebut Iksan Skuter melanjutkan dengan lagu Jangan Beli Bajakan. Berlanjut ke Iksan Skuter dengan lagu “Kereta” . Usai Iksan Skuter main, Ary Juliyant ditanyai seseorang, lagu apa yang paling dikenang saat kecil? Ary Juliyant kemudian memainkan Ala Kowe Melu Sopo sebuah lagu daerah, yang diajarkan pertama kali oleh ayahnya yang asli Madiun. Iksan Skuter juga mempunyai lagu masa kecil yang sering terngiang yaitu Franky and Jane dengan judul Sekumpul Petani.

Kemudian ada seorang penanya yang menanyakan apakah adakah diantara anak-anak mereka yang mewarisi bakat musisi dan apakah mengharapkan mereka menjadi sama seperti Bapaknya. Iksan Skuter menjawab bahwa dia tidak memaksakan anak – anaknya untuk menjadi musisi dan itu tertuang dalam lagu Jangan Seperti Bapak. Pertanyaan ini dijawab oleh Ary dengan sebuah informasi bahwa dua anak kembarnya membuat grup band bersama teman – teman sekolahnya bernama Lima Kancing Baju, terinspirasi dari grup Empat Peniti dari Bandung. Lalu Iksan Skuter dan Ary Juliyant pun berduet dalam Beribu Kepada Televisi. Berlanjut dengan Iksan Skuter menyanyikan lagu barunya “Bapak”. Akhirnya kembali berduet dalam lagu unreleased berjudul “Pulang”. Ary Juliyant sering membuat lagu atas kiriman orang, kini kiriman dari Gus Chandra Malik berjudul Kalya yang kala itu dibacakan oleh Mas Bejo model video klip “Bapak” dari Iksan Skuter. Kemudian Penonton berdiri dan Ary Juliyant menyanyikan Koboi Kampungan sebuah lagu protes terhadap Amerika Serikat yang sering mengurusi negeri orang yang akhirnya menyebarkan perang atas nama Demokrasi Liberal. Sesi ini kemudian medley ke Blues Kumaha Aing dan terakhir Papapapapa Hei.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close