KELAS SRAWUNG

"Suguhkan Musik dan Bisnis Showbiz"

Reportase oleh Leon Lolang

Malang– Kelas interaktif di warung kopi memang mulai menjamur, khususnya di kota Malang.  Salah satunya di Warung Srawung, Kamis (23/11/17) kelas dengan tema Musik dan Bisnis Showbiz ini berlangsung dengan asik bersama seorang meneger Arireda yaitu Felix Dass. Membahas seputar bagaimana industri musik serta, bisnis pertunjukkan musik. Termasuk mempersiapkan karya, perkembangan musik tersebut melalui strategi pemasaran, juga pengalaman pribadi dari seorang Felix Dass dalam menggeluti dunia musik. Isu-isu terdekat juga dibahas dengan sangat informatif, mengenai perkembangan musik, terutama mengenai musik-musik yang berada dalam musik indie. Kegiatan diskusi yang dikonsep secara informal ini, berlangsung dengan menarik. Obrolan tidak satu arah. Sammack, salah satu penulis asal Malang yang menjadi kurator di kelas tersebut membuka diskusi dengan cukup santai, sehingga situasi diskusi berjalan ringan dan santai namun berisi. Muncul banyak pertanyaan-pertanyaan menarik dari beberapa yang hadir dalam kelas tersebut, seputar perkembangan suatu industri musik hingga pengalaman dan solusi yang telah dijalankan oleh Felix Dass.

Dalam diskusi kemarin, Felix Dass mengakui bahwa dirinya cukup menyukai dan mengapresiasi kegiatan diskusi tersebut, dan menyebutkan bahwa Malang menjadi kota yang cukup diminati oleh dirinya dari sisi perkembangan musik. Kegiatan diskusi sebagai proses perkembangan dunia permusikan ini pula yang menurut Felix Dass sudah mulai jarang terjadi. Padahal, proses ini lah yang justru menjadi hal yang menarik dalam industri musik. Pembahasan ini juga membahas tentang bagaimana kejujuran dalam merasa menjadi landasan utama seorang Felix Dass dalam me-review suatu karya musik. Pertanyaan demi pertanyaan pun diutarakan dari peserta kelas yang hadir. Salah satunya Alfan (Jurnalis musik), yang menanyakan tentang kapan suatu pegiat musik menempatkan harga promo serta harga full dalam menghadapi tawaran manggung.

Felix Dass mengutip kata-kata dari Iksan Skuter yang mengatakan bahwa terdapat klasifikasi antara kapal tempur dengan kapal dagang. Kapal dagang menjadi analogi dari kapan menempatkan harga full dari suatu tawaran panggung. Sedangkan kapal tempur, adalah kapan pegiat musik mampu menurunkan orientasi keuntungan profit saat menerima suatu tawaran manggung. Ada pengalaman menarik yang diceritakan oleh Felix Dass, saat dia sedang menggarap suatu acara bersama Ruang Rupa, dan di sana terdapat sebuah kelompok musik yang meskipun sudah mengetahui bahwa acara di Ruang Rupa adalah sebuah acara kolektif, tetapi tetap menawarkan harga full. Pengalaman juga diceritakan tentang bagaimana pemain-pemain seperti duo dari Jakarta, Endah and Resa serta band iconic dari Bali yaitu Superman Is Dead, yang hingga saat ini tetap bermain di beberapa gigs. Inti yang ingin disampaikan Felix Dass pada pembahasan ini adalah, tentang bagaimana harus bisa menyeimbangkan antara ‘kapal dagang’ serta ‘kapal tempur’ tersebut.

Di dalam pembahasan itu juga muncul tentang bagaimana video yang berasal dari seorang videografer Malang mengenai review suatu acara besar di Jakarta yang menarik perhatian Felix Dass. Felix Dass menambahkan bagaimana kualitas, bakat, serta karya-karya menarik tersebut menyebar tidak hanya berada di Jakarta, tetapi lebih luas lagi, hingga sampai ke Samarinda, Makassar, dan kota-kota di luar Kota Jakarta dan Bandung. Bahkan, Felix Dass menambahkan, bahwa dirinya pernah menggunakan jasa seorang fotografer beserta videografer dari Yogyakarta. Lebih jauh dari sekedar menemukan bakat-bakat dari setiap kota, menurut Felix, industry musik dan bisnis showbiz telah membuka peluang serta lapangan-lapangan ‘ekspresi’ atau lapangan kerja baru bagi pekerjaan-pekerjaan seperti fotografer, videografer, penulis, soundman, dan lain-lain. Bisa dibayangkan betapa besarnya industri musik indie saat ini. Pertanyaan menarik juga dilontarkan oleh Raka, dari salah satu anggota forum. Raka menanyakan tentang bagaimana makna idealisme di dalam dunia industri.

Dalam diskuis tersebut, Felix Dass menyatakan bahwa inti utama dari idealism adalah tanggung jawab dan konsekuen. Sebagai contoh, Superman Is Dead memang masuk ke dalam major label dan pada saat itu, banyak sekali kelompok punk yang mengatakan bahwa Superman Is Dead telah berkhianat. Apakah dapat dikatakan bahwa Superman Is Dead kehilangan idealismenya? Dalam forum tersebut, dikatakan bahwa itu bukan bagian dari hilangnya idealisme. Meskipun masuk ke dalam major label, pertarungan terbesar Superman Is Dead bukan lagi menghadapi para pecinta punk. Lebih besar lagi, Superman Is Dead menghadapi negara saat ini. Bahkan beberapa brand sudah mem-blacklist Superman Is Dead untuk main. Apakah hanya dengan sekedar masuk ke dalam major label, Superman Is Dead dengan serta merta dapat dikatakan telah kehilangan idealisme? Sepertinya tidak. Idealisme dari Superman Is Dead jauh lebih besar dari sekedar membahas tentang sisi dilematis apakah masuk major label atau tidak.

Tidak hanya berbicara tentang industri musik, Felix juga menceritakan pengalaman tentang bagaimana beliau bergiat di dalam bisnis showbiz, bagaimana pengalaman beliau mendatangi beberapa acara musik besar di luar negeri yang bisa menjadi bahan pelajaran sebenarnya bagi para pegiat acara bisnis showbiz di Indonesia. Felix mengatakan bahwa beliau merupakan seorang fans yang ingin membuat acara. Felix bukan seorang yang benar-benar concern di dalam EO. Menurutnya, banyak hal-hal yang tidak efisien dan tidak fungsional di dalam acara musik Indonesia saat ini. Felix juga menceritakan pengalamannya saat datang ke sebuah konser di luar negeri yang saat itu bertepatan dengan musim dingin.

Felix menceritakan tentang bagaimana efisiensi panitia yang menyediakan jasa penitipan coat, dan juga saat menyaksikan konser dari Bruce Springsteen yang tiketnya terintegrasi dengan kendaraan umum. Sehingga setiap penonton yang membeli tiket dapat gratis menggunakan jasa transportasi umum. Serta pengalaman Felix saat ingin menyaksikan acara launching album salah satu kelompok musik di Indonesia yang sistem registrasi tiketnya mengharuskan satu orang dengan satu email, hanya bisa mendapatkan satu tiket. Dan pada saat itu, Felix ingin mengajak temannya untuk melihat acara tersebut. Sisi tidak efisien ini yang menjadi contoh dalam pembahasan malam itu.

Diskusi berjalan cukup lama. Diskusi yang cukup interaktif tersebut tanpa disadari berakhir pada pukul 21.30 WIB. Diskusi diakhiri tanpa ada benang merah utama, tetapi bukan berarti tidak berisi. Obrolan yang beragam serta pengalaman-pengalaman serta pertanyaan yang beragam pula, membuat diskusi tersebut tidak bisa serta merta disimpulkan oleh sebuah kesimpulan. Tapi dapat dikatakan bahwa diskusi tersebut cukup membuka wawasan bagi teman-teman yang menghadiri kelas tersebut, tentang cakrawala industri musik dan bisnis showbiz.

 

 

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close