Interview: Parahyena

Pada Maret lalu, grup folk asal Bandung, Parahyena bertandang ke Kalampoki Quayhouse, Malang. Mereka bersama band tuan rumah, Monohero menjadi line-up pada gigs reguler Renjana yang pada saat itu memasuki musim kedua; Renjana #7 Hypnotic Garage. Setelah penampilan mereka, Srawung Media sempat mewawancarai band folk yang sedang dalam rangka tour album mereka “Ropea”. Simak wawancara kami berikut ini.

Srawung Media (SM): Ropea kalau nggak salah artinya memperbaiki atau memperbaharui. Buat masing-masing dari kalian, apa aja sih yang dirasa telah diperbaharui sejak dirilisnya album ini? Entah itu dari sisi musikalitas atau personal kalian.

Parahyena (P): Kalau dari segi musik sih, bukannya mengesampingkan tradisi yang sudah ada. Tanpa mengesampingkan pakem yang udah ada, kami mencoba berjalan melalui idiom itu. Artinya memang ada beberapa idiom nusantara misalnya, ada dari Bali, Sundanya juga memang kental. Sebetulnya bukan mengartikan bahwa kami mengesampingkan tradisi, nggak sama sekali. Kami melihat misalnya di Bandung sendiri, anak muda teh identik dengan nggak kenal sama tradisi sendiri, ya kami melalui pendekatan ini, mereka minimal bisa tahu dan nantinya mau menggali sendiri. Itu aja sih kalau dari segi musik.

SM: Dari sisi personalnya sendiri?

P: Kalau dari personalnya mah, sebenarnya nggak ada yang baru-baru amat [tertawa] kelakuannya juga masih kaya gini [tertawa]. Lebih intense ke pergerakan musiknya aja sih. Misalnya lebih ke targetnya, lebih baik dari kemarin.

SM: Mungkin ada kebiasaan baru yang harus dilakukan? Tour bisa masuk juga kan?

P: Ya karena adanya album baru ini, kami jadi bisa melakukan tour.

SM: Kalian kan dari Bandung dan ada beberapa lagu yang menggunakan bahasa Sunda, ada bunyi-bunyian yang kental akan ‘Sunda’ nya juga. Seberapa besar sih pengaruh budaya Sunda bagi karya-karya kalian?

P: Kami kan otomatis berada di Jawa Barat, secara lingkungan, lingkungan kami berbahasa Sunda. Ya campurlah sama bahasa Indonesia, tapi dominan pakai bahasa Sunda. Kenapa pakai bahasa Sunda? Karena memang bahasa sehari-hari disana. Maksudnya, kami nggak mikirin cakupan nantinya kaya bagaimana. Ketika kami pakai bahasa Sunda, artinya cakupannya kan hanya Jawa Barat yang mengerti, tapi bagaimana caranya nanti kalau ada sharing session, kami bisa jelasin juga arti bahasa Sunda tersebut. Itu mah gitu aja sih, mbak, kalau masalah bahasa [tertawa].

SM: Untuk unsur budaya lain, ada nggak unsur budaya lain yang kalian anggap menarik dan kalian ingin untuk fusion dengan karya-karya kalian?

P: Sudah ada justru. Ada beberapa lagu, misalnya lagu “Kembali”, itu diambil dari idiom carukan gamelan Bali, kami pindahkan ke melodi gitar. Kalau yang ngeh sih [tertawa]. Selain itu, pengennya sih lebih fleksibel, kemarin kami sempat kolaborasi sama band post-rock, terus sama Bottlesmoker, ikut meramu juga. Terus sama Mooner, bandnya Rekti (The Sigit), sama Hoolahoop juga, band punk rock. Artinya, bagaimana caranya ingin fleksibel aja; bahwa musik kami bisa dibawa kemana aja.

SM: Kalau bukan Parahyena, ingin menamakan band kalian apa?

P: Dulu mah kepikirannya naon nya’? Daun Ngora! (baca: Daun Muda dalam bahasa Sunda).

SM: Selama dua hari di Malang, bagaimana sih Malang menurut kalian?

P:  Secara suasana sebenarnya nggak jauh beda sama di Bandung. Ya itulah, bisa lebih banyak kenal  teman-teman di sini , ada beberapa kulinernya.. Baru itu karena memang baru dua hari juga, jadi belum banyak tahu.

SM: Terus, melihat antusiasme di Malang, ada rencana balik lagi ke Malang?

P: Pingin.. Aamiin. Harus! Hahaha. Dan kayanya nggak sendiri; ada beberapa kawan-kawan juga yang bareng dari Bandung ke Malang, begitupun yang dari Malang ke Bandung. Kaya Monohero kemarin datang ke Bandung bareng juga sama kami. Waktu kami mau ke Malang, kami contact-contact an sama Monohero, akhirnya kejadian, jadi disini dibantuin sama Monohero.

SM: Untuk lagu “Ayakan”, kenapa memilih duet dengan Dimas Wijaksana (Vokalis Mr. Sonjaya)?

P: Kenapa memilih Dimas? Karena diluar (project) ini ya kami dekat aja.  Maksudnya secara pergaulan sering banget ketemu. Jadi ketika waktu itu lagi ada acara di Rumah Bintang, semacam ruang baca bagi anak-anak yang putus sekolah, kami main di acara itu. “Lagu “Ayakan” kayanya dua’an  cocok nih dibawain sama Dimas, bagaimana kalau nyanyinya bareng juga?” “Ok” ceunah (“katanya”, dalam bahasa Sunda).

SM: Kenapa memilih memakai bahasa Sunda dan Inggris?

P: Jadi pas bagian reff, waktu itu, bagaimana kalau kami mix aja? Mengisi bagian yang kosong aja, walaupun sebenernya artinya nggak nyambung. Lebih menitikberatkan ke Paparikan nya itu sendiri, karena memang dari pantun apapun ketika akhirannya sama itu bisa dinyanyiin bareng. Dengan pola yang sama, rima sama, itu pas.

SM: Rencana terdekat Parahyena apa?

P: Setelah tour, ada bekal dari anak-anak. Ada yang segera menggarap instrumen, kami juga mau bikin semacam short movie dari lagu Parahyena.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close