HEARTFELT #1: Heals at Houtenhand

Bertepatan dengan Spectrum Tour dari Heals, Houtenhand dan kolektif muda indie Malang mengadakan Heartfelt #1 pada tanggal 29 April 2017. Exchange gig ini diharapkan menjadi perekat hubungan baik Bandung-Malang sehingga dimungkinkan ketika nanti band – band Malang bertandang ke Bandung akan disambut dengan acara serupa. Heartfelt #1 dimeriahkan oleh Heals(BDG), Intenna, Beeswax, Closure, Timeless (SUB) dan Monohero.

Pembukaan acara dipasrahkan kepada Closure, unit post-punk yang sedang naik daun, yang telah merilis album via O’Pamela records Jakarta. Closure membawakan lagu – lagu seperti Forest, Would She Love Me, Slow Drive dan cover Motorama – Wind On Her Hair, sebagai pengusung musik yang rancak, Closure sukses memberikan pemanasan bagi penonton, sehingga semua yang hadir larut dalam lautan crowdsurf dan joged ria. Kemudian ada Beeswax, yang sayangnya bermain trio, karena salah satu berhalangan hadir. Namun itu tidak membuat mereka kehilangan magicnya dalam menghipnotis penonton untuk larut dalam ketukan ganjil Yayan dan keritingnya appergio gitar Bagas Yudhiswa. Putra sebagai pacemaker bertugas baik menjaga tempo dan harmoni Beeswax. Fix dan Start The Line, Break it All selalu menjadi crowd control yang mantab di setiap kondisi. Setelah Beeswax dilanjutkan dengan Monohero, sesi downtempo dan visceral pun dimulai. Seperti biasa Monohero menyajikan pertunjukan cahaya, ambient pop dan vokal etnik yang bisa disandingkan dengan Elizabeth Fraser, namun bedanya Monohero mempunyai Omen yang seorang lelaki dengan timbre vokal sedikit beda namun range boleh diadu. Monohero adalah suatu grup musik yang komplit dan tentunya unik diantara deretan band – band baru malang yang membawa nafas indie pop, pop kreatif ala Raisa, maupun Emo. Monohero seakan menabrakkan new gaze ala M83, dan vokal etnik bahkan mendekati qiroatil Quran, berbekal lagu – lagu mereka dari EP Shimmy and Shimmer, dan EP Nikmatilah Resahmu, Nikmatilah Gelisah. Beberapa penonton yang turun , kembali naik mengikuti asal suara yang memabukkan di lantai dua, mengiringi mereka, beberapa pelajar – pelajar asing yang nampak enjoy dengan penampilan Monohero.

Heartfelt #1

Usai Monohero, Timeless dari Surabaya kedapatan tugas menaikkan tensi gigs ini lagi, pengusung Heartland, dan Soul Punk dari Surabaya ini satu – satunya saat ini yang mantab mengumandangkan sound – sound ala Hot Water Music dan Gaslight Anthem. Golden Age dan Ride Into the Sun langsung di sodorkan ke penonton dan kembali tubuh – tubuh melayang dan hentakan penonton menggetarkan lantai dua Houtenhand malam itu. Koor penonton sering terdengar di sesi mereka. Lagu – lagu dari Between and Beyond seakan menumpahkan bensin di lantai 2 dan penonton yang menyulutnya sendiri. Usai Timeless, giliran Heals tampil, penonton terlihat merapat kedepan, dan ruangan makin sesak. Sesaat mereka menyempatkan untuk soundcheck dan memulai dengan sedikit tergesa, sehingga ada kendala dengan mic. Penonton tetap enjoy dalam alunan False Alarm dan Warp. Di pertengahan sesi, kendala teknis mulai reda dan penonton mulai mengguncang lantai dua lagi. Full set dari satu album Spectrum dibawakan semua, bahkan encore pun diisi lagu dari Finch – Letters To You dan Story Of The Year – Until The Day I Die.

Terakhir giliran Intenna, namun sayang mayoritas penonton yang kelelahan memilih turun dan meninggalkan lantai dua yang lengang.  Sebuah kebiasaan yang tidak baik untuk diteruskan mengingat masih ada satu penampil yang akan memulai sesinya. Intenna pun tak ambil pusing, walaupun  diliputi kendala teknis, Intenna melaju santai dengan penonton yang didominasi oleh teman – teman mereka sendiri dan beberapa personil dan officials Heals terlihat menonton penampil terakhir ini yang bisa dianggap ambassador Shoegaze kota Malang untuk Dunia. Intenna memainkan lagu seperti cover dari Slowdive yaitu Golden Hair (diikutkan ke Kompilasi Just For A Day – A Homage to Slowdive), Flowery, Memar dan Lantur. Lagu – lagu dari Helter Skelter yang bervokal Obing tidak dibawakan. Kiki menjadi center point yang penting sehingga semua tugas vokal kembali ke Kiki.

Overall sebuah acara yang sukses walaupun dirintangi kendala teknis. Sudah sejak lama tidak melihat penonton Houtenhand seantusias ini, bahkan dengan penampil lokal sekalipun.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close