Gardika Gigih Ingin Bisa “Rileks”

Ngusik: Gardika Gigih live at Houtenhand Garten

Srawung Media menemui Gardika Gigih usai pertunjukkannya di Houtenhand Garten. Kami tertarik dan penasaran apa yang mendorong Gardika gigih untuk bermain musik dan berkarya. Lewat Ngusik, rubrik interview spesial ini kami akan menggalinya lebih jauh…

S: Srawung Media
G: Gardika Gigih

S:Proses awal tournya bagaimana?

G:sebenarnya ga direncanakan, awalnya diberitahu mas Remedy dari Trees and The Wild, mengabarkan kalau 2 desember 2017 ada program dari IFI Jakarta. Terus menawarkan apakah bisa bermain, terus dari situ ya sudah, bergulirlah semua sampai bisa jadi tour. Setelah main di IFI itu juga belum kepikiran sebenarnya, tapi karena tawaran – tawaran dari luar kota seperti Mbak Melati ini dan di Surabaya jadilah tour.

 

S:Nah itu kan tour kan tidak direncanakan apa ya pas featuring musisi – musisi lokal kota tujuan, apa ya koordinasi dulu sebelum datang apa dadakan on the spot?

G:yah, itu rata – rata insidentil sih, terus yang kolaborasi juga ngajak – ngajak kayak yang di Malang ini antusias banget kolaborasi. Seperti Mbak Melati, Mas Nico, Mas Aji, Mas Bembi (Morning After), dan Mbak Steffani. Terus langsung satu kali latihan. Kemarin Jakarta juga begitu. Karena keterbatasan waktu sih, walaupun gitu kami bisa membentuk chemistry baru disamping faktor gambling yang juga gede.

 

S:Terus apa ini, kan tiap tour kan ada sesi instrumental ya, nah populernya kan penonton gampang relate kalau ada lirik. Ini relatenya ke penonton gimana?

G:anu sih, aku juga terinfluence sama musisi – musisi instrumental luar negeri seperti pianis jazz Keith Jarett, Olafur Arnalds, Ryuchi Sakamoto, dan Max Richter musisi – musisi neoklasik gitu kan. Mereka kan ga punya lirik tapi musiknya kuat gitu lo. Ya percaya saja, yang penting emosinya dapet.

S:Selain tur musik mas Gigih juga kan ada tur bedah buku “Mendengar Di Bali” nah proses yang dilalui sebelum jadi buku itu apa aja?

G:Sebenarnya itu aku itu liburan, dan karena jenuh di Jogjakarta.Jadi seperti mendengar apa saja terus kita refleksikan, lalu menonton pertunjukkan gamelan terus kita refleksikan.Kayak karya apa gitu dibahas. Seperti catatan harian saja

S: Setelah sebulan di Bali dan jadi buku, apakah tur ini juga akan dibukukan?

G:Nggak tahu ya, belum kepikiran, mungkin suatu saat, kalau ada ingatan – ingatan tentang proses.

 

S:Musisi – musisi siapa saja yang ingin diajak kolaborasi

 

G:Jakarta Phillharmonic, dan ini mas ingin juga kolaborasi dengan musik – musik tradisi.Ya… Eksperimental itu malah cita – cita, dan juga noise juga.

 

S: Kalau Musisi Post-rock?

G: Toe, terus habis itu Sigur Ros dan Trees and The Wild.

 

S: Kalau Klasiknya?

G: e… sama Alva Noto dan Musiknya Ryuichi Sakamoto, Aku suka banget sama Ryuchi Sakamoto.

 

S:Terakhir mas, kalau mas Gigih, dikasih ability lagi, mas Gigih ingin minta apa?

G: kemampuan untuk Rileks.

S: Itu semua orang ya juga pengen kayanya mas hahaha, ya udah mas itu saja pertanyaan dari kami… terima kasih

G: Sama-sama

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close