Folk Music Festival Day 2

Batu Semakin Dingin, Rapatkan Barisan

Akhirnya sesi konser dari Folk Music Festival dimulai. Sebelum para penampil naik stage, terlebih dahulu FMF menggelar sesi literasi dari jam 09.00 – 11.00 dengan Lokakarya: Pewarnaan Kain Alami bersama Sancaya Rini. Sancayarini adalah pengrajin batik dan pemilik Kanawida (yang dalam bahasa Kawi, berarti ‘warna-warni’) dan Kana Goods (yang dikenal dengan produk fesyen berwarna indigo), natural-dye batik brands. Berbasis di Pamulang, Tangerang, Sancayarini menghadirkan batik kontemporer dengan teknik pewarnaan alamiah yang tentunya lebih ramah lingkungan. Bahan dari pewarna alami yang digunakannya antara lain berasal dari kulit & daging buah, serta dedaunan. Beberapa bahkan berasal dari limbah rumahan yang tak terpakai lagi. Semua produk yang dihasilkannya merupakan buatan tangan, dan melalui 2 brandnya ini Sancayarini ingin mengajak generasi muda untuk lebih peduli dan aktif dalam pelestarian batik pewarna alam. Kemudian berlanjut di jam 09.00 – 12.00 yaitu Lokakarya: Modelling Objects bersama Papermoon Puppet Theatre. Papermoon Puppet Theatre adalah teater boneka kontemporer berkualitas dari Yogyakarta yang mengeksplorasi batas-batas teater boneka.

Selanjutnya jam 09.00 – 11.00 adalah Lokakarya: Cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi bersama Theoresia Rumthe & Weslly Johannes di area tenant dan food and beverages. Theoresia Rumthe & Weslly Johannes adalah duo penulis yang baru saja merilis buku kumpulan puisi Tempat Paling Liar di Muka Bumi dan Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai. Theo, atau dikenal juga dengan moniker Perempuansore, adalah seorang blogger asal Ambon yang namanya sudah tidak asing lagi di jagad penulisan dunia maya; sedangkan Weslly adalah seorang penyair yang lahir dan besar di Namlea, Pulau Buru. Buku kumpulan puisi pertama mereka lahir dari kegiatan saling berbalas puisi via chat antar pasangan jarak jauh Jawa-Maluku (Theo di Bandung, Weslly di Ambon). Mereka sendiri tidak menyangka ide sederhana berupa dialog ungkapan rindu yang niat awalnya ingin mereka simpan sendiri saja ini kemudian menjadi sebuah karya yang menghangatkan hati para pembacanya. Dengan gaya penulisan puisi yang sama sekali berbeda (Weslly suka membongkar-bongkar lagi puisi yang sudah ditulisnya, sementara Theo lebih suka menulis secara ‘one-take’), menikmati karya kolektif mereka jadi seperti benar-benar menyaksikan interaksi 2 karakter yang berbeda.

Setelah itu sesi Makan Sayang dan Bincang santai bersama cast “Aruna dan Lidahnya” sampai jam 12. Film besutan Edwin di bawah bendera Palari Films tersebut berkisah tentang Aruna Rai, seorang ahli wabah yang melakukan perjalanan untuk mengusut kasus flu burung. Selama penyelidikan tersebut, ia mengajak teman-temannya untuk menikmati kelezatan kuliner Indonesia. Dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak. Kemudian berlanjut ke acara Press Conference kemudian Membaca Sapardi yaitu sesi membaca puisi – puisi pilihan Sapardi Djoko Darmono bersama sang sastrawan sendiri.

Akhirnya jam 11.10 Aray Daulay naik panggung , Aray Daulay akrab di telinga penikmat musik sebagai punggawa band rock penting era 90’an Plastik, kolektif reggae Steven and the Coconut Trees, dan juga Ray D’Sky yang mengusung folk yang banyak mengangkat obrolan lingkungan hidup dalam karya-karyanya. Kemudian dilanjutkan dengan sesi dari Gang Of Folk yaitu empat musisi/band terpilih dari seluruh Indonesia yang berkesempatan untuk berbagi panggung bersama musisi lainnya di FMF 2018, mereka tergabung dalam Gang Of Folk Class of 2018 sebagai angkatan pertama dari event ini. Dari jam 11.40 sampai 13.00 kita dihibur oleh Sepertigamalam dan Arief S.Pramono. Sepertigamalam adalah musisi yang bermain di jalur folk instrumental, musisi asal Pontianak ini bersenjatakan guitalele dan satu instrumen musik yang cukup tak terduga–bambu air. Lalu Arief S. Pramono adalah penyanyi dan penulis lagu dari Parepare, Sulawesi Selatan. Perjalanan bermusiknya berawal saat dia menjadi salah satu pemenang di sebuah kompetisi kompilasi lagu balada yang diadakan oleh Komunitas Rumah Balada Indonesia yang berbasis di Makassar, yang mana salah satu penggagasnya adalah penyanyi balada lawas Indonesia Ully Sigar Rusady. Nuansa melankolis Ebiet G. Ade sangat terasa di lagu – lagu yang ia bawakan.

Di sela – sela konser, Papermoon Puppet Theatre juga menggelar sesi intim di dekat kolam renang di sebelah musholla dadakan di luar area konser dengan sesi Penjahit Cerita. Penjahit Cerita adalah sebuah pementasan teater boneka eksperimental yang sangat intim, yang terjadi di dalam sebuah tenda, dan hanya bisa ditonton 3 orang dewasa, atau 2 pasang orang dewasa-anak dalam sekali pertunjukannya.
Dalam pementasan ini, penonton bisa menentukan sendiri tema pementasan yang diinginkan. Dua orang pemain boneka akan menjahit cerita yang diminta oleh penonton, dan cerita akan dibuat, dan dipentaskan langsung di hadapan penonton.
Kemudian jam 13.00 – 15.00 kembali digelar Lokakarya: Pewarnaan Kain Alami bersama Sancaya Rini.

Akhirnya Jam 13.00 – 14.45 kita memasuki deretan headliner bersama Gardika Gigih seorang komponis dan pianis asal Yogyakarta yang dikenal dengan gubahan-gubahannya yang melankolis. Album perdananya, Nyala, telah rilis 2017 silam melalui proses rekam secara live di sebuah ruang seminar di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kali ini ia ditemani seorang vokalis dan saxophonist. Saxophonist yang menemaninya sering kita temui bersama Djomblo Ensemble yaitu Noerman Rizky Alfarozi. Setelah Gardika Gigih kemudian dilanjutkan di 13.55 – 14.40 oleh Adrian Yunan yang disela – sela sesinya featuring Pusakata, (Mohammad Istiqamah Djamad). Kemudian jam 14.55 – 15.40 adalah menit – menit otherworldly bahkan kadang celtic dari Sandrayati Fay. Singer-songwriter berdarah Filipina/Irlandia-Amerika yang lahir dan besar di Jawa-Bali ini baru saja merilis EP perdananya yang berjudul Bahasa Hati, sebundel karya yang direkam secara live nyaris dalam 1 hari saja di Rumah Topeng, Bali. Lagu-lagunya banyak berbicara mengenai alam, kemanusiaan, identitas, dan cinta. Kini Sandra juga tengah mengerjakan proyek kolektif “Daramuda Project” bersama Danilla dan Rara Sekar, dari 3 lokasi yang berbeda. Kemudian tak lama tiba – tiba jadwal Daramuda yang mestinya setelah Tigapagi akhirnya diswitch setelah Sandrayati Fay. Daramuda adalah kolektif musik yang beranggotakan 3 musisi lintas arah : Danilla, Rara Sekar, & Sandrayati Fay.

Folk Music Festival 18 Day 2

Danilla & Sandra dikenal sebagai singer-songwriter dengan karakter musik yang tak serupa, Rara dikenal luas sebagai separuh duo pop nelangsa Banda Neira yang selamanya akan selalu dirindukan para penikmat musik. Proyek woles mereka ini hadir dalam wujud video karya-karya mereka, sendiri-sendiri, di lokasi yang terpisah–Danilla di Jogja, Rara di Madura, dan Sandra di Bali. Ketiganya mengawal proses bercerita dengan hanya ditemani gitar. Danilla pun sempat menyebar stiker di tengah – tengah penampilan mereka. Jam 15.55 – 16.40 kita dikejutkan dengan kedatangan secret guest yaitu Navicula dengan format akustik. Yang juga di temani Aray Daulay mengcover Pearl Jam yaitu Alive. Kemudian setelah break maghrib, Danilla kembali naik panggung dengan set full band, setnya kali ini mengingatkan saya pada Anna Calvi dan Suzanne Vega, dengan segala aura “somber” dan menggaruk kalbu. Danilla baru saja meluncurkan album keduanya yang berjudul Lintasan Waktu pada akhir 2017 lalu, menawarkan suasana yang berbeda dari album pertamanya—alih-alih kembali menghadirkan romansa polos nan syahdu, kini Danilla mencoba mendekati hal yang mungkin banyak dihindari : rasa takut. Di album ini pula Danilla mulai menjamah posisi produser, tandem dengan Aldi Nada Permana dari Ruang Waktu Music Lab & produser album pertama sekaligus partner in crime Danilla dalam bermusik, Lafa Pratomo.

Berbeda dengan rilisan pertama, di album keduanya ini 90% materi lagu ditulis oleh Danilla sendiri. Malam semakin dingin dan ketika masuk jam 18.45 – 19.30 mendadak Tigapagi membuat Batu terasa seperti jam tiga pagi dengan nada – nada sunda yang minor dan sesi featuring bersama Cholil ERK dan Danilla. Trio asal Bandung yang terdiri dari Sigit Pramudita, Eko Oktavianto, dan Prima Febrianto ini identik dengan nomor-nomor sendu dengan suntikan irama pentatonis Sunda yang kental. Bahkan petikan gitar yang ada terasa bagai kecapi, semakin mengukuhkan nuansa bumi Pasundan pada lagu-lagu mereka. Ibarat tone warna, musik Tigapagi itu sephia—muram, tapi tidak selalu murung. Setelah 1-track-LP Roekmana’s Repertoire yang diluncurkan pada tahun 2013 dan EP berdurasi 10 menit Sembojan (2015), baru-baru ini mereka kembali dengan karya barunya berupa single kolaborasi bersama Danilla yang bertajuk “Tidur Bersama”. Kemudian 20.30 – 21.15 Pusakata naik panggung dengan beberapa lagu dari jaman dia masih di Payung Teduh. Pasca sudah tidak lagi bernaung dalam band Payung Teduh per Januari 2018 lalu, Is melanjutkan perjalanan bermusiknya di jalur solo dengan membawa bendera Pusakata. Selain berkonsentrasi di panggung, pria kelahiran Makassar ini juga sempat mengenyam karir di dunia pendidikan sebagai guru vokal dan gitar di Sekolah Musik Yamaha serta mengajar musik dan vokal di SMA 28 Jakarta. Pusakata memang hanya terdiri dari Is seorang, tapi di setiap aksi panggungnya Is selalu ditemani kawan-kawan baiknya yang tergabung dalam the Panganans—band pengiring yang mendapatkan namanya dari hobi bersama yaitu makan. Bersama The Panganans, kini Pusakata sedang mengerjakan proyek album Musik Pulau & film musikal Sisir Kota Pesisir, yang didasari oleh cita-cita ingin mengajak penikmat musik Tanah Air untuk bersama-sama mengingat Nusantara sebagai negara maritim. Akhirnya penampil terakhir tiba yaitu jam 21.15 – 22.00 dengan Efek Rumah Kaca. Playlist mereka diisi dengan lagu – lagu slow karena malam mulai dingin, tapi ternyata di akhir – akhir playlist lagu Pasar Bisa Diciptakan dan Cinta Melulu yang upbeat dibawakan. Ada yang menarik di penampilan mereka, mantan bassist mereka Adrian Yunan yang kini bersolo karir ikut meramaikan panggung.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close