Closure: Post-Punk Yang Mulai Dilirik Khalayak

Bayangkan jika kita hidup di jaman Soeharto masih memimpin, anggap saja sekitar tahun 70-an hingga 80-an pertengahan. Saat itu gejolak pemuda di seluruh dunia sangat menyorot pergerakan anti pemerintah. Entah apa yang terjadi di Indonesia saat itu –toh saya juga bukan ahli sejarah-, tapi di belahan bumi barat sedang gencar-gencarnya terjadi pergerakan anarki yang pada akhirnya menciptakan punk dengan gaya rusuh dan onar sebagai corong suara sambatan-sambatan anak muda saat itu.

Ian Curtis yang saat itu muncul sebagai otak dari Joy Division yang sekaligus menjadi band pertama yang membawakan semangat punk namun dengan sudut pandang yang lebih introvert dan gelap. Lirik yang dihimpun begitu menunjukkan ke-gloomy-an namun tetap dengan semangat pemberontakan ala anak muda kuper yang secara menolak menonjol, ironisnya berontak dalam bentuk band. Beberapa waktu kemudian Simon Reynolds pun menyebutnya post-punk  untuk mempermudah dalam mengkategorisasi dan mengkurasi musik-musik yang pada akhirnya dibawakan oleh Siouxsie and The Banshees, Bauhaus, dan Echo and The Bunnymen saat itu. Lalu Motorama, Soviet Soviet, dan lain sebagainya saat ini.

37 tahun berselang setelah kematian Ian Curtis, adalah Afif (gitar), Sabiella (gitar), Axel (bass), Dheka a.k.a Dugong (vokal), dan Ikhsan a.k.a Biting (drum) yang merasa bertanggung jawab untuk menyemarakkan kembali gelora post-punk di Malang lewat Closure. Lahir pada akhir tahun 2016, band yang terdiri dari manusia-manusia penuh daya khayal yang masih terikat banyak proyek band lain tidak membuat mereka kehilangan akal untuk merebut hati muda-mudi skena musik Kota Malang. Di gelaran Renjana, sebuah gigs bulanan garapan salah satu warung hits masa kini (Kalampoki) yang ke –entah berapa, saya lupa-, Closure tiba-tiba saja membagikan secara gratis CD Demo mereka berisi 2 lagu pada penonton yang beruntung. Tak lama berselang setelah itu pun, benar dugaan orang-orang, EP pertama mereka bertajuk “Journey” muncul dalam naungan sebuah label indie asal Jakarta yang tentu saja langsung ludes diburu oleh teman-temannya sendiri, bahkan tentu saja oleh banyak orang!

Berisikan 4 track dengan nuansa kental dari Motorama dan Joy Division, tidak membuat mereka minder sedikitpun. Repetisi melodi menyesap hati dari Afif selalu terngiang untuk dinyanyikan, bahkan saat usai pulang menonton performance mereka. Gitaris mungil dan cantik Sabiella juga tidak kalah menarik untuk dilihat karena perbandingan ukuran tubuhnya yang kecil dan panjangnya Stratocaster merah andalannya tidaklah seimbang, namun dia tetap berlompat dan terlihat asyik sendiri diatas panggung sembari guyon bersama Axel dan Biiting yang sering tertangkap kamera sedang memejamkan mata ketika perform. Ambience yang mereka hasilkan dengan suara body snare yang sangat kuat di frekuensi mid-low digabung dengan suara kick yang mentah sangatlah legit dan terdengar seperti mereka benar-benar datang dari tahun 80-an. Ditambah lagi suara tenor Dugong yang di beri reverb room dan delay rapat membuat kita setidaknya dapat membayangkan kurang lebih bagaimana suasana gigs jika Ian Curtis dan Joy Division masih ada hingga sekarang.

Kabarnya mereka sekarang sedang dalam tahap pengumpulan materi untuk album penuh pertama mereka. Semoga disegerakan agar kami para anak-anak skena bisa cepat mengonsumsi lagi track demi track dari Closure. Untuk lebih tahu antics apa saja yang mereka buat sehari-hari, silahkan follow instagram mereka di @closureposts karena menurut saya pribadi mereka adalah pribadi-pribadi sekelas srimulat yang menyamar menjadi anak band yang keren.

Foto: closureposts.bandcamp.com

Penulis adalah penikmat musik, seorang gitaris sebuah band, dan seorang soundman kawakan di kota Malang berakun instagram @kipulheran.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close