Beeswax Memecah Gerimis Thursday Noise Surabaya

Setelah perhelatan di Bali, kali ini Thursday Noise dan Morfem menyambangi Surabaya. Diadakan di Skale creative space di sekitaran jalan Sonokembang, Venue kali ini outdoor. Dimeriahkan pula oleh Bazaar dan pameran foto. Penampil Thursday Noise kali ini adalah 1234!, Beeswax, Cotswolds, Baragula, Egon Spengler dan Morfem. Acara dibuka oleh band 1234!, pendatang baru asal surabaya ini membawakan musik punk rock oktan tinggi dan sedikit cover lagu lagu Ramones. Kemudian dilanjutkan oleh Baragula yang membawa atmosfir coldwave yang kental, bahkan ketika mereka tampil, hujan gerimis pun datang. Dengan berbekal lagu – lagu seperti The Window dan Cuaca, Baragula menyihir panasnya surabaya menjadi dingin dan basah. Kali ini dengan formasi terbaru plus satu kibordis dan vokalis baru yaitu Zara (Nonanoskins), Baragula tampil dengan atmosfir gelap dan percaya diri walaupun penonton mulai menyingkir karena gerimis yang mulai deras. Tak lupa mereka memberikan cover apik dari Kitchen And The Plastic Spoons dengan lagu Ice Cream To God. Rupanya lini post punk tidak berhenti di Baragula. Selanjutnya ada Cotswolds yang membawakan lagu – lagu seperti European Ocean , Marra dan Only Shadow. Menambah dinginnya Surabaya malam itu

Thursday Noise Surabaya

Tiba giliran Beeswax, dan anehnya gerimis pun sejenak reda. Disambut dengan teman – teman dari tiga kota Sidoarjo, Surabaya dan Malang, Beeswax yang juga diisi personil dari tiga kota tersebut seakan menjadi perekat para penonton hari itu. Seperti biasa, intro Loaded Ashtray dibawakan sebelum Stuck. Penonton mulai merapat lagi dan maju ke depan stage. Masuk lagu Bleed penonton mulai mengangguk – angguk dan singalong tentunya de

ngan aura sadboys yang kental. Mereka juga menyantumkan lagu – lagu baru seperti Refugee dan Woodenbench. Akhirnya masuk ke lagu terakhir yaitu Start The Line, Break it All dan Fix, Beeswax mengakhiri set mereka dengan sambutan singalong penonton dan tepuk tangan. Beeswax sebagai penampil satu – satunya penampil dari Malang dengan percaya diri membawa penonton larut dalam lagu lagu mereka.

Lalu tiba giliran Morfem. Kali ini dengan formasi terbaru dengan original member Pandu Fathoni, Jimi Multhazam dan Freddie A Warnerin ditambah Yusak Anugerah di bass. Mereka start dengan sedikit rough karena penonton kurang terstimulasi, akhirnya dengan sedikit speech dari Jimi yang lihai membawa suasana, penonton kembali meliar bahkan mulai crowdsurfing. Dengan tembang – tembang seperti Jungkir Balik, Tertidur Dimanapun Bermimpi Kapanpun dan Roman Underground, Morfem membawa penonton pogo dan singalong. Tak lupa Morfem membawakan medley lagu – lagu Ramones yang tentu membawa penonton koor riuh dan memanas. Set mereka pun diakhiri dengan Gadis Suku Pedalaman.

Penampilan terakhir yang dipasrahkan kepada Egon Spengler, tidak membuat mereka terbebani dengan hype yang telah dibangun Morfem. Egon Spengler, sebuah band hardcore-punk ala Misfits dan penuh inovasi tak kehabisan akal untuk menarik penonton. Biasanya mereka membawa properti senjata gabus untuk interaksi dengan penonton, karena keterbatasan waktu dan tenaga kali ini mereka meluapkannya pada kostum. Terutama sang vokalis Albert dengan kostum wrestler yang queer berwarna pink , penutup mata untuk tidur dan bantal leher. Penampilan yang kocak ini dibarengi dengan bobot musik yang menghapus bayangan semua orang. Tema – Tema satanik , horror dan anti authoritarian selalu menjadi ciri khas mereka. Set mereka dibuka dengan lagu andalan Not Dead Enough, sebuah anthem zombie yang mampu menggoyang penonton yang bahkan dalam keadaan becek moshing kesana kemari. Kemudian disambut lagu rebel I Wanna Be A Satan dan Molotov Muda, Egon Spengler seperti tidak menghiraukan pedal rem dan terus melaju. Sampai pada akhirnya, penampilan mereka pun ditutup dengan lagu keras yaitu Mustang Rambo, sebuah lagu simple repetitif ode untuk drummer mereka yaitu Yastiandi Rombe.

Overall gig Thursday Noise Surabaya ini bisa dideskripsikan dari band – bandnya, keras dan panasnya kehidupan di diwakili oleh Morfem, 1234! dan Egon Spengler, gelap dan dinginnya malam Surabaya diwakili oleh Cotswolds dan Baragula lalu liburannya penduduk Surabaya yang hampir selalu memilih mengunjungi Malang diwakili dengan hangat dan bittersweetnya Beeswax. Highlight ini juga bisa disimak di Youtube Visualreport Project.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close