Ary Juliant Bukanlah musisi Folk

Oh iya benar yang kalian baca di atas. Protes – protes yang segera meluncur dari mulut anda sekalian  atau jari jari lincah di atas ponsel silahkan layangkan ke email kami. Akan tetapi, sebelum anda semua memencet tombol sent , argumen ini akan dipaparkan terlebih dahulu. Ary Juliant memang bukan musisi folk, ia tidak terpatok pada suatu momen yang diromantisasi maupun diglorifikasi oleh beberapa kugiran  – kugiran “folk” hari ini yaitu “Senja” atau “Malam” atau “Pagi”. Ary Juliant berbicara tentang Pagi, dan  Maghrib tanpa memikirkan bahwa hal itu akan menjadi “keren” atau “payah”. Seperti Pagi di Kaki  Rinjani  yang walaupun dengan nuansa akustik tapi masih kental blues-jazz nya, layaknya musik yang  bisa diputar di pelataran coffeshop di kota – kota metropolitan, namun dengan cerita tentang hiking Gunung  Rinjani. Ia berbicara tentang alam dan bahkan romansa tanpa melulu terikat oleh premis – premis “imut”  atau “romantik” dalam konteks percintaan dua insan. Ary Juliant adalah romantics sejati seperti Oscar  Wilde atau bisa dibilang padanan Indonesia terhadap Paddy McAloon dari Prefab Sprout yang mampu menggubah lagu romantis berspektrum mahaluas. Maghrib Saliperate yang malah berasa seperti city  pop dari Tatsuro Yamashita yang diakustikkan atau Evening Shadow dari Hiroshi Sato (salah satu  pentolan Yellow Magic Orchestra) yang beraroma tropis, menggambarkan suasana pantai di kala malam. Keragaman ini menunjukkan bahwa Ary Juliant bukanlah musisi folk (saja), hanya karena ia mempunyai grup bernama Ary Juliant ‘n Folk. Akan tetapi Ary Juliant bisa bersuara seperti apa yang ia mau.

Menurut Ary Juliant sendiri, genre dan teknik bukan suatu hal yang mengikat, karena bagi musisi asli Bandung ini, musik adalah ekpresi Jiwa, sehingga terkadang menjadi tidak relevan jika kita berbicara teknik musik dengannya.  Patutlah jika ia telah merilis kurang lebih 30 album sejak karirnya yang dimulai dari tahun 80an, karena setiap tahun ia memproduksi 1 album. Bagi Ary Juliant memproduksi album tidak seribet ketika harus melakukannya dengan label rekaman besar; semangat independen melekat erat di dirinya. Semua pengerjaan album ia kerjakan sendiri atau DIY (Do It Yourself), karena dikerjakan sendiri maka rilisan CD Ary Juliant menjadi barang langka karena dirilis dengan jumlah sedikit, dengan artwork gambaran sendiri, bahkan untuk reproduksi sampulnya hanya mengandalkan fotokopi. Untuk distribusi pun ia tidak mengambil pusing soal profit, siapapun yang mau dibagikan begitu saja. Begitu pula masalah tur, Ary Juliant tidak mempermasalahkan omset presale atau on the spot ticket, ongkos produksi konser yang mahal maupun murah meriah karena kemana-mana ia tidak peduli jika disaksikan banyak atau sedikit orang.

Ary Juliant telah lama menetap di Lombok sejak 1995an mengikuti istrinya yang bekerja di bidang perhotelan. Walaupun begitu dengan berbasis di Lombok dan berasal dari Bandung, tak menjadikan kedua kota tersebut sebagai wilayah tetap berkeseniannya. Tak hanya melakukan tur mandiri ke hampir seluruh penjuru Nusantara, di tahun 2013 pun tur ke Eropa telah dilakoninya. Ini bukti bahwa kita tidak perlu menjadi musisi besar dahulu untuk tur keluar negeri, cukup modal strategi dan manajemen diri penuh disiplin tinggi agar bisa mengelilingi dunia. Kini setelah tur jawa bali yang dilakoni kembali tahun 2016 silam, Ary Juliant dikabarkan akan mengunjungi Kota Malang pada tanggal 17 September 2017 nanti, tepatnya di Warung Srawung, Jalan Parangtritis 4.

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close