Slowcore atau Sadcore: Sebuah oase untuk melepas kedahagaan jiwa

Slowcore lahir di era 90an dan merebak terutama di dataran Inggris dan Amerika. Slowcore adalah salah satu cabang term genre yang dipakai untuk menggeneralisasi genre sadcore itu sendiri. Sebenarnya slowcore/sadcore itu adalah sempalan dari indie rock / alternative rock yang dideskripsikan sebagai musik dengan tempo yang amat pelan, aransemen minimalis, lirik yang rapuh serta depresif. Kebanyakan dari mereka menggunakan dinamika soft-loud atau progresi pelan menuju keras(crescendo) dalam musiknya. Banyak juga yang menganggap pengaruh terbesar slowcore/sadcore adalah Nick Drake album Pink Moon dan Elliott Smith album kedua yang self titled.

Genre ini seakan menjadi antitesa music grunge (meski pelaku slowcore/sadcore tidak menganggap demikian) dengan gaya hidup yang (maaf) onar, pemberontakan, dan keras yang memang pada awal 90an menjadi amat popular dengan invasi Nirvana di seluruh dunia lewat penampilan perdana mereka di Saturday Night Live sebuah acara sketsa komedi televisi di Amerika pada tahun 1992.

Slowcore/sadcore pun muncul dengan kesan yang ditawarkan kurang lebih sama seperti perasaan depresi, kesepian, dan patahhati, namun dengan dinamika musik yang sparse/lengang dan pembawaan yang lebih quiet and calm. Atmosfir yang tercipta pun masih tetap gelap sehingga mereka dapat mendeskripsikan rasa sakit dan penderitaannya ke dalam musik yang benar-benar menghantui. Beberapa nama yang muncul di mesin pencari jika mengetikkan kata slowcore/sadcore adalah Galaxie 500, Low, American Music Club, Idaho,Red House Painters, Sun Kil Moon, dan Codeine.

Di Indonesia sendiri, aliran ini sangat kurang peminat dari segi penonton bahkan penampil mungkin karena durasi yang lama dan suasana yang kurang bersemangat.Salah satu band asal Surabaya Call Me Nancy, Bandung yaitu Cherry Bombshell (mereka mengklaim diri mereka Heavy pop), Dominion (Malang), bahkan La Luna memiliki unsur slowcore/sadcore meski mereka tidak menyebut dirinya sendiri demikian. Elemen Sadcore/Slowcore pun di Indonesia di tahun 2010an mulai di permukaan lagi sejak Efek Rumah Kaca meluncurkan album pertamanya dan lagu berjudul Desember.

Jujur, saya sendiri melihat slowcore, shoegaze, dan post-rock dalam warna yang sama abu-abunya. Awalnya saya mengira The Milo (Bandung) adalah slowcore, namun menurut Mas Alfan Rahadi (salah satu kontributor media dan seorang publicist) The Milo termasuk ke dalam kategori shoegaze karena jumlah layer gitarnya yang banyak, juga Pandai Besi (Jakarta) memiliki unsur slowcore namun masih belum dapat disebut demikian karena penggunaan instrumen mereka yang maksimalis.

Lalu ini dia beberapa tracks you should listen to untuk bahan bakar kesedihan anda sekalian:

  1. Red House Painters – Drop
  2. Low – Words
  3. Spokane – Thankless Marriage
  4. American Music Club – Electric Light
  5. Ida – 95 North
  6. Cherry Bombshell – Bintang
  7. Bungabel – Sungai
  8. Sun Kil Moon – Duk Koo Kim
  9. Bedhead – Hey Goodbye
  10. Rex – Jet
  11. Very Secretary – Feeling Cheated
  12. Idaho – Gone
  13. Smog – I Break Horses
  14. Hallelujahs – Green Lovers
  15. Galaxie 500 – Tugboat
  16. Efek Rumah Kaca – Desember

atau bisa dinikmati di spotify:

Penulis adalah Lutfi Naufali kontributor dan head editor Peka Zine dari Universitas Negeri Malang

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close